GBIA SEMARANG Headline Animator

omakase

IMAN

IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN, DAN PENDENGARAN AKAN FIRMAN ALLAH. TANPA IMAN YANG BENAR, MAKA MANUSIA AKAN MELAYANI ALLAH TANPA PENGERTIAN YANG BENAR. DAN HAL ITU SAMA SEKALI TIDAK MENYENANGKAN ALLAH (ROMA 10:1-3, 17)
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, 16 February 2009

Manusia Akhir Zaman

Kotbah Dr. Suhento Liauw
Minggu, 6 Juli 2003
Kebaktian Pagi
Nats: II Timotius 3:1-5

Saudara yang terkasih dalam Tuhan, Paulus menuliskan kepada Timotius mengenai ciri-ciri manusia akhir zaman. Mengapakah ada daftar yang sedemikian buruk mengenai manusia akhir zaman? Jikalau kita membaca perikop ini, saya dapat meraba apa yang Paulus maksudkan. Apakah penyebab utama sehingga manusia sedemikian rusaknya? Sebenarnya ada dua penyebab utama yang mengakibatkan mereka demikian. Penyebab yang paling dasar sekali adalah mereka tidak peduli pada hal-hal rohani. Mereka lebih memperhatikan dan menghargai hal-hal jasmani karena bagi mereka itu adalah segala-galanya.

Memang uang memegang peranan penting, tetapi jikalau kita menempatkan uang di atas hal rohani, maka kita sudah melakukan suatu kesalahan di hadapan Allah. Siapakah di muka bumi ini yang tidak memerlukan uang? Tidak ada seorang pun yang dapat lepas darinya. Siapakah orang di muka bumi ini yang berani berkata bahwa dia tidak memerlukan materi? Kita semua memerlukan pakaian, sepatu, dan berbagai materi lainnya. Tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang tidak memerlukan materi. Tetapi persoalannya adalah ketika dua hal di hadapkan pada kita, pilihan kita akan mencerminkan isi hati kita.

Di akhir ayat kedua dikatakan bahwa manusia akhir zaman tidak mempedulikan masalah agama. Mereka tidak peduli mati masuk surga atau neraka. Padahal tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tidak pernah tidak mendengar ada orang yang meninggal atau tidak menyadari bahwa meninggal adalah sesuatu yang pasti. Kita satu kali pasti mati hanya kita tidak tahu kapan waktunya kita mati. Sementara itu Paulus kataka bahwa manusia akhir zaman tidak peduli sama sekali akan hal itu. Karena tidak peduli akan hal itu segala macam kejahatan mereka lakukan. Anggota jemaat kita, Saudara Fendi, ditabrak mobil, namun mobil tersebut pergi begitu saja. Fendi kemudian mengejarnya dengan tangan yang berlumuran darah. Namun apa yang terjadi? Ternyata yang di dalam mobil itu ada dua orang Kopasus. Yang aneh adalah bukannya mereka meminta maaf tetapi mereka meminta ganti rugi karena Fendi adalah Chinese. Sungguh bejat sekali. Tetapi Fendi mempunyai falsafah kekristenan yang baik sekali, ia berkata, “Tidak apa-apa karena uang itu akan mereka bawa masuk ke neraka.”

Manusia di muka bumi ini, jikalau ia tidak merenungkan masalah surga dan neraka, mereka bisa berpikir apa saja serta melakukan apapun. Seorang paman berusia 27 tahun membunuh keponakannya karena ibunya lebih memperhatikan keponakannya yang masih kecil itu dari pada dirinya. Itulah gambaran kehidupan mereka yang menyepelekan masalah rohani. Mereka mempunyai prinsip hidup buatlah apa yang disukai dan akibatnya tidak perlu dipikirkan. Merampok, memperkosa, mencuri lakukan saja. Paman yang membunuh keponakannya tidak menyesal dan berkata bahwa dia paling akan dihukum tujuh tahun penjara saja. Dari jawabannya dia mempunyai pemahaman bahwa membunuh keponakannya bukanlah sebuah kerugian besar karena hanya dihukum tujuh tahun saja.

Tersangka yang membunuh Teo Eloway, dituntut oleh jaksa tiga setengah tahun. Mungkin hakim bisa saja memutuskan dua tahunan saja dengan pertimbangan belum pernah dihukum dan punya anak istri dan lain sebagainya. Jikalau manusia itu tahu resikonya ringan dia berani berbuat apa saja. Tetapi mengapakah ada orang yang tidak berbuat kejahatan sedikitpun, sekalipun tidak mendapat ancaman di muka bumi ini? Karena dia tahu kebenaran firman Tuhan. Dia tahu jika dia berbuat jahat akan menghadap penghakiman. Saudaraku, kadang-kadang kita melihat kejahatan di kanan kiri kita, tetapi satu hal yang menghiburkan adalah karena Tuhan menyiapkan suatu penghakiman yang adil untuk kita. Karena dia adalah hakim yang adil.

Mengapakah orang Kristen dilarang untuk membalas kejahatan? Karena sikap kita yang tidak membalas kejahatan adalah sikap kita yang percaya kepada Tuhan. Mengapa rakyat Indonesia jika diperlakukan jahat langsung membalasnya tanpa melapor kepada polisi? Hal itu terjadi karena rakyat Indonesia tidak percaya dengan kinerja pemerintah mengadili dengan adil. Sama halnya prinsip itu diterapkan dalam kehidupan kita. Sehingga setiap perbuatan jahat maupun ketidakadilan yang menimpa kita, kita dapat berkata bahwa hal itu tidak mungkin akan luput dari penghakiman Tuhan. sebab walaupun pemerintah tutup mata, pendilan bisu dan tuli, pemuka agama acuh tak acuh, tokoh masyarakat apatis, kita masih mempunyai Tuhan yang adil. Seberapapun kita ditindas dan dianiaya, kita tetap bersandar kepadaNya karena kita tahu bahwa ada suatu penghakiman yang adil dari Tuhan.

Sejarah mencatat bagaimana gereja Katolik sudah membunuh annabaptis tak terhitung jumlahnya. Mereka dibakar, disalibkan, dikuliti, bahkan pernah di suatu masa, ada satu kampung yang disinyalir ada orang annabaptis di dalamnya, gereja Katolik memperintahkan untuk membunuh semua orang yang ada di kampung itu termasuk yang bukan annabaptis juga dengan suatu pandangan yang dicetuskan oleh uskupnya, “Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya!” Sehingga satu kampung dibantai semuanya. Mengapakah annabaptis tidak melawan? Mereka tidak melawan karena mereka percaya ada Allah yang adil. Mereka percaya ada pemerintahan yang kekal yang memiliki kekuatan tak terbatas yang pasti suatu hari akan menghakimi dengan seadil-adilnya. Percaya pada itu maka kita tidak melawan. Jikalau kita membalas, sebenarnya kita tidak percaya kepada Tuhan.

