GBIA SEMARANG Headline Animator

omakase

IMAN

IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN, DAN PENDENGARAN AKAN FIRMAN ALLAH. TANPA IMAN YANG BENAR, MAKA MANUSIA AKAN MELAYANI ALLAH TANPA PENGERTIAN YANG BENAR. DAN HAL ITU SAMA SEKALI TIDAK MENYENANGKAN ALLAH (ROMA 10:1-3, 17)
Showing posts with label Baptist's History. Show all posts
Showing posts with label Baptist's History. Show all posts

Monday, 26 January 2009

ASAL-USUL JEMAAT (GEREJA) ANABAPTIS

Bermulanya gerakan Anabaptis berakar kuat pada abad-abad permulaan. Kaum Baptis memiliki turunan rohani yang berasal dari orang-orang Kristen yang mencintai kemerdekaan dari berbagai zaman; Reformasi memberikan kesempatan pembentukan sejarah yang baru dan bervariasi.

Pernyataan Mosheim yang merupakan sejarawan Lutheran yang terpelajar mengenai asal-usul kaum Baptis belum pernah sepenuhnya ditentang. Ia mengatakan:
Asal-usul sekte yang mengulang baptisan terhadap orang-orang yang berasal dari kelompok lain tersebut disebut Anabaptis, tetapi juga termasuk denominasi Mennonites, yang berasal dari seorang ternama yang sangat berjasa atas keberhasilan mereka saat itu, yang diliputi oleh banyak ketidakjelasan [atau, tersembunyi dalam-dalam dibalik kekunoan yang jauh, seperti istilah dari seorang penerjemah]. Karena mereka muncul tiba-tiba di berbagai negeri di Eropa, dibawah pengaruh para pemimpin yang berbeda karakter dan pandangan; dan pada masa ketika pertentangan pertama dengan Katolik demikian menegangkan perhatian semua pihak, sehingga mereka sungguh-sungguh memperhatikan semua kejadian yang muncul. Kaum Mennonites modern menegaskan bahwa para pendahulu mereka berasal dari kaum Waldenses yang ditekan oleh tirani Kepausan; dan bahwa mereka berasal dari turunan yang paling murni dan paling keras menentang setiap kecenderungan penyelewengan, seperti juga halnya terhadap pandangan-pandangan fanatik.

Pada urutan pertama saya yakin kaum Mennonites tidak sepenuhnya salah, ketika membanggakan sebagai turunan dari kaum Waldenses, Petrobrusian dan lainnya yang biasanya menyebut diri sebagai saksi-saksi kebenaran sebelum Luther. Sebelum masa Luther, tersembunyi hampir di setiap negeri di Eropa, khususnya di Bohemia, Moravia, Switzerland dan Jerman, banyak sekali pribadi yang pemikirannya berakar kuat pada prinsip yang dipertahankan oleh kaum Waldenses, kaum Wyclifites dan kaum Husites, sebagian besar tersembunyi dan sebagian yang lain secara terbuka; yakni bahwa kerajaan yang Kristus dirikan diatas bumi, atau jemaat yang kelihatan adalah merupakan sebuah kumpulan orang-orang kudus; oleh karena itu harus benar-benar bebas dari orang-orang yang fasik dan berdosa, maupun dari segala lembaga ciptaan manusia yang bertentangan dengan keillahian. Prinsip ini menjadi dasar yang merupakan sumber yang baru dan seragam bagi seluruh kepercayaan Mennonites; dan bagian terbesar dari pendapat mereka yang seragam tersebut sudah teruji dan diakui oleh mereka yang mempunyai pandangan yang demikian mengenai Jemaat Kristus beberapa abad sebelum zaman Luther (Mosheim, Institutes of Ecclesiastical History, III, 200).

Pandangan Mosheim mengenai asal-usul purbakala dari kaum Baptis dan hubungan mereka yang erat dengan kaum Waldenses serta saksi-saksi kebenaran lainnya dinyatakan pada tahun 1755, dan sesuai serta diakui oleh penelitian ilmiah masa kini yang sangat ketat.

