GBIA SEMARANG Headline Animator

omakase

IMAN

IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN, DAN PENDENGARAN AKAN FIRMAN ALLAH. TANPA IMAN YANG BENAR, MAKA MANUSIA AKAN MELAYANI ALLAH TANPA PENGERTIAN YANG BENAR. DAN HAL ITU SAMA SEKALI TIDAK MENYENANGKAN ALLAH (ROMA 10:1-3, 17)
Showing posts with label Doktrin Keselamatan (Soteriology). Show all posts
Showing posts with label Doktrin Keselamatan (Soteriology). Show all posts

Wednesday, 28 January 2009

INJIL DI DISCOUNT?

Untuk menarik pembeli, para pengecer biasanya memasang beraneka ragam iklan baik di media cetak maupun di media TV. Tujuan pemasangan iklan ialah agar pembeli datang dan membeli sehingga penjual mendapat keuntungan. Kalau ternyata tidak ada keuntungan maka pasti akan dipikirkan cara lain.

Cara lain yang lazim selain sekedar iklan ialah mengumunkan discount besar-besaran. Dengan program discount biasanya pembeli bisa membludak hingga penjual kewalahan untuk melayani.
Lalu, bagaimana kalau Injil didiscount biar orang yang datang mendengarkannya juga ramai membludak?

Ada banyak kesamaan antara menawarkan (bukan menjual) sesuatu dengan memberitakan Injil. Tetapi jelas ada banyak perbedaan yang sangat prinsipil dalam menjual sesuatu dengan memberitakan Injil. Banyak orang Kristen yang bergelut di dunia bisnis tidak mencoba merenungkan persamaan dan perbedaannya sehingga sebagian dengan tanpa pertimbangan menerapkan sistem berbisnis dalam pemberitaan Injil. Padahal jelas persamaannya lebih sedikit daripada perbedaannya.

Selanjutnya marilah kita membahas persamaan dan perbedaan antara berbisnis dengan memberitakan Injil.

1. Menawarkan Bukan Memaksa.

Persamaan antara penjual dengan pemberita Injil ialah kedua-duanya adalah sebuah pekerjaan yang bersifat menawarkan sesuatu. Penjual yang baik sebagaimana pemberita Injil berusaha hanya sampai pada batas menawarkan bukan memaksa orang membeli atau menerima tawarannya.

Kekristenan yang alkitabiah tidak memaksa orang menerima Injil, bahkan tidak setuju dengan Kristen keturunan. Semua orang yang mau menjadi Kristen harus melalui keputusan kesadarannya. Anak orang Kristen diajar pada waktu kecil dan setelah ia akil balik, ia tetap harus ditawarkan Injil untuk diputuskannya sendiri.

2. Menawarkan Sesuatu Yang Dibutuhkan

Walau sesederhana apapun barang yang diperdagangkan, penjualnya melakukan itu karena ia yakin barangnya dibutuhkan atau berguna. Lebih lagi Injil yang disampaikan oleh seorang pemberita Injil. Ia harus yakin bahwa Injil yang diberitakannya itu sangat dibutuhkan pendengarnya.

Selanjutnya tentu ada perbedaan yang sangat besar antara berbisnis dengan memberitakan Injil.

1. Satu Mencari Keuntungan & Satu Memberi Dengan Cuma-cuma

Tidak dapat dipungkiri bahwa semua bisnis bermotivasi mencari keuntungan. Sekalipun sudah dijual dengan harga obral, toh masih dipikirkan segi untung-ruginya. Setidaknya pemilik akan memakai falsafah lebih baik rugi sedikit daripada harus rugi banyak. Tetapi pemberitaan Injil bukan dimotivasi oleh keuntungan materi. Yang dipikirkan oleh pemberita Injil ialah jiwa yang bisa diselamatkannya.

Untuk itu tidak boleh melihat faktor untung-rugi secara materi didalam pemberitaan Injil ke sebuah daerah, atau memulai sebuah jemaat di suatu lokasi. Usaha pemberitaan Injil itu pasti rugi secara materi bahkan bisa kehilangan nyawa. Oleh sebab itu sikap alkitabiah di dalam mendirikan jemaat itu bukan berlomba mendirikan jemaat yang lebih besar, dan dana gereja mana yang lebih banyak dan lain sebagainya yang materialistis.