Jemaatku yang terkasih di dalam Tuhan, membaca list ini, manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Apakah yang dimaksud dengan orang yang beribadah secara simbolik atau lahiriah namun tidak menghayati kekuatan yang dijanjikan itu? Artinya, jikalau kita sungguh-sungguh mengerti bahwa Tuhan memberikan upah yang besar bagi yang sungguh-sungguh setia sampai mati, maka janji itu baginya tentu selalu terngian-ngiang terus. Hal ini tidak ubahnya dengan orang yang dijanjikan uang seratus juta rupiah untuk menjaga rumahnya selama satu bulan saja. Dia diperintahkan untuk mengatur dan membersihkan rumah itu serta menjaga rumah itu sebaik-baiknya. Tentu di dalam dia melakukan tugas itu, dia selalu teringat akan janji itu sehingga timbul suatu kerinduan yang sangat akan janji itu. Janji itu benar-benar dihayati olehnya maka dia akan menjaga rumah itu sebaik-baiknya. Di dalam Alkitab terdapat banyak janji, himbauan, dan dorongan dari Tuhan. Tetapi sungguhkah kita sedemikian menyakini apa yang dijanjikan Tuhan di dalam firmanNya? Ataukah kita hanya membaca sambil lalu tanpa menghayatinya. Inilah yang disebut dengan mereka yang memungkiri kekuatannya.
Contoh sederhana mengenai hal ini dapat kita temukan dalam Matius 6:25-34. Dikatakan bahwa:

Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Pernahkah ketika kita membaca perikop ini kita meragukan janji Allah ini? Apakah janji itu dapat dipegang erat-erat? Tuhan mengatakan di bagian lain bahwa janji Tuhan itu seperti emas yang teruji yang dileburkan dalam tujuh kali dapur peleburan di tanah. Tuhan tidak pernah lalai menepati janjiNya.
Memang benar bahwa hal-hal materi itu biasanya dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Tetapi yang ditekankan dalam bagian ini adalah dimanakah kita melabuhkan hati kita. Seandainya Anda disuruh untuk memilih antara masalah rohani dan jasmani dan Anda diharuskan memilih salah satu dari keduanya, apakah yang akan Anda pilih? Mungkin ketika hal ini ditanyakan di gereja semua akan menjawab bahwa mereka akan mengutamakan masalah rohani. Apalagi ketika baru selesai mendengarkan penguraian kebenaran firman Tuhan ini. Namun hal itu akan berbeda jika itu terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada saat itu manakah yang akan kita pilih?

Mengapakah kita lebih sering menggunakan hari Minggu sebagai saat untuk pindah rumah? Mengapakah banyak orang Kristen yang merasa adalah lebih baik pindah rumah pada hari Minggu dibandingkan dengan hari-hari lain? Mereka melakukan ini karena berpikir adalah sangat sulit untuk meminta izin dari pimpinan kantornya sedangkan Tuhan itu dapat dinomorduakan. Sehingga hari Minggu tidak kebaktian karena dia pindah rumah. Seolah-olah dia menganggap Tuhan itu lebih gampang. Tuhan disepelekan sama sekali. Jujur kata sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita lebih mengutamakan masalah jasmani dari pada masalah rohani dalam hidup ini. Memang dalam gereja semua angkat tangan ketika ditanyakan masalah ini. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari hal itu sangat berbeda. Urusan rohani dinomorduakan dan dianggap sebagai hal “cingcay” saja.

Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka itu beribadah namun memungkiri kekuatannya. Dalam arti kata mereka memang mempercayai Allah Mahakuasa, Allah adalah Pribadi tertinggi yang paling dihormatid dari segala-galanya, tetapi sebenarnya mereka memungkiri kekuatannya. Sesuatu yang sebenarnya sangat tidak mungkin.

Jemaatku, kadang-kadang kita perlu tenggelam dalam renungan, “Tuhan, sejak aku mengenalMu, sejak Engkau memperkenalkan kasih karuniaMu kepadaku, adakah aku makin hari makin mempercayaiMu? Adakah makin hari aku makin menghormati dan mengasihiMu? Tuhan, adakah kerohanian saya makin hari makin maju? Adakah keberanian bagiku untuk menjawab keinginanMu dalam hidupku. Adakah aku sungguh-sungguh untuk melayaniMu?”

Dulu saya mempunyai keinginan untuk menjadi orang kaya. Saya bekerja seperti orang gila saja. Anda dapat bayangkan, dari jam 7 pagi sampai jam 12 mengajar di SD Maranatha di Sintang. Setelah itu pulang ke rumah untuk makan kemudian buru-buru pergi kerja lagi di CV Pembangunan Jaya sampai jam 5 sore. Setelah itu pulang untuk makan malam dan mandi lalu pergi kerja lagi sebagai sales asuransi sampai jam 10 malam. Saat itu saya mulai berpikir bahwa Suhento pasti akan menjadi orang kaya. Saya mulai menabung supaya punya modal untuk membuka usaha sendiri. Saat itu saya sudah mempunyai modal yang lumayan besar. Saya bisa membeli Corolla DX seharga tujuh setengah juta karena saya mempunyai uang sembilan jutaan. Sampai suatu hari ada teman yang datang untuk meminjam uang dari saya dengan jaminan bunga yang cukup besar. Sebagai jaminan dia memberikan sertifikat rumahnya sebagai jaminan. Beberapa bulan kemudian ternyata dia kabur entah kemana namun itu tidak masalah karena saya memiliki serifikat rumahnya. Akhirnya kami pun pindah ke rumah tersebut. Belum lama kami tinggal di sana, tiba-tiba petugas bank datang untuk menyita rumah tersebut dan mereka juga mempunyai sertifikat atas rumah tersebut. Saat itu sangat sulit untuk menang perkara melawan bank akhirnya rumah itu pun disita oleh bank.

Hal itulah yang membuat kami duduk termenung berlinangan air mata. “Tuhan, sekarang Engkau mau kami berbuat apa?” Karena sebelumnya saya sudah sering berkotbah keliling dan akhirnya kamipun bertekad untuk menjadi hambaNya. Mulai saat itu saya mulai merenungkan hal ini. Saya mau mempercayai semua janji Tuhan. Bahwa janji Tuhan itu benar. Bukan masalah tidak perlu masalah materi, tetapi intinya mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya.

Dengan tanggungan dua orang anak saya memutuskan untuk sekolah teologi. Tanpa ada sponsor sama sekali dan tidak ada yang bisa dijadikan sandaran. Hanya bersandarkan pada janji Tuhan saja kami maju terus. Cobalah kita bertanya kepada diri kita sendiri, di dalam kita mengikut Tuhan, apakah makin hari kita makin maju. Pernahkah kita bertanya kepada Tuhan apakah yang diinginkannya di dalam kehidupan kita? Sebenarnya pengalaman saya bisa menjadi guru bagi Anda. Tidak perlu menunggu uang kita diambil orang barulah sadar. Ketika saya merenungkan hal ini, kadang-kadang saya tersenyum sendiri dan berkata, “Tuhan, kadang Engkau memimpin orang dengan membuatnya syok berat.”