Sir Isaac Newton, seorang yang sangat terkemuka yang pernah hidup, menyatakan adalah “keyakinannya bahwa kaum Baptis merupakan satu-satunya orang-orang Kristen yang tidak menghubungkan diri dengan Roma” (Whiston, Memoirs of, ditulis oleh dirinya sendiri, 201). William Whiston yang mencatat pernyataannya, merupakan penerus Newton di Cambridge University, dan mengajar Matematika dan Filsafat Alam. Ia sendiri menjadi seorang Baptis dan menulis sebuah buku tentang baptisan bayi.

Alexander Campbell, didalam perdebatannya dengan Mr. Macalla, mengatakan:
Saya akan melawan dengan menunjukkan bahwa baptisan seperti yang dipandang dan yang dipraktekkan oleh kaum Baptis memiliki pendukung dalam setiap abad sepanjang masa Kekristenan ...dan keberadaannya yang independen (Anabaptis Jerman), dipenuhi oleh saksi-saksi yang menyokong fakta, bahwa sebelum Reformasi, sejak zaman kepausan, dan sejak zaman apostolik sampai saat ini, perasaan kaum Baptis dan praktek baptisan memiliki rantai dukungan yang berkesinambungan serta monumen-monumen umum tentang keberadaan mereka yang dihasilkan dalam setiap abad (Macalla and Campbell Debate on Baptism, 378-379, Buffalo, 1824).

Sekali lagi didalam bukunya mengenai Baptisan Kristen (hal. 409, Bethany, 1851), ia mengatakan:
Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi kemerdekaan sipil daripada menikmati kemerdekaan untuk melaksanakan kesadaran yang bebas mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan agama tanpa dihambat dan dibatasi. Karena itulah denominasi Baptis, dalam setiap zaman dan di seluruh negeri, sebagai sebuah tubuh, merupakan kelompok yang konsisten dengan hak azasi manusia dan kehendak bebas. Mereka sering mengalami penganiayaan dari para Pedobaptis, tetapi secara politis mereka tidak pernah menganiaya, walaupun mereka mempunyai kekuatan untuk itu.

Robert Barclay, seorang Quaker yang banyak sekali menulis mengenai masalah ini, meski tidak selalu bebas dari sikap berat sebelah, berkomentar mengenai kaum Baptis:
Selanjutnya kita akan menunjukkan terjadinya kebangkitan Anabaptis sebelum Reformasi Gereja Inggris, dan selalu terdapat dasar untuk percaya bahwa di Benua Eropa, sekelompok kecil masyarakat Kristen yang tersembunyi mempertahankan banyak pemikiran Anabaptis, telah ada sejak masa para rasul. Dalam hubungannya dengan penyebaran Kebenaran Allah dan sifat agama rohani yang benar, kelihatannya besar kemungkinan bahwa jemaat-jemaat tersebut memiliki garis silsilah atau suksesi yang lebih kuno dari yang dimiliki oleh Gereja Roma (Barclay, The Inner Life of the Societies of the Commonwealth, 11-12, London, 1876).

Pernyataan-pernyataan ini dapat dipecahkan dengan rincian secara tak langsung. Sejarawan Katolik Roma dan para pejabatnya sebagai contoh saksi mata, bersaksi bahwa kaum Waldenses dan kelompok-kelompok purba yang lain merupakan kelompok yang sama dengan Anabaptis. Seorang Augustinian, Bartholomaeus von Usingen, pada tahun 1529 mengajukan sebuah tulisan polemik untuk menentang “Kaum Baptis Ulang”, dimana ia mengatakan bahwa “Anabaptis atau Catabaptis keluar dari Picardisme” (Usingen, Contra Rebaptizantes, Cologne, 1529). The Mandate of Speier, April 1529, menyatakan bahwa Anabaptis berusia ratusan tahun dan seringkali dikutuk (Keller, Die Waldenser, 135, Leipzig, 1886). Father Gretscher, yang mengedit karya-karya Rainerio Sacchoni, setelah menceritakan doktrin-doktrin kaum Waldenses, mengatakan: “Ini merupakan sebuah gambaran sejati mengenai bidat zaman kita, terutama kaum Anabaptis”; Baronius, seorang sejarawan Gereja Katolik Roma yang sangat tekun dan terpelajar mengatakan: “Kaum Waldenses merupakan Anabaptis” (D’Anvers, Baptism, 253). Baronius memiliki sebuah kronik yang berat dan sulit dibaca, namun berharga sebagai referensi dokumen asli.