2. Satu Bersifat Materi & Satu Rohani

Pusat orientasi bisnis ialah meraup keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Sedangkan pusat orientasi penginjilan ialah menyelamatkan orang dari Neraka sebanyak-banyaknya.

Di mata seorang pelaku bisnis hanya ada uang, dan mengukur segala sesuatu dengan jumlah materi. Menempatkan posisi kehormatan seseorang dari level kekayaannya. Sering kita mendengar orang berkata, Aorang-orang di situ bukan level dia,@ maksudnya tingkat kekayaan mereka jauh berbeda.

Sementara itu di mata seorang pemberita Injil itu hanya ada jiwa yang akan terhilang dan yang telah diselamatkan. Dan nilai jiwa itu jauh sekali di atas materi. Seorang pemberita Injil memang masih memerlukan materi tetapi bukan seorang yang terpengaruh oleh materi apalagi tergantung pada materi.

* Kesimpulan kita ialah bahwa ada perbedaan yang besar antara berbisnis dengan memberitakan Injil. Oleh sebab itu tidak dapat dibenarkan untuk menerapkan metode, falsafah berbisnis ke dalam tindakan pemberitaan Injil.

Kalau untuk menghabiskan stock pebisnis mengobral dagangannya dengan discount besar-besaran, Injil tidak boleh diperlakukan demikian. Nilai Injil atau substansi Injil itu tidak boleh dikurangi sedikitpun.

Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat, tidak bisa didiscount menjadi salah satu. Di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang melaluinya kita bisa diselamatkan. Dari Adam hingga manusia terakhir kalau mau masuk Sorga ia harus percaya kepada Yesus. Mengapa?

Yesus menanggung dosa isi dunia (Yoh.1:29, I Yoh.2:2, Ibr.2:9), itu jangan didiscount menjadi hanya menanggung dosa orang pilihan saja. Karena dosa seisi dunia telah ditanggung, maka siapapun yang percaya kepada Yesus, semua dosanya akan diperhitungkan Allah telah tertanggung (I Tim.4:10, Rom.8:1). Yang tidak percaya itu diperhitungkan sebagai yang tidak menerima tawaran anugerah dari Allah. Pokoknya Injil tidak boleh didiscount seperti pakaian dll.

Juga tidak boleh ditambah harganya dengan perbuatan baik, baptisan, kerajinan ibadah dan lain sebagainya. Tindakan itu sama dengan perbuatan korupsi karena harganya dari Tuhan sudah ditetapkan. Perbuatan baik, baptisan, kerajinan beribadah itu dilakukan sesudah seseorang diselamatkan bukan untuk diselamatkan.

Kalau barang dagangan di Supermarket didiscount itu akan menguntungkan pembeli. Tetapi kalau Injil didiscount, maka penerimanya akan masuk ke Neraka.

Oleh sebab itu pembaca, tolong periksa Injil yang telah anda terima, apakah harga sesuai dengan ketetapan Tuhan. Saya sangat kuatir, jangan-jangan didiscount atau dinaikkan harganya oleh salesmen gadungan yang tidak terdaftar di buku induk Tuhan.***

Readmore...

Friday, 23 January 2009

TIDAK PERNAH DENGAR INJIL TETAP AKAN MASUK NERAKA. LALU, SIAPA YANG SALAH?

Oleh : Dr. Suhento Liauw

PERTANYAAN UMUM

Sekalipun dunia dengan teknologi komunikasinya sudah sangat canggih, namun tentu masih ada orang yang tinggal di hutan atau tempat yang tak terjangkau Injil. Jika mereka meninggal, apakah ada pengampunan khusus bagi mereka karena mereka belum pernah mendengar tentang Injil? Atau bagaimanakah nasib penduduk negara-negara Arab yang dilarang oleh pemerintahnya mendengarkan berita Injil? Pertanyaan-pertanyaan demikian sering muncul dalam acara seminar Doktrin tentang Keselamatan (Soteriology). Tentu kita harus melihat jawabannya di dalam Alkitab.