Kasih karunia Tuhan begitu besar dalam hidup kita. Marilah kita semakin maju di hadapan Tuhan. Baik itu secara kerohanian kita, pemahaman kita, maupun kasih kita kepadaNya. Makin maju di dalam Tuhan ini dapat ditandai dengan makin mempercayai janji Tuhan dan memegang erat janjiNya. Semakin yakin jika kita berjalan bersama Tuhan pasti akan berjalan dengan baik. Tetapi itu bukan berarti kita lepas tangan. Paulus mengajarkan kepada kita melalui surat yang ia tuliskan kepada jemaat di Efesus, “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” (Efesus 4:28) Jadilah orang Kristen yang mau bekerja dan mau menolong orang lain. Terapkan apa yang Tuhan Yesus katakan, lebih bahagia memberi dari pada menerima. Amin!
Readmore...

Sunday, 25 January 2009

APAKAH ORANG KRISTEN BOLEH MERAYAKAN IMLEK [adat istiadat dan alkitab]

Nats: I Korintus 9:19;23


19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.


Di dalam Alkitab kita tahu bahwa kebenaran dinyatakan setahap demi setahap. Satu langkah demi satu langkah. Bagi orang yang belum diselamatkan, hal terutama dalam hidup ini adalah diselamatkan. Hal yang terutama yang perlu direnungkan dan dihayati, sesuatu yang sungguh harus diperoleh adalah keselamatan jiwa. Jika anda sudah diselamatkan, puji Tuhan! Langkah pertama sudah kita lewati! Jika belum, maka anda dalam bahaya besar. Dan jika anda sudah diselamatkan, maka langkah berikut kita adalah bagaimana kita membangun hidup ini supaya sepadanan dengan Injil Yesus Kristus. Jangan dibalik menjadi Injil dipadankan dengan hidup kita. Bukan Injil yang diubah, tetapi hidup kita yang harus diubah.


Dalam rangka inilah kita sebagai manusia, sebagaimana manusia sudah tersebar di seluruh dunia dan di seluruh bangsa sudah terbangun beraneka ragam adat istiadat, muncul banyak pertanyaan sejauh mana orang Kristen harus mengikuti adat-istiadat yang tidak melanggar kebenaran firman Tuhan

.

Minggu ini sebagian orang Tionghoa merayakan hari raya Imlek dan ini adalah momen yang cukup tepat untuk berbicara masalah adat-istiadat. Saya bertemu dengan banyak orang batak yang bertanya apakah adat Ulos itu boleh dilakukan? Demikian juga dengan perayaan Ngaben di Bali, perayaan di Toraja serta berbagai perayaan adat lainnya boleh dilakukan?


Saudaraku, banyak adat istiadat dari suku-suku bangsa yang kita tidak ketahui jika kita tidak berada di dalamnya. Orang Tionghoa tahu banyak hal mengenai adat istiadatnya saja. Demikian juga dengan orang Batak, Manado, dan suku-suku lainnya lebih tahu adat istiadat mereka sendiri. Dan ada banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam rangka seminar dan tanya jawab mengenai sejauh mana adat istiadat itu boleh diikuti.


Pagi ini saya ingin mengajak kita merenungkan hal ini. Rasul Paulus menuliskan di dalam surat Galatia, “Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.”(1:14) Saudaraku, apakah Paulus kemudian meninggalkan adat istiadat nenek moyangnya? Kisah Rasul 28:17 menjelaskannya. Paulus mengatakan, “Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma.” Tetapi, jika kita membaca Matius 15:3, Tuhan Yesus memberi jawab kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat, “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” Yesus dengan sangat tegas mengecam orang Yahudi yang sangat memelihara adat istiadat nenek moyang tetapi melanggar firman Tuhan. Jelas hal ini tidak boleh terjadi di dalam kekristenan, kita tidak boleh melanggar ketetapan firmanNya karena lebih mementingkan adat istiadat. Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, berarti harus ada suatu kesimpulan. Kesimpulan bagaimanakah sikap kita terhadap adat istiadat.


Kita bisa katakan bahwa setelah seseorang bertobat dan percaya Tuhan Yesus tuntutan Alkitab hanyalah kita harus meninggalkan dosa. Jikalau di dalam adat istiadat ada hal-hal yang bisa mendorong orang untuk berbuat dosa, janganlah lakukan itu.


Saya cukup dekat dengan kakek saya. Dia menceritakan bahwa pada masa penjajahan Belanda, setiap hari raya Imlek, selama tiga hari tiga malam orang boleh berjudi di jalan dan tidak akan apa-apa. Pada saat itu, orang yang tidak pernah judipun akan menjadi ikut-ikutan berjudi saat itu. Di Kalimantan Barat, setiap hari raya Imlek, anak-anak biasanya mendapat banyak “angpao,” karena mereka memegang banyak uang, biasanya mereka mulai belajar merokok dan berjudi. Bisa jadi, lewat dua tiga hari mereka terjerat iblis dan menjadi penjudi ataupun perokok berat.


Saudaraku, ingatlah seruan Alkitab untuk orang yang sudah bertobat untuk meninggalkan dosa. Dalam rangka meninggalkan segala dosa sangat mungkin ada banyak adat istiadat yang harus kita tinggalkan yang ada sangkut-paut dengan dosa di dalamnya. Dalam adat istiadat Tionghoa, dalam hal pernikahan, biasanya di kamar pengantin baru harus ada setandan pisang supaya anak cucunya banyak seperti pisang itu. Dan di dalam banyak acara besar terlihat banyak sekali mistik-mistikan di dalamnya. Orang Tionghoa harus berhati-hati di dalamnya. Biasanya waktu acara orang meninggal, orang Tionghoa akan berdiri di depan peti jenazah itu, yang Budha biasanya akan mengambil hio dan menyembah. Yang Katolik biasanya akan membuat “tanda salib” di dada mereka, yang Kristen datang dan bingung harus berbuat apa sehingga mereka pun mengambil sikap berdoa di depan peti. Sedangkan jikalau saya yang datang langsung makan kacang karena tidak ada signifikan untuk melakukan hal itu.


Di dalam hal adat-istiadat ada banyak hal positif dan juga ada hal negatif. Adat istiadat yang positif misalnya masalah jenjang hormat menghormati. Saya mendengar bahwa dalam tradisi orang Batak, jika marga yang satu mengadakan pesta maka marga yang lain itu akan menyuci piring.


Adat istiadat ada yang positif dan juga ada yang negatif. Dari segi negatif ada mistik-mistikan di dalam adat istiadat dan kita harus hati-hati di dalamnya. Sekali lagi, seruan Tuhan untuk orang Kristen yang sudah lahir baru adalah meninggalkan dosa, yaitu meninggalkan hubungan kita dengan iblis. Tanggalkanlah adat istiadat yang disusupkan oleh iblis di dalamnya. Tinggalkanlah semua adat istiadat yang memiliki unsur setan di dalamnya.