Kardinal Hosius, anggota Sidang Trent, 1560 AD., didalam sebuah pernyataan yang sering dikutip, mengatakan:
Jika kebenaran agama ditentukan oleh kesiapan dan keberanian untuk menderita seperti yang ditunjukkan oleh anggota dari sekte apa saja, maka tidak ada pendapat dan kepercayaan dari sekte manapun yang lebih sejati dan lebih meyakinkan daripada yang ada didalam Anabaptis, karena dalam seribu duaratus tahun yang lalu ini, hampir tidak ada yang lebih biasa dihukum atau yang lebih bersukacita dan tabah menjalani penganiayaan, bahkan mempersembahkan diri mereka didalam hukuman yang paling kejam selain orang-orang tersebut (Hosius, Letters, Apud Opera, 112-113, Baptist Magazine, CVIII, 278, Mei 1826).

Bahwa Kardinal Hosius menyebutkan sejarah Baptis mundur 1.200 tahun ke belakang, berarti tahun 360 AD, karena kemudian di tempat yang lain Kardinal tersebut mengatakan:
Anabaptis merupakan sebuah sekte yang merusak. Kelihatannya akhir-akhir ini beberapa dari kelompok Waldenses, walau hanya sedikit, seperti kesaksian didalam permintaan maaf mereka, menyatakan bahwa mereka tidak akan membaptis-ulang seperti kebiasaan mereka dahulu; meski demikian, dapat dipastikan bahwa banyak dari mereka mempertahankan kebiasaan mereka, dan bersatu dengan Anabaptis (Hosius, Works of the Heresies of our Times, Buku I, 431, Edisi 1584).

Dari sudut pandang apapun, kesaksian Katolik Roma ini harus dilihat sebagai hal yang sangat penting. Katolik Roma aktif menentang kaum Baptis, dengan Inkuisisi mereka menghadapi kaum Baptis selama beberapa abad, mereka memiliki setiap informasi, tetapi sama sekali tidak mengecualikan informasi itu, dan sebagai akibatnya mereka sangat mengenal fakta-fakta tersebut. Kesaksian-kesaksian yang sangat kuat tentang kekunoan Baptis ini bobotnya sangat istimewa. Kaum Baptis bukan sesuatu yang baru bagi Katolik Roma pada masa Reformasi.
Kesaksian Luther, Zwingli, dan para Reformer lainnya meyakinkan. Luther sama sekali bukan bagian dari Baptis. Pada permulaan tahun 1522 ia mengatakan: “Kaum Anabaptis sejak lama sudah menyebar di Jerman” (Michelet, Life of Luther, 99). Almarhum Dr. E.T. Winkler, seorang Baptis yang hebat dan mengesankan, ketika mengomentari pernyataan ini, mengatakan: “Tidak, Luther bahkan menelusuri Anabaptis sampai kepada masa John Huss, dan dengan mohon maaf mengakui bahwa Reformasi yang terkenal itu hanya merupakan salah satu bagian dari mereka”.
Zwingli, Reformer Swiss, lebih spesifik dibandingkan Luther. Sejak awal karyanya, ia dipengaruhi sikap tentang pentingnya untuk menghadapi gerakan Anabaptis. Ia mengatakan:

Lembaga Anabaptis bukan sesuatu yang baru, namun merupakan hal yang selama tiga ratus tahun telah menyebabkan gangguan besar kepada gereja, dan memperoleh kekuatan sedemikian rupa, sehingga usaha masa ini untuk menentangnya menjadi sia-sia selama suatu jangka waktu tertentu.