INJIL YANG MURNI

Injil yang murni mengajarkan bahwa manusia diselamatkan melalui pertobatan dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya. Rasul paulus dalam Roma 10:9-10 berkata, "sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan."

Dosa tidak dapat diselesaikan dengan apapun selain dihukumkan. Itulah sebabnya Sang Juruselamat dijanjikan untuk menerima hukuman atas seisi dunia. Yesus Kristus disalibkan untuk menanggung dosa seisi dunia. Untuk itu secara akal sehat dapat disimpulkan bahwa bagi bayi, orang yang sakit jiwa sebelum akil balik, yang lahir cacat mental dan sejenisnya dan meninggal, mereka pasti masuk Sorga karena Yesus telah menanggung dosa seisi dunia. Tetapi jika manusia bertumbuh dewasa, mencapai umur akil balik dan sehat mental, dan melakukan dosa atas kesadaran dirinya, maka ia menjadi orang berdosa bukan lagi karena ia keturunan Adam yang jatuh kedalam dosa, melainkan kini ia menjadi orang berdosa atas perbuatannya sendiri.

Manusia dewasa yang berdosa, mutlak memerlukan berita Injil untuk keselamatan jiwanya. Sehubungan dengan kebenaran Alkitabiah ini, maka dapat disimpulkan bahwa Calvinis (aliran Calvinis) sangat mungkin tidak pernah mengalami peristiwa rohani yang dikatakan Rasul Paulus ini, karena Calvinis tidak diselamatkan oleh bertobat dan percaya, melainkan dipilih sejak dunia belum dijadikan. Calvinis mengurangi berita Injil Keselamatan dari perlunya respon manusia menjadi hanya diam menunggu pemilihan.

Kelompok yang menekankan keselamatan melalui baptisan juga tidak mengalaminya karena melampaui atau menambahi berita Injil Keselamatan dari tidak memerlukan tambahan baptisan menjadi memerlukannya.

Injil yang pas takarannya ialah bertobat serta percaya kepada Juruselamat yang telah menanggung dosa seisi dunia. Pada saat seseorang mendengarkan dan percaya pada berita Injil yang menyatakan dosa dan penghakiman, serta menunjukkan kebenaran di dalam penebusan Sang Juruselamat, maka sesuai dengan janji firman Tuhan , pada saat itu Roh Kudus masuk ke dalam hatinya (Efesus 1:13)

PERLU PEMBERITAAN

Dalam Roma 10 Paulus menyatakan bahwa hanya orang yg berseru kepada nama Tuhan yg akan selamat, "tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia,jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yg memberitakan-Nya?" Silogisme Rasul Paulus ini membuktikan bahwa predestinasi keselamatan itu tidak benar. Predestinasi hanya untuk tiang penopang dan dasar kebenaran saja. Yakub dipilih dan Esau ditolak itu bukan berhubungan dengan keselamatan melainkan berhubungan dengan pemilihan sebuah bangsa sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran serta menghadirkan Mesias di muka bumi. Sedangkan untuk mendapatkan keselamatan jiwa, jelas orang tersebut harus percaya kepada Mesias, dan untuk percaya ia harus mendengar berita tentang Sang Mesias. Berarti harus ada pengutusan orang untuk pergi memberitakan Injil.

Orang diselamatkan karena bertobat dan percaya kepada Injil, dan peristiwa ini diawali dengan pengutusan penginjilan oleh jemaat/gereja lokal. Penginjil yg memberitakan Injil mengumpulkan orang-orang yg telah diselamatkannya untuk membentuk jemaat lokal dan kemudian jemaat lokal tersebut mengutus penginjil lagi untuk memberitakan Injil dan mendirikan jemaat lokal, sehingga semakin banyak jemaat lokal didirikan dan semakin banyak penginjil diutus untuk pergi memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal. Sebuah siklus yg indah dan sangat diingini Yesus Kristus.