Hal kedua yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah adat istiadat berkaitan dengan moral. Paulus berbicara di dalam I Korintus 9:20-22, “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” Tetapi hal yang terpenting adalah jangan sampai kita ikut-ikutan sampai melupakan dua hal ini, yaitu masalah spiritual dan masalah moral.


Masalah moral erat kaitannya dengan masalah pakaian. Misalnya, ketika saya pergi menginjil ke orang Madura, tentu saya tidak boleh mengenakan pakaian “ala chinese” ke sana, karena itu tidak tepat. Ada baiknya saya berpakaian Madura supaya lebih mudah diterima. Tetapi, jika saya pergi menginjil ke daerah Irian, tentu saja saya tidak boleh berpakaian Koteka ke sana. Mengapa? Karena itu menyangkut masalah moral. Dapat dibayangkan seandainya ada yang memotret saya waktu pelayanan di sana dan hasil “jepretan”nya dibawa ke Jakarta. Tentu banyak yang akan heboh dan berkata, “Wah! Pak Suhento pakai Koteka!” Mungkin mereka akan membicarakan bentuk, ukuran, dan berbagai hal yang secara moral tidak baik. Tentu hal ini akan berbeda jika kita pergi menginjil di negara Sakura. Kita bisa aja mengenakan pakaian ala Jepang. Yang wanita tidak dilarang untuk menggunakan Kimono karena itu tidak melanggar moral. Tentu wanita tidak diizinkan menggenakan pakaian India yang terlihat pusarnya jika pergi pelayanan di sana, karena ada unsur moral di dalamnya. Karena ada sesuatu yang dilanggar. Jadi kita harus dapat memahami hal ini dengan sebaik mungkin. Rasul Paulus mengatakan bahwa ia mau melakukan segala sesuatu karena Injil. Mau menjadi apa saja supaya dapat menyelamatkan sebanyak mungkin orang itu.


Saya pernah berkomentar dengan seorang Jawa mengenai masalah Blankon. Saya mengatakan bahwa Blankon itu lumayan bagus. Kemudian dia memberitahu saya bahwa topi mereka itu mempunyai filosofinya. Katanya, ketika kita melihatnya, kita akan melihat bahwa ada suatu yang menonjol di bagian belakangnya, hal itu sesuai dengan sifat orang Jawa yang suka menyimpan kekesalan dan kemarahannya di belakang dan berpura-pura manut, sedangkan hatinya menyimpan perasaan “dongkol.” Sebagai orang Kristen tentu kita tidak boleh demikian. Filosofi itu tidak sesuai dengan nilai kekristenan. Firman Allah mengajarkan kita untuk berkata ya di atas ya dan tidak jika tidak!


I Korintus 14:40 mengajarkan prinsip mengenai masalah ini. “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” Pakaian ala Tionghoa yang saya pakai tentu tidak bertentangan dengan masalah moral. Saya banyak bertemu orang Tionghoa yang sudah uzur usianya, dan mereka sering berkata kepada anak-anak mereka jangan masuk agama orang barat. Padahal secara geografis saja mereka salah karena Yesus berasal dari daerah Timur Tengah yang termasuk daerah “timur.” Jadi jelas kekristenan tidak berasal dari daerah barat. Mungkin mereka melihat yang kotbah itu menggunakan dasi dan jas, sehingga agamanya dianggap sebagai agama barat. Intinya kita bukan percaya kepada agama dari barat maupun timur, kita hanya percaya kepada kebenaran.


Saudaraku, di dalam kita mengikut adat-istiadat ada hal positif dan negatif. Sebagai orang Kristen, kita perlu hati-hati mengenai ini. Kata hati-hati ini mempunyai arti yang sangat penting. Ketika saya kuliah di Amerika, saya bertemu dengan pastor yang sudah sangat tua. Dia dan istrinya pernah ke Indonesia. Ketika bersalaman dengan saya, ia tidak mengucapkan ucapan selamat ataupun kata-kata lainnya, tetapi ia berkata, “Hati-hati!” Saya kaget mendengarnya, kemudian ia menceritakan kisahnya ketika di sini. Ia menaiki taksi di negara ini, namun ia takut bukan main karena sopirnya “ngebut” banget. Sehingga dia bertanya apa kata Indonesia untuk carefull. Setelah itu, kemana saja dia pergi, ia terus mengingatkan supir taksi untuk hati-hati! Seumur hidup ia akan ingat kata-kata itu. Sehingga ketika bertemu saya dia mengucapkan kata ini. Hati-hati!


Saya pikir kata itu lebih penting daripada ribuan kata sapaan. Karena jika kita tidak hati-hati bisa repot jadinya. Jadi orang Kristen kita bisa salah langkah dan terjerembab karena tidak hati-hati. Oleh sebab itu, di dalam mengikuti adat istiadat kita perlu berhati-hati. Pakaian yang kita pakai tidak akan salah, jika pakaian itu sopan dan teratur. Jangan mengikuti kegiatan-kegiatan yang menjurus kepada sesuatu yang dapat menyakiti hati Tuhan, yaitu kegiatan-kegiatan yang ada unsur mistik-mistikan di dalamnya maupun unsur-unsur moral yang sudah agak miring.


Saudaraku, banyak budaya di dunia ini yang iblis sudah memiliki “saham” di dalamnya sehingga ada banyak unsur magis dan agak sedikit kacau dalam masalah moral di dalamnya. Saya kaget ketika membaca buku yang menceritakan adat-istiadat orang Eskimo sebelum Injil masuk ke sana. Dalam tradisi mereka, setiap ada tamu yang datang berkunjung ke rumah, maka tuan rumah akan memberikan istrinya sebagai teman tidur tamu. Baru ketika mereka mengenal kebenaran mereka meninggalkan kebiasaan itu.


Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen kita harus berhati-hati. Pertama, kita perlu diselamatkan. Jika kita sudah diselamatkan, tuntutan Tuhan dalam hidup kita adalah meninggalkan dosa dan segala hal yang ada hubungannya dengan iblis karena kita sudah dimerdekan dan menjadi milik Tuhan. Kita harus meninggalkan semua hal negatif itu, termasuk di dalamnya adat istiadat yang ada hal-hal yang demikian. Amin!


Sumber : Khotbah Dr. Liauw (2 Februari 2003)

Readmore...

Monday, 5 January 2009

Mengapa Doamu Tidak Dikabulkan?


Mengapa Doamu Tidak Dikabulkan?
Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

Apa yang ditulis dalam surat Yakobus ini sungguh relevan untuk segala zaman. Manusia biasanya menjadi gelisah ketika dia tidak mendapatkan apa yang dia ingini, ia menjadi seperti cacing kena abu. Dan bahkan dalam terminologi Yakobus di sini lebih diekstrimkan lagi: kamu membunuh, iri hari, bertengkar, berkelahi.