Tidak ada tempat yang menggambarkan dimana kaum Baptis pada masa Reformasi bermula, karena mereka semuanya muncul di banyak negeri secara bersamaan. Pertama-tama adalah tidak mungkin menelusuri jejak mereka ke suatu tempat tertentu, karena mereka muncul di banyak negeri pada saat yang bersamaan (J.C. Fusslin, Beitrage zur schweizerischen Reformations geschichte, I, 190; II, 64-65, 265, 328; III, 323, Zurich, 1754). Selanjutnya Fusslin menambahkan: “Karena itu Anabaptis tidak salah, jika mereka mengatakan bahwa anabaptisme bukan suatu hal yang baru. Kaum Waldenses telah mempraktekkannya sebelum Anabaptis” (Ibid, II, 166). Tidak ada yang dapat memastikan apakah mereka pertama kali muncul di Belanda, Jerman atau Switzerland, dan para pemimpinnya tidak dibatasi pada negeri tertentu, dan kelihatannya tidak memiliki sebuah kaitan yang khusus antara satu dengan lainnya.
Tak seorang pemimpinpun yang mengesankan diri sebagai pribadi yang membawahi mereka. Ada independensi dan individualitis yang menyebabkan kemustahilan untuk menyatakan sistim intelektual kepercayaan mereka secara lengkap. Terdapat tiga laporan masa itu yang menunjukkan perbedaan pendapat diantara mereka – dua berasal dari sejarawan yang memusuhi dan satu berasal dari sejarawan simpatisan. Bullinger (Die Wiedertaufern Ursprung, Furgang, Secten, Zurich, 1650) berusaha membuat klasifikasi bagian-bagian yang berbeda, dan menyebutkan tigabelas sekte yang berbeda didalam lingkaran Anabaptis; tetapi semua itu menunjukkan tumpang-tindih yang sedemikian rupa sehingga mengesankan adanya jumlah perbedaan yang sangat besar sehingga tidak bisa dibuat tabel khusus. Sebastian Frank mencatat berbagai pandangan yang disebutkan oleh Bullinger, tetapi menghindari klasifikasi tertentu. Ia mengatakan, :”Ada banyak lagi sekte dan pendapat yang tidak saya ketahui dan tidak bisa saya uraikan, tetapi saya temukan ternyata bukan hanya ada dua kelompok yang sama pandangannya dengan semua pemikiran tersebut”. Kessler (Sabbatta, St. Gall, 1902), yang mengisahkan cerita mengenai Anabaptis St. Gall, juga mencatat variasi pendapat yang sama. Benih tersebut ditaburkan oleh orang-orang Kristen mula-mula di banyak tempat, dan kaum Baptis merupakan buahnya. Mereka bukan bersumber dari individu tertentu, karena itu variasi dan independensi yang besar diperlihatkan oleh gereja-gereja Baptis. Karena penganiayaan, mereka tidak diizinkan untuk menyelenggarakan pertemuan untuk merumuskan pembelaan, kemungkinan mereka tidak saling mengetahui keberadaan masing-masing, sehingga timbul perbedaan pandangan diantara mereka; tetapi pada intinya ada kesatuan pemikiran, karena mereka menguasai pelajaran di hati mereka dari sumber Injil yang sama, dan diajar oleh Roh merdeka yang sama.

Gerakan Anabaptis merupakan kesinambungan dari iman alkitabiah lama yang dipertahankan oleh kaum Waldenses dan orang-orang Kristen abad pertengahan lainnya. Limborch, sejarawan Inkuisisi mengatakan:
Untuk mengatakan yang sejujurnya, jika pendapat dan kebiasaan mereka diteliti dengan tanpa prasangka, maka ternyata diantara semua sekte Kristen modern, mereka memiliki persamaan yang terbesar dengan kaum Mennonites atau Baptis Belanda (Limborch, The History of the Inquisition, I, 57, London, 1731).

Dr. Allen, Profesor Harvard University mengatakan:
Seiring dengan pengakuan iman yang dengan sendirinya membentuk diri sedemikian rupa (merujuk kepada hirarkhi Roma) sehingga menurunkan tradisi yang sangat tua, tegar, heroik, dan anti-keimamatan, yang menyebabkan pemicu lahirnya berbagai protes radikal dari Kaum Puritan Novatian abad ketiga sampai kepada Independensi Inggris pada abad ketujuhbelas. Tradisi tersebut dalam bentuk yang paling logis bukan hanya Protestan, namun Baptis.