Orang-orang yg tinggal di daerah yg terpencil perlu diutuskan penginjil untuk memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal agar mereka diselamatkan dan iman mereka bertumbuh dalam sebuah jemaat lokal yg alkitabiah. Tanpa mendengarkan Injil, manusia tidak mungkin diselamatkan. Manusia akan mati di dalam dosanya dan akan masuk ke dalam neraka.

Pembaca mungkin langsung bertanya, kalau mereka masuk neraka, itu kesalahan siapa? Tentu ada banyak pihak yg bersalah atas kebinasaan sekelompok orang yg belum pernah mendengarkan berita Injil. Gereja yg tidak pernah mengutus penginjil untuk pergi memberitakan Injil harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah yg didepositokan atau yg menganggur, di hadapan Tuhan. Bahkan setiap orang Kristen harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah yg didepositokannya, di hadapan Tuhan. Dan setiap orang yg telah diselamatkan harus berdiri di hadapan Tuhan untuk menjawab pertanyaan, mengapa ia tidak terlibat dalam pemberitaan Injil.

MENGAPA PINDAH KE ARAB ?

Ada banyak pihak yg turut bersalah dalam kasus injil tidak sampai kepada seseorang. Salah satunya juga ialah penyebab sampai ia berada di lokasi yg terjangkau Injil. Mungkin bapa leluhurnya yg telah mengambil keputusan pindah hingga ke lokasi tak terjangkau, ikut bersalah juga. Misalnya, jika seseorang tergiur pada gaji yg tinggi, ia menerima pekerjaan di Arab Saudi. Karena ia tidak diperbolehkan membawa Alkitab, maka lama-kelamaan imannya dan iman isteri
serta anak-anaknya semakin mundur. Tidak tertutup kemungkinan ia mendapatkan menantu yg namanya Abdullah atau Aminah. Dan kemudian sangat mungkin cucunya akan diberi nama Osama atau Aminah. Akhirnya mereka tidak pernah mendengar Injil Keselamatan yg akan menyelamatkan jiwa mereka. Siapakah yg bersalah atas kebinasaan mereka?

Betapa banyak orang Kristen yg pindah rumah tanpa mempertimbangkan aspek rohani keluarganya. Yang mereka hiraukan hanyalah sekolah untuk anak-anak mereka, pasar atau mall untuk berbelanja, dan berbagai fasilitas kebutuhan manusia jasmaniah. Biasanya mereka tidak peduli apakah di tempat tujuan mereka terdapat gereja lokal alkitabiah atau tidak. Mereka tidak mementingkan aspek rohani. Tidak patutkah kalau Tuhan muak terhadap orang-orang demikian? Dan kalau kebetulan di dekatnya ada gereja alkitabiah, tentu tidak pernah disyukurinya, karena ia tidak pernah mementingkannya. Bagi mereka kehadiran gereja adalah aspek optional, bukan yg utama, dan kalau tidak ada pun tidak apa-apa.

PERLU GEREJA ALKITABIAH

Diperlukan berita Injil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia yg telah melakukan dosa secara sadar. Bahkan bukan sembarangan Injil, melainkan Injil yg alkitabiah. Dan Injil yg alkitabiah hanya terdapat di dalam gereja yg alkitabiah. Gereja yg sesat tidak mungkin memberitakan Injil yg alkitabiah, melainkan Injil yg dikurangi dan ditambahi, yaitu Injil yg akan menuntun manusia ke neraka (Ams.14:21).

Agar Injil yg alkitabiah ada di mana-mana, maka perlu didirikan jemaat lokal alkitabiah di mana-mana. Contoh, oleh jemaat mula-mula yg alkitabiah, Injil disampaikan kepada orang-orang Antiokhia, sehingga di Antiokhia didirikan sebuah jemaat yg alkitabiah. Dan kemudian jemaat Antiokhia mengutus Paulus dan Barnabas memberitakan Injil sehingga berdirilah jemaat-jemaat alkitabiah di seluruh Asia Kecil. Pemberitaan Injil yg alkitabiah semestinya disertai pendirian jemaat lokal yg alkitabiah. Jika seseorang hanya memberitakan Injil tanpa mendirikan jemaat lokal, ia hanya melakukan separuh dari Amanat Agung.