Kita akan melihat bagaimana Yakobus menuding kepada akar permasalahan mengapa doa kita tidak dijawab. Hal pertama, yang kita lihat di sini adalah mereka tidak mendapat karena mereka tidak berdoa. Ada banyak orang Kristen–orang yang mengaku percaya kepada Yesus–menginginkan atau mengidam-idamkan sesuatu tapi tidak berdoa.
Permasalahannya bukan karena bukan karena manusia tidak suka meminta-minta, tapi karena tidak cukup berdoa pada awalnya. Ketika mereka memilpiki satu kebutuhan, hal pertama yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya saya bisa mendapatkan hal ini dan bukannya berdoa. Karena mereka pada dasarnya tidak berdoa dan ketika mereka memiliki suatu kebutuhan pun bukan doa yang menjadi tumpuan mereka. Mungkin doa adalah opsi terakhir ketika segala sesuatunya buntu. Tuhan mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk terus berdoa. Yesus sendiri memberikan contoh kehidupan yang penuh doa.

Kamu tidak beroleh apa-apa karena kamu tidak berdoa. Mungkinkah ini merupakan barometer bagi jemaat Kristen hari ini? Dan mungkin juga itu menjadi barometer juga bagi ANDA? Kalau orang Kristen tidak berdoa, ini tidak dapat disangkal lagi. Bahkan ada yang pernah mengatakan bahwa dosa yang paling banyak dilakukan oleh orang Kristen adalah ‘tidak berdoa,’ karena perintah Tuhan adalah ‘tetap berdoa’ dan setiap kali anda tidak berdoa anda telah melanggar perintah Tuhan. Bisa jadi ini merupakan barometer seberapa sehatnya kekkristenan hari ini. Contohnya, jika jemaat yang hadir kebaktian hari Minggu berjumlah 100 orang, maka seharusnya yang hadir dalam Persekutuan Doa minimal 70%-nya. Tapi dalam kenyataannya tidak seperti itu, bahkan persentasenya hanya 30-40%. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Alkitab: Kamu tidak beroleh apa-apa karena tidak berdoa. Tentu doa sebagai satu jemaat merupakan barometer yang cukup baik, tetapi tidak berhenti sampai di situ, yang menjadi tolak ukur yang lain adalah apakah anda sudah berdoa atau melakukan renungan secara pribadi? Kata ‘kamu tidak beroleh apa-apa,’ termasuk di dalamnya tidak memperoleh pertumbuhan rohani, kematangan rohani dan kedewasaan iman. Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat 7:7). Allah yang di surga memberikan gambaran kepada kita bahwa dia adalah Allah yang siap memberi. Yesus pernah memberikan satu perumpamaan yang bertujuan agar murid-murid-Nya tidak jemu-jemu berdoa.

2 Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. 3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. 4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, 5 namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku." 6 Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! 7 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? 8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" Luk 18: 2-8
Mungkin ada yang di antara kita berkata, “Saya sudah berdoa tapi tidak dikabulkan.” Mengapa? Ada banyak alasan. Alasan pertama, karena anda salah berdoa, karena apa yang engkau minta adalah sesuatu yang jelek dan buruk, yang ingin engkau habiskan untuk nafsumu, kalau Tuhan memberikan hal itu kepadamu Tuhan akan mencelakakan engkau.

7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 memberi ular, jika ia meminta ikan? Mat 7:7-10
Jangan-jangan anda meminta ‘batu’ atau ‘ular!’ Memang kalau kamu minta roti maka Tuhan akan memberikan roti. Karena Tuhan tidak mungkin memberikan batu kepada anda.

Anda salah berdoa karena kamu akan habiskan untuk hawa nafsu. Sebelum kita berdoa kita perlu cek dulu: Apakah kita berdoa karena keegoisan kita? Dan apakah kita tidak memiliki hati nurani padahal kita sudah yakin betul bahwa itu bertentangan dengan Firman Tuhan? Jangan-jangan yang anda minta itu bertentangan dengan Firman Tuhan!

7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. 8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. 9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. II Kor 12:7-9
Alasan kedua–mengapa kadang-kadang kita berdoa dan Tuhan tidak mengabulkan doa kita–terilustrasikan dalam kasus Paulus. Rasul Paulus bukan sembarang orang. Kalau ada orang yang berpikir bahwa orang yang bisa berdoa dan doanya dikabulkan Pauluslah orangya. Karena doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak 5:16). Apakah rasul Paulus kurang benar? Seorang rasul yang giat melayani Tuhan dan giat memberitakan Injil. Tetapi Tuhan mengatakan: “Aku mempunyai rencana yang baik dalam hidupmu dengan keadaanmu yang seperti ini.” Kadang2 kita bertanya mengapa kita berada dalam lingkungan yang seperti ini atau mengalami hal-hal yang buruk. Tuhan tidak memberikan apa yang rasul Paulus minta. Mungkin Tuhan mempunyai rencana dalam hidupmu yang seperti itu. Tuhan melihat bahwa keadaan kita masih baik sekarang ini.

Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini. Kej 40:14

Alasan ketiga, karena waktunya belum sampai. Waktu itu Yusuf berada dalam tahanan yang sangat ketat, dan di dalamnya ada juga juru minum dan juru roti. Saya yakin Yusuf berada di sana bukan karena kesalahannya, bahkan dia sudah mengikuti perintah Tuhan–ketika istrinya Potifar merayunya dan dia menepis semuanya itu, tetapi apa yang dia dapatkan? Bukan pujian tapi malah penjara. Dan Yusuf pastilah sering berdoa kepada Tuhan. Ketika dia melihat ada kesempatan pada saat juru minum akan dibebaskan, dia berpesan kepadanya. Juru minum saat itu bukan orang yang berpangkat rendah. Bahkan dengan diiringi doa pun rupanya juru minum itu tetap tidak ingat kepada Yusuf selama 2 tahun. Tapi ini merupakan contoh yang sangat baik, mengapa doa Yusuf tidak didengar. Karena Tuhan mengatakan, “Belum saatnya.” Waktu Tuhan jauh lebih baik, ada saatnya apa yang kamu minta akan diberikan dan hasilnya akan jauh berlimpah-limpah. Kalau juru minum itu mendengarkan kata-kata Yusuf saat itu, mungkin Yusuf akan menjadi orang merdeka begitu saja dan tidak akan memiliki kesempatan untuk menjadi orang kedua di Mesir. Itulah kenapa Allah mengatakan bahwa kita tidak boleh jemu-jemu berdoa.

Alasan keempat, kadang-kadang kita saking bingungnya mengapa Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita, kita tidak sadar bahwa Tuhan telah atau akan memberikan yang lebih baik. Daud, misalnya, telah meminta kepada Tuhan agar ia diizinkan untuk mendirikan rumah bagi Tuhan. Nah, ini kedengarannya adalah suatu permintaan yang sangat baik, dan juga didasari atas suatu motivasi yang baik. Tetapi Tuhan tidak mengabulkan permintaannya itu. Sejenak sepertinya tidak ada alasan untuk tidak mengabulkannya. Tetapi, Tuhan tidak memberikan hal itu, karena Ia memiliki hal yang lebih baik. Pada perikop ini, dan pada kesempatan ini, Tuhan memberikan janji pada Daud bahwa ia akan menjadi nenek moyang Yesus Kristus. Dalam perikop ini kerajaan, takhta, dan keluarga Daud dikatakan akan diteguhkan untuk selama-lamanya. Pada awalnya, Daud bisa saja berpikir bahwa ia kehilangan kesempatan untuk terkenal sebagai pembangun bait Allah. Tetapi, pada kenyataannya Tuhan memberikan yang lebih baik, ia dikenal sebagai leluhur dari Yesus Kristus. Untuk mengakhiri renungan ini, marilah kita baca Efesus 3:20, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”
Readmore...

Sunday, 4 January 2009

Keterpurukan Iman setelah Memperoleh Kemenangan Iman yang Besar

Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.” Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana...... I Raj 19:1-8


Kisah Elia dalam pasal 19 ini ada sangkut pautnya dengan cerita dalam pasal-pasal sebelumnya. Kisah Elia ini sebenarnya bermula dari pasal 17 (pembaca disarankan membaca cerita ini dari awal). Pada saat itu, Tuhan ingin menghukum bangsa Israel karena mereka tidak menjalan perintah-Nya. Tuhan mengirim nabi Elia untuk berfirman kepada raja Ahab, raja yang memerintah saat itu: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.” (I Raj 17:1) Sejak perkataan ini diluncurkan, terjadi peperangan rohani yang jelas antara orang yang memihak Allah dengan orang yang menentang Allah. Setelah itu, Allah menyuruh Elia bersembunyi dahulu di tepi sungai Kerit dan Allah memelihara dia dengan memberinya makan roti dan daging yang dibawakan oleh burung gagak setiap harinya. Setelah terjadi kekeringan selama bertahun-tahun di negeri Israel, raja Ahab teringat akan perkataan Elia dan ia menjadi sangat marah kepada Elia dan ingin mencari serta membunuhnya.

Setelah kira-kira 3 tahun, sungai Kerit pun kering dan Allah pun menyuruhnya pergi ke kota Sarfat. Sesampainya di sana, ia dipelihara oleh seorang janda (ceritanya dapat dibaca dalam I Raj 17:7-24). Akhirnya Elia pun harus bertemu langsung dengan raja Ahab. Elia pun menantang raja Ahab untuk membuktikan siapa yang menyembah Allah yang benar. Dengan bantuan dari Allah, Elia pun membuktikan bahwa Allah yang dia sembahlah Allah yang benar dan ia pun menyembelih 400 nabi Baal. Dan pada saat itu pasti imannya menjadi sangat kuat. Namun dalam pasal 19 ini, Elia menjadi takut hanya karena sebuah ancaman dari seorang perempuan yaitu Izebel. Kita mungkin sedikit bertanya-tanya, mengapa Elia dalam pasal 18 begitu memiliki iman yang kuat dan memperlihatkan keteguhan pendirian di depan bangsa Israel tetapi dalam pasal 19 malah memperlihatkan keterpurukan iman yang sedemikian rupa. Padahal baru saja imannya dikuatkan tetapi setelah itu malah dia memperlihatkan ketakutan terhadap ancaman dari pihak musuh.

Ada beberapa kesamaan yang terdapat dalam diri Elia dengan kita. Dia memihak Allah atau bisa kita sebut sebagai Fundamentalis. Elia juga baru saja mendapatkan pengakuan setelah mendapatkan kemenangan. Pada saat ini, kita juga mendapatkan pengakuan dan sering mengalami kemenangan iman. Elia juga mendapat ancaman dari pihak musuh dan kita pun demikian. Namun ada beberapa bahaya setelah kita mengalami kemenangan iman.

Pertama, bahaya kita melupakan kemenangan yang baru saja kita raih. Dalam pasal 18, dia sudah mengalami kemenangan iman yang hebat. Dia menantang 400 orang nabi Baal untuk membuktikan dan menunjukkan kepada bangsa Israel manakah Allah yang harusnyva mereka sembah. Namun di pasal 19, dia melupakan kemenangan yang telah dia alami dan tentunya dengan penyertaan Tuhan! Elia lupa akan penyertaan Tuhan dalam pasal-pasal sebelumnya. Bagaimana dengan ajaibnya Allah memeliharanya pada saat di sungai Kerit, dia dikirimkan seonggok daging dan roti oleh seekor burung gagak dan setelah dia meninggalkan sungai Kerit. Ketika dia menghadapi ancaman dari Izebel, ia menjadi takut dan lupa akan penyertaan Tuhan yang ajaib. Kita juga kadang-kadang lupa mengikutsertakan Tuhan dalam masalah hidup kita. Kalau kita melupakan Tuhan, kita akan menjadi takut menghadapi masalah tersebut.

Kedua, bahaya kita menjadi sombong dan mulai menggandalkan kekuatan sendiri. Ingatlah kemenangan yang telah kita raih adalah berkat penyertaan Tuhan! Kita seringkali lupa untuk mengucap syukur setelah mendapatkan apa yang kita inginkan, kita berpikir bahwa semuanya dapat kita raih karena kemampuan kita sendiri dan melupakan campur tangan Tuhan. Seperti contoh dalam Alkitab yaitu Simson. Dia tahu bahwa Allah menyertainya dalam mengalahkan beribu-ribu orang Filistin. Dia mempunyai kekuatan seperti itu karena ia menaati perintah Allah, tidak mencukur rambutnya, tetapi pada saat Delila menggodanya dan dia terlena. Dia berpikir bahwa Allah akan tetap menyertainya dan dia juga dapat memakai kekuatannya sendiri (itu terlihat dalam perkataannya dalam Hak 16:20). Dia menyangka bahwa dia juga dapat mengalahkan orang Filistin tanpa bantuan Allah seperti yang sudah-sudah.

Ketiga, bahaya kita berpikir bahwa tidak ada peperangan lagi. Elia tidak menyiapkan mental akan timbulnya peperangan kembali. Setelah dia memenangkan pertempuran rohani di gunung Karmel, dia merasa takut menghadapi seorang Izebel saja. Dia berpikir bahwa peperangan telah usai pada saat dia membunuh 400 nabi Baal itu, tapi ternyata dia salah. Malahan itu merupakan awal dari peperangan selanjutnya, dia harus melawan kekuasaan yang lebih besar lagi. Seringkali kita menyangka bahwa peperangan akan usai setelah kita mendapatkan kemenangan dalam peperangan rohani, namun kita lupa untuk menyiapkan mental kita untuk peperangan rohani selanjutnya yang tentunya akan lebih besar.