Pemberitaan Injil tanpa pendirian jemaat lokal adalah pelayanan yg hanya terfokus pada generasi kontemporer, tanpa memelihara Injil dan kebenaran untuk generasi berikut. Karena tanpa jemaat lokal, maka orang yg diselamatkan oleh Injil tidak memiliki tempat bersekutu, atau tempat mempraktekan semua perintah Tuhan kepada orang yg telah diselamatkan-Nya.

MEMULIAKAN JEMAAT

Orang Kristen alkitabiah harus faham bahwa jemaat lokal alkitabiah adalah tubuh Kristus. Orang Kristen lahir baru harus memuliakan tubuh Kristus bukan memuliakan dirinya sendiri. Jika orang Kristen lahir baru ingin berbuat baik, maka sepatutnya dilakukan melalui jemaat agar jemaatlah yang dipuji bukan dirinya. Jika orang Kristen lahir baru ingin melaksanakan perintah Tuhan, ia harus melakukannya melalui jemaat bukan langsung dilakukan dirinya, agar jemaatlah yg dimuliakan atau dipuji. Dan jika orang Kristen lahir baru ingin memberitakan Injil, tentu ia harus melakukannya melalui jemaat lokal alkitabiah. Ia bisa menerima pengutusan jika ia menyumbangkan dirinya. Atau menyalurkan dana untuk penginjilan melalui jemaat. Intinya, setiap orang Kristen lahir baru harus menghitung dirinya ke dalam jemaat dalam segala tindakannya, agar jemaat dimuliakan oleh segala perbuatannya. Tentu kalau ia melakukan hal-hal buruk, nama jemaat akan tercela atau dipermalukannya.

Jemaat lokal adalah pusat kehidupan orang Kristen lahir baru sebelum ia ke Sorga. Jemaat lokal didirikan Tuhan sebagai institusi transit menuju Sorga. Sebelum TKW dikirim ke luar negeri, biasanya mereka ditampung, kemudian dilatih untuk menguasai berbagai ketrampilan, baik bahasa maupun berbagai kecakapan. Demikian juga setiap orang Kristen lahir baru yg menantikan kedatangan Tuhan. Jemaat lokal alkitabiah adalah tempat bagi orang percaya untuk mempersiapkan diri hidup bersama Tuhan selama-lamanya. Betapa penting posisi gereja lokal alkitabiah di mata Tuhan. Dan betapa penting gereja lokal alkitabiah bagi manusia yg cinta kebenaran. Berbahagialah jika ada mahasiswa GRAPHE yg mau memulai jemaat alkitabiah di daerah anda.

Dan kalau anda merindukan gereja alkitabiah dimulai di daerah anda, berdoalah, dan hubungi GITS segera. Dan khusus bagi Anda yang tinggal di kota Semarang, kami mengundang Anda untuk berbakti bersama di GBIA SEMARANG, Jln Supriadi 12 M-N (Ruko Artha Mas), kebaktian tiap minggu pagi jam 09.00.

Tanpa gereja alkitabiah di dekat anda, sangat mungkin anak cucu anda akan berakhir di neraka. Celakalah sebuah bangsa jika di dalamnya tidak ada gereja alkitabiah, dan celakalah penduduk sebuah daerah jika di sana tidak ada gereja yg alkitabia.
Readmore...

Tuesday, 20 January 2009

SAYA SUDAH MEMBERITAHUKAN ANDA

Salah satu hal yang paling kita syukurkan dalam hidup ini ialah diciptakannya kita sebagai manusia yang berakal. Akal itu telah membuat kita bisa berpikir, bahkan memutuskan sesuatu untuk diri kita. Kita juga bisa mengetahui sesuatu bahkan menyelidiki segala sesuatu yang kita ketahui sebelum kita mengambil keputusan untuk mempercayainya. Seharusnya akal budi pada seseorang akan secara otomatis menghindarkan dia dari iman yang buta, yaitu mempercayai sesuatu yang tidak difahaminya. Sebab akal budi akan mendorong seseorang untuk bertanya sebelum ia mempercayai sesuatu.