Salah satu titik di mana dia menjadi jatuh imannya adalah kekecewaan. Setelah dia menang, tidak ada orang Israel yang berbalik. Ketika dia diancam oleh Izebel, tidak ada satu orang pun yang membelanya. Ketika kita menang, Iblis semakin kesal terhadap kita dan ia akan membuat kita jatuh lagi. Contohnya Ayub.


Kalau begitu bagaimanakah caranya agar kita tidak mengalami keterpurukan iman seperti yang dialami Elia? Kita jangan menjadi takut terhadap ancaman yang iblis luncurkan. Dan kita harus selalu bersandar kepada Tuhan. Janganlah setelah kita mendapatkan kemenangan iman, kita malah menjadi lupa penyertaan Tuhan di dalamnya!

Readmore...

Friday, 2 January 2009

Pikiran yang Bagi Kristus


Pikiran yang Bagi Kristus

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. II Kor 10:5.

Mungkin anda pernah mendengar kalimat ‘Aduh, saya tidak sengaja, saya tidak berpikir begitu tapi jadinya begitu’. Itu sebenarnya adalah konsep yang salah, yang ada adalah memang anda sudah berpikir seperti itu dan anda bertindak seperti apa yang telah anda pikirkan karena otak merupakan pusat dari semua tindakan kita. Semua saraf-saraf terhubung dengan otak. Bila anda ingin menendang, otak anda akan memberi perintah dahulu kepada kaki, baru kaki itu dapat bergerak. Jadi anda berpikir dahulu, baru akan timbul kehendak. Anda berpikir di dalam otak anda dahulu, baru anda melakukannya. Begitu juga mengenai kerohanian, anda berpikir dahulu dan kemudian baru bertindak. Jadi pikiran itu merupakan tempat dimana pertempuran itu dimenangkan atau dikalahkan.

Dlm II Kor 10:5, kita menaklukkan pikiran kepada Kristus, apa maksudnya? Kekristenan tidak pernah menentang pengetahuan, mengagungkan ‘ketidaktahuan’ atau ‘kebodohan’. Allah menginginkan kita mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan juga akal budi (Mat 22:37). Jangan pikir Allah ingin kita mengasihi-Nya tanpa berpikir panjang dan membabi buta! Allah menghendaki kita untuk berpikir dan memakai otak kita.

Namun tidak hanya Allah yang menginginkan pikiran kita, tetapi juga ada oknum lain yaitu Iblis (II Kor 11:3). Sebelum kita menjadi milik Allah, pikiran kita telah ditawan oleh iblis dan setelah diselamatkan pikiran kita merupakan milik Allah. Kita sebagai orang Kristen menaklukkan pikiran yang sudah ditawan oleh iblis dan kita menyerahkan pikiran itu kepada Kristus. Iblis ingin menawan pikiran kita lagi dengan berbagai cara. Bagaimanakah cara iblis menyerang pikiran kita? Dengan jalan apa sajakah dia ingin menawan pikiran kita?

Pertama, melalui ilmu pengetahuan yang sekuler. Ingat Allah tidak menentang pendidikan, namun iblis melihat itu sebagai peluang dan mulai menyusup ke dalamnya. Dalam Kol 2:8, iblis ingin menawan kita dengan filsafat2 yang kosong dan palsu. Pada saat itu, banyak filsuf Yunani yang beredar dan semuanya banyak yang tidak benar dan palsu. Zaman sekarang jauh lebih banyak beredar cerita2 bohong dalam kekristenan yang mengatakan bahwa ‘Tuhan Yesus menampakkan diri’ atau ‘si anu pergi ke surga dan neraka’. Dan bahkan banyak orang mempercayai cerita semacam itu sehingga iblis semakin gencar dalam hal ini.

Cara lain iblis ingin menawan pikiran manusia dengan pengetahuan sekuler adalah dengan teori evolusi, yang menyatakan bahwa tidak ada Allah yang menciptakan alam semesta ini dan isinya. Tuhan sudah jelas2 memperlihatkan bahwa Allah itu ada melalui alam ciptaan-Nya, yang merupakan buah pikir-Nya, sehingga semua orang tidak dapat berdalih (Rm 1:20). Namun manusia ingin menentang Allah dan tidak mau menyembah Dia sebagai Penciptanya sehingga mereka mengarang cerita bohong dan tidak terbukti kebenarannya. Teori itu mengatakan bahwa dunia ini sudah berjalan selama miliaran tahun dan juga manusia berasal dari makhluk bersel satu. Namun sebenarnya mereka ingin berkata bahwa tidak ada Allah yang menciptakan manusia, jadi kita tidak perlu memikirkan agama dan menyembah Pribadi yang menciptakan manusia.

Cara lain lagi melalui psikologi modern. Psikologi modern mengajarkan bahwa semua jalan keluar atas masalah kita terdapat dalam diri kita. Bayangkan betapa iblis ingin mengacaukan konsep Allah tentang menyelesaikan masalah! Allah tidak berkata bahwa jawaban atas masalah kita terdapat dalam diri sendiri melainkan semuanya terdapat di dalam Alkitab. Alkitab merupakan penuntun hidup kita. Jika kita sedang ada masalah, janganlah pergi ke psikolog atau teman anda yang belum diselamatkan, melainkan pergilah kepada gembala atau teman seiman andayang akan menuntun anda untuk menyelesaikan masalah dengan Alkitab (Rm 15:14).


Kedua, melalui doktrin2 yang sesat. Sekarang banyak pengajaran yang menyimpang jauh dari Alkitab. Bagi orang-orang yang menentang Allah, pikiran mereka telah dibutakan dan mereka tidak dapat melihat lagi cahaya kemuliaan Injil (II Kor 4:4). Walaupun kelihatannya mereka mau diajar oleh kebenaran tapi sebenarnya di dalam hati mereka tidak menerima Injil itu (II Tim 3:7-8).

Ketiga, melalui pikiran2 yang kotor. Pikiran merupakan pusat dari segala tindakan kita. Pikiran pulalah yang merupakan pusat dari rencana kehidupan yang jahat maupun yang baik. Pikiran itu tidak bekerja sendirian, ia bekerja sama dengan mata dan telinga. Alat komunikasi saat ini sangat modern, ada televisi, internet, bahkan majalah. Iblis berusaha membuat orang-orang benar berpaling dari pikiran yang benar kepada pikiran yang tidak benar. Setelah kita diselamatkan, kita masih tinggal di dunia ini dan Tuhan memberikan cara untuk mengatasi masalah ini, yang terdapat di dalam Flp 4:8. Kita diharuskan untuk memikirkan hal yang benar, mulia, adil, manis, suci dan lain2. Kita yang berada dalam lingkungan yang jahat akan merasa sangat tersiksa sama seperti Lot yang tinggal di tengah-tengah kota Sodom dan Gomora (II Ptr 2:8).

Keempat, melalui hal-hal yang tidak berguna. Mungkin kita dapat memisahkan hal-hal yang baik dengan yang buruk, namun seringkali kita sulit untuk membedakan hal-hal yang berguna dengan yang merugikan. Sebagai contoh, menonton bola. Menonton bola bukanlah hal yang buruk namun bila kita sampai mengabaikan pekerjaan utama kita demi hal itu, itu menjadi hal yang merugikan kita. Iblis ingin mengalihkan perhatian kita dengan hal-hal yang seperti ini. Tujuan utama kita adalah memberitakan kabar baik atau memajukan kerajaan Allah, namun iblis mencoba mengalihkan perhatian kita dengan menonton atau bermain hingga melebihi waktunya dan itu menjadi hal yang tidak baik.

Readmore...

Wednesday, 24 December 2008

Kerabat Penebus

KERABAT PENEBUS



Pada waktu tengah malam dengan terkejut terjagalah orang itu, lalu merabaBSORU019.JPG-raba ke sekelilingnya, dan ternyata ada seorang perempuan berbaring di sebelah kakinya. Bertanyalah ia: "Siapakah engkau ini?" Jawabnya: "Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami (KJV: kinsman-reedemer)." Lalu katanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh Tuhan, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya... Rut 3:8-10


Kisah ini adalah sebuah tipology yang indah mengenai penebusan. Gambaran yang sangat indah mengenai penebusan antara orang yang menebus dan yang ditebus.



Tokoh pertama adalah Boas dan ia menggambarkan Juru Selamat kita. Dalam hukum Taurat, seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya tanpa mempunyai anak dapat menuntut haknya yaitu menikah dengan kerabat terdekat dari suaminya. Hukum ini biasa disebut juga hukum Levirat. Boas adalah kerabat penebus Rut. Hubungan ini sangat tepat menggambarkan Yesus dengan kita, Yesus adalah kerabat kita. Itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara. . . Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka . . . Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya , supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa (Ibr 2:11,14,17). Yesus juga pernah berkata, "Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku" (Mat 12:50).



Tokoh kedua adalah Rut dan ia menggambarkan orang-orang percaya yaitu kita. Rut tidak berdaya dan lemah, dan ini tepat menggambarkan manusia yang lemah dan tak berdaya. Rut memerlukan pertolongan dan kita pun demikian. Dan kita lihat, akhirnya Rut menjadi istri Boas. Ini merupakan gambaran yang sangat tepat mengenai Yesus dan orang-orang percaya. Akhirnya, kita akan menjadi mempelai wanita Kristus.



Tentu semua kebahagiaan yang Rut dapatkan perlu ada langkah-langkah yang harus dia ambil sebelumnya. Tentu pertama-tama untuk mendapatkan hak Levirat itu harus ada kesediaan di pihak Rut. Bisa saja Rut menolak untuk menikah lagi dengan kerabat terdekat almarhum suaminya. Sama seperti kita, jalan keselamatan sudah tersedia dan yang perlu hanyalah kita mau menerimanya atau tidak. Rut juga harus dalam kondisi tertentu untuk bertemu Boas. Maka sekarang bukankah Boas, yang pengerja-pengerjanya perempuan telah kautemani itu, adalah sanak kita? Dia pada malam ini menampi jelai di tempat pengirikan, maka mandilah dan beruraplah, pakailah pakaian bagusmu dan pergilah ke tempat pengirikan itu (Rut 3:2-3). Rut disuruh oleh Naomi untuk mandi, berurap dan memakai pakaian bagusnya jika ingin bertemu dengan Boas. Ini juga mengambarkan kita jika kita ingin bertemu dengan Kristus. Ketika kita sudah diselamatkan, kita bagaikan sudah mandi (Tit 3:5), kita juga sudah diurapi (I Yoh 2:20,27) dan kita memakai pakaian baru (Zak 3:1,3-4; Why 3:5a). Dalam Rut 3:9 menggambarkan bahwa Rut meminta pertolongan dan ingin percaya kepada Boas agar dia melindunginya. Kita juga perlu mempunyai sikap itu, kita harus menerima Tuhan sebagai Juru Selamat kita. Tanpa hal ini, kita tidak bisa mendapatkan keselamatan itu. Mungkin anda pikir anda bisa mendapatkan keuntungan dari gereja ini, seperti misalnya dengan mendengarkan khotbah hidup anda berubah ataupun mendapatkan banyak rekan untuk dijadikan rekan bisnis anda, tetapi jika anda tidak diselamatkan sebenarnya anda tidak mendapatkan hal intinya.



Mungkin kita membaca kitab Rut tidak tertulis kisah romantis di dalamnya. Tapi saya yakin di tengah-tengah cerita itu ada kisah tersebut. Pada saat Rut memungut sisa-sisa gandum di ladang Boas, Boas melihat sesosok wanita yang menarik perhatiannya. Dia bertanya kepada pengerja-pengerjanya. Kesan pertama sudah begitu terasa di dalam hati Boas. Mungkin juga mereka sempat berbincang-bincang atau bertukar pikiran pada saat istirahat. Sampai-sampai Boas menyuruh pengerja-pengerjanya supaya sengaja menyisakan bulir-bulir gandum agar Rut dapat mengambil lebih banyak lagi. Boas juga adalah saudara dekat Naomi dan mungkin Boas sekali atau dua kali pergi berkunjung ke rumah Naomi. Selama waktu berjalan, mereka saling tertarik. Mungkin juga Boas sudah menanti-nanti kapn Rut akan menuntut hak Rut kepadanya. Saat musim menuai sudah hampir selesai, muka Rut mulai murung. Naomi sebagai ibunya tahu bahwa dia mulai sedih karena mata pencahariannya akan hilang dan juga mungkin sudah tak bisa lagi bertemu dengan Boas. Naomi yang tahu akan hal ini akhirnya menyuruh Rut untuk meminta perlindungan. Dan ternyata masih ada 1 kerabat lagi yang lebih dekat (Rut 3:12-13). Boas mungkin sudah menyelidikinya terlebih dahulu dan akhirnya Boas yang menyelesaikan perkara itu. Lalu kata mertuanya itu: "Duduk sajalah menanti, anakku, sampai engkau mengetahui, bagaimana kesudahan perkara itu; sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga" (Rut 3:18). Yesus Juru Selamat kita juga akan menyelesikan perkara dosa kita dan kita hanya perlu menanti tanpa melakukan usaha apapun untuk keselamatan kita.



Yesus, bagaikan Boas, yang menanti engkau meminta perlindungan kepadanya atas keselamatan jiwa anda. Sudahkah anda mengambil keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat anda? Jika anda ingin, Tuhan yang akan membereskan dosa anda dan anda tidak perlu melakukan usaha apapun juga. Percayalah kepada Yesus seperti Rut percaya kepada Boas yang akan menyelesaikan perkaranya!


Ingatlah! Tuhan menanti anda!

Readmore...