Namun kelihatannya tidak semua manusia mengkaryakan akal budinya secara maksimal. Dengan gampang dapat kita temukan orang-orang yang mempercayai hal-hal yang tidak difahami tanpa disadari bahwa ada resiko dalam mengimani sesuatu, mengingat pernyataan raja Salomo dalam kitab Amsal 14:12 “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

Jika seseorang karena dilahirkan dalam keluarga yang telah beragama tertentu hanya sekedar meneruskan iman leluhurnya, maka sesungguhnya ia telah mengambil resiko tanpa berpikir. Mungkinkah semua agama menghantar penganutnya ke Surga? Tidak mungkin! Jika A tidak sama dengan B, dan A, B juga tidak sama dengan C, dan A, B, C tidak sama dengan D, maka hanya ada dua kemungkinan yaitu salah satunya benar atau semuanya salah. Bahwa hanya satu Allah yang menciptakan alam semesta adalah benar. Tetapi Allah yang satu itu tidak mungkin mengeluarkan firman yang berbeda-beda. Karena ada banyak kitab yang menyatakan diri atau dinyatakan oleh umatnya sebagai firman Allah padahal mereka saling bertentangan, maka akal sehat kita memberitahukan kita bahwa hanya ada dua kemungkinan, yaitu semuanya salah atau salah satunya benar.

Oleh sebab fakta di atas, maka baiklah setiap orang memutuskan untuk dirinya, tanpa merasa dipaksa oleh siappun agar ia ke Surga atau Neraka nanti adalah hasil keputusannya sendiri. Sangatlah tidak enak untuk mengatakan bahwa seseorang itu bodoh, namun jika ada orang yang tanpa berpikir atau menyelidiki, telah ikut-ikutan menganut sebuah agama, maka orang tersebut dapat dikatakan tidak menjalankan akal-budinya.

Adalah wajar jika pembaca bertanya, “apakah perbedaan antara Alkitab dengan kitab-kitab lain yang mengatakan dirinya juga firman Allah?” Jawabnya, bedanya banyak sekali.
1. Alkitab adalah kitab kebenaran sebagaimana ia dituliskan oleh Allah yang maha benar melalui para nabi dan rasul. Tidak ada satu kesalahan pun ditemukan di dalam Alkitab dalam bahasa dan tulisan aslinya. Silakan periksa, kalau menemukan kesalahan kirimkan kepada saya.
2. Alkitab adalah kitab penuntun moral yang tertinggi sebagaimana ia difirmankan oleh Allah yang maha kudus. Hanya di dalam Alkitab ada pengajaran bahwa suami hanya boleh beristri satu dan perempuan hanya boleh bersuami satu. Injil Matius 7:12 mengajarkan: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.
3. Alkitab adalah kitab nubuatan sebagaimana ia difirmankan oleh Allah yang maha tahu. Bernubuat artinya mengatakan sesuatu yang belum terjadi. Hanya Alkitab sajalah yang menuliskan kejadian dari penciptaan hingga pemusnahan alam semesta. Kalau bukan Allah yang maha tahu, tidak mungkin manusia mengetahui hal-hal yang akan terjadi ratusan bahkan ribuan tahun kemudian.

Sesungguhnya masih ada banyak alasan lagi bagi seseorang untuk mempercayai Alkitab, namun saya kira tiga alasan di atas telah lebih dari cukup untuk memuaskan akal sehat kita.

Apakah Perbedaan Isi Alkitab Dengan Kitab Yang Lain?

Hampir semua kitab lain mengajarkan bahwa jika manusia ingin masuk Surga ia harus berusaha melakukan sesuatu yang baik. Prinsip yang mereka kemukakan ialah bahwa masuk Surga itu bukan hal yang gampang, melainkan hasil perjuangan yang amat berat.

Alkitab mengatakan hal yang sama sekali berbeda, bahkan bertolak belakang. Alkitab mengatakan:
1. Bahwa sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka semua manusia mendapat status sebagai manusia berdosa serta mewarisi sifat cenderung berbuat dosa (Rom.3:10).
2. Bahwa dosa tidak dapat dihapuskan dengan perbuatan baik manusia (amal dan ibadah), melainkan diselesaikan dengan menjalani hukuman (Rom.6:23). Dosa manusia hanya dapat diselesaikan melalui hukuman. Hukuman untuk dosa ialah mati (maut).
3. Bahwa Allah berencana menyelamatkan manusia dengan menjelma menjadi manusia untuk menanggung hukuman dosa manusia. Sebelum rencana itu dilaksanakan, Ia memerintahkan suatu ibadah simbolik, yaitu mengambil seekor domba dan menyembelihnya sebagai domba korban. Artinya, manusia yang berdosa, dombanya sebagai korban untuk menanggung dosa manusia itu. Ibadah itu sendiri tidak menghapuskan dosa, melainkan iman kepada Penyelamat yang akan diutus Allah yang disimbolkan oleh domba itulah yang menghapuskan dosa (I Pet.1:18-19).
4. Alkitab juga memberitahukan bahwa kemudian Yesus (juruselamat) dilahirkan oleh Roh Allah melalui seorang perawan. Ia adalah pribadi Allah yang menghampakan diri menjadi manusia yang siap menerima hukuman untuk menggantikan manusia. Itulah sebabnya ia tidak melawan
ketika disalibkan. Ia dihukumkan sebagai pengganti semua manusia (Ibr.2:9, I Yoh.2:2)
5. Selanjutnya tidak ada satu orang pun bisa masuk Surga tanpa percaya kepada Yesus (Yoh.14:6). Karena ketika seseorang bertobat dan percaya kepadaNya, secara iman dosa orang tersebut telah diperhitungkan Allah tertanggung kepadaNya yang dihukumkan bagi dosa semua
manusia (II Kor 5.23, I Pet 2:23). Setiap manusia yang hidup sebelum penyalibanNya akan masuk Surga kalau mereka percaya kepada Juruselamat yang akan dihukumkan bagi mereka, dan setiap manusia yang hidup sesudah penyalibanya akan masuk Surga kalau mereka percaya
kepada Juruselamat yang telah dihukumkan bagi mereka.

Pembaca yang saya kasihi, inilah INJIL. Banyak orang tidak tahu bahwa arti kata injil itu ialah KABAR BAIK. Kabar baik apa? Kalau masuk Surga itu melalui usaha manusia, kerajinan beribadah, kesanggupan menahan atau mengekang diri, itu bukan kabar baik. Tetapi kabar bahwa Yesus telah menanggung semua dosa kita, yaitu dosa yang dulu, sekarang dan yang belum kita perbuat, itu barulah sebuah kabar yang baik. Pada saat kita bertobat dan percaya kepadaNya dengan segenap hati maka semua dosa kita diperhitungkan Allah telah tertanggung ke atas diri Yesus yang tersalib. Masuk Surga itu tidak melalui usaha manusia, melainkan oleh iman kepada Sang Juruselamat.

Inilah yang disebut KABAR BAIK. Kabar yang menggembirakan, hanya melalui bertobat dan percaya saja, tidak melalui amal dan ibadah.

Kalau semua dosa kita telah diselesaikan berarti kita bisa seenaknya berbuat dosa?! Tidak pembaca, kalau anda telah bertobat itu berarti anda menyadari bahwa cara hidup anda yang lalu itu sia-sia bahkan itulah yang telah menyebabkan Yesus menderita dicacimaki, dicambuk, dan digantung di kayu salib. Tegakah seseorang yang telah menyadari bahwa perbuatannya itu telah menyebabkan penderitaan orang yang mengasihinya mengulangi perbuatannya dengan tidak merasa bersalah? Bahkan ketika ucapan kita menyinggung perasaan orang yang sangat mengasihi kita (ayah, ibu, suami, istri, anak), maka kita berusaha untuk tidak mengucapkannya lagi. Seseorang yang bisa dengan leluasa mengulangi dosa-dosanya dengan tidak merasa bersalah adalah orang yang belum bertobat dan belum pecaya kepada Sang Juruselamat. Orang yang telah bertobat dan percaya tetap bisa jatuh ke dalam dosa, namun itu akan menyusahkan hatinya.

INJIL yang artinya KABAR BAIK, itu diperintahkan oleh Sang Juruselamat untuk diberitakan ke seluruh bumi agar semua manusia mendengarnya. Yesus telah menanggung dosa semua manusia. Oleh sebab itu tidak ada masalah bagi bayi yang mati karena dosanya telah ditanggung Yesus. Tetapi bagi yang telah bisa berpikir, telah memiliki kesadaran diri atau akil balik, diperintahkan untuk bertobat dan percaya dengan segenap hati (Mat.4:17, Kis.8:37).

Untuk masuk Surga itu hanya perlu bertobat dan percaya, tidak boleh ditambah dengan siapapun dan apapun. Barang siapa yang menambahkan apapun dan siapapun itu sama dengan tidak percaya dengan segenap hati. Barang siapa yang menambahkan baptisan dan kerajinan beribadah adalah salah. Baptisan, dan kerajinan melayani adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan oleh orang percaya yang telah mendapatkan kepastian masuk Surga. Adalah kesalahan jika seseorang berusaha melakukan semua itu agar bisa masuk Surga. Juga tidak dibenarkan untuk menambahkan dengan percaya kepada siapapun termasuk Maria.

Ia adalah manusia biasa yang dipakai untuk melahirkan Roh Allah yang menjadi manusia. Pembaca, anda telah mendengar INJIL yang dapat memastikan diri anda masuk Surga. Tidak perlu dengan jerih-payah yang diusahakan manusia, melainkan hanya perlu bertobat dan percaya dengan segenap hati kepada Yesus yang diutus Allah. Datang ke gereja untuk bernyanyi mengekspresikan rasa sukacita adalah hal yang sangat indah dan menumbuhkan iman.

Menggabungkan diri ke dalam sebuah jemaat Tuhan serta bergiat membantu pelayanan adalah perintah yang harus dilakukan oleh orang yang sudah mendapatkan kepastian masuk Surga. Apalagi kalau bergiat membantu berbagai pelayanan yang berhubungan dengan pemberitaan Injil. Injil perlu didengar oleh sebanyak mungkin manusia. Tetapi ingat, jangan ada orang yang berpikir untuk masuk Surga dengan perbuatannya. Jangan menyogok Allah dengan amal jariah kita. Segala usaha baik kita itu sampah jika dilihat oleh mata Allah yang maha kudus. Amal kita hanya dapat dibanggakan oleh manusia berdosa yang menyombongkan perbuatannya.

Pembaca telah mendengar INJIL, dan saya telah memberitakannya kepada anda. Bahkan seseorang telah membagikan bacaan ini kepada anda. Anda bisa menolak INJIL ini. Itu berarti anda berkata, “saya tidak membutuhkan anugerah Allah. Seandainya Alkitab salah, melainkan kitab suci lain yang benar, yaitu masuk Surga melalui perbuatan baik manusia, maka orang Kristen juga akan masuk Surga karena perbuatan baik mereka berlimpah-ruah. Tetapi bagaimana kalau Alkitab benar? Kalau Alkitab benar, maka dengan sedih saya terpaksa memberitahukan bahwa setiap orang yang tidak bertobat serta percaya kepada Sang Juruselamat pasti akan masuk Neraka. Kini keputusan ada di tangan anda. Sebaiknya anda tidak ikut-ikutan dalam beriman, melainkan menyelidiki dan merenungkan tiap-tiap pengajaran yang anda dengar. Hati-hati, jangan sampai setelah di ujung jalan baru berpikir. Saya mohon, jangan mempertaruhkan jiwa anda. Lebih baik katakan kepada Yesus bahwa anda mau bertobat dan mau percaya kepadaNya, mau menerima anugerah Allah yang ditawarkanNya. Katakanlah teman.

INGATLAH, SAYA TELAH MEMBERITAKAN INJIL KEPADA ANDA.
Diterbitkan Oleh:
GBIA GRAPHE Untuk Kebutuhan Intern
Ditulis Oleh: Dr. Suhento Liauw, S.Th., M.R.E., D.R.E.
Dipublikasikan ulang oleh GBIA SEMARANG
Jalan Supriadi No. 12 M-N (Ruko Artha Mas), Semarang.
Ph. (024) 91084138, 0852 3025 6036
Readmore...