Dr. Ludwig Keller, seorang anggota terpelajar dari Gereja Reformed yang merupakan Penanggungjawab Arsip Munster yang kemudian bertugas di Pusat Arsip Berlin, mengatakan:
Juga tidak diragukan lagi bahwa didalam proses penelitian ilmu pengetahuan, penelusuran yang terus dilakukan akan menghasilkan penyingkapan ... Banyak yang dapat dibuktikan bahwa di tempat-tempat yang menyebut jemaat Baptis yang sudah ada sejak banyak dasawarsa dan bahkan berabad-abad sebelum Reformasi (The Baptist Quarterly Review, VII, 28-31).

Didalam karya terakhirnya, Keller mengatakan:
Hal-hal yang menonjol dari jenis tinjauan sejarah ini adalah bahwa dalam kalangan injili terdapat sebuah fakta mengenai adanya sebuah garis perkembangan yang tidak terputus dan kesinambungan historis yang jauh sebelum abad keenambelas; dan yang sama-sama menolak mengakui anggapan Katolik bahwa hanya pada 1517 “sebuah kemurtadan menjijikkan terhadap iman yang benar terjadi di Dunia Barat”, dan yang hanya dari para pengikut Luther saja, terang Injil pertama kali yang menyertainya (karena adanya kesesatan) datang ke dunia (Keller, Die Anfange der Reformation, iii, iv, diterjemahkan untuk The Western Recorder oleh Dr. Albert H. Newman).

Pernyataan dari Dr. William Moeller, almarhum Profesor Sejarah Gereja di Kiel juga menyatakan kesimpulan yang sama. Ia mengatakan:
Kaum Baptis seringkali disebut sebagai kelompok yang paling konsisten dan keturunan paling asli dari Reformasi, atau mereka dianggap memiliki karaktek yang hebat sehingga disebut dengan nama Reformasi ‘Ultra’; tetapi pandangan ini hanya didukung oleh kalangan luar yang sama sekali tidak ada hubungannya, yang mengatakan bahwa banyak dari mereka sebelumnya adalah pengikut Zwingli atau Luther, dan bahwa Reformasi Swiss melicinkan jalan bagi doktrin mengenai kasih-karunia dan radikalisme alkitabiah mereka. Bahkan usaha Cornelius untuk menjelaskan kebangkitan pengaruh Alkitab yang berada di tangan orang-orang awam hanya bisa menggambarkan formalitas dan keanehan tertentu. Untuk menilai pandangan kolektif mereka mengenai dunia dengan menguji maksud dan tujuan mereka, maka mereka bukan termasuk Reformasi, namun Kekristenan Abad Pertengahan, yakni sebuah kesinambungan perlawanan (yang tumbuh pada paruh kedua Abad Pertengahan di lahan Katolik) terhadap gereja sekuler (Moeller, History of the Christian Church, 90-91).

Dr. Thomas M. Lindsay, Kepala Sekolah dari Free Church College, Glasgow, 1906 AD. mengatakan:
Untuk sepenuhnya memahami gerakan berbagai bentuk (multiform) yang pada abad keenambelas disebut sebagai Anabaptisme, perlu diingat bahwa ia bukan diciptakan oleh Reformasi, meskipun pasti mereka mendapat dorongan inspirasi masa itu. Mereka dapat ditelusuri asal-usulnya selama berabad-abad dan silsilah mereka paling sedikit bersumber dari dua akar yang secara esensial berbeda dan hanya sekali-sekali berpadu. Akar yang pertama merupakan suksesi Persaudaraan, sebuah tubuh Kristen anti-keimamatan yang sejarahnya hanya tertulis didalam catatan Inkusisi Gereja Abad Pertengahan, dimana mereka tampil dengan nama yang berbeda-beda, namun secara umum dikatakan mereka menjunjung Alkitab dan menerima Pengakuan Iman Para Rasul. Akar yang kedua adalah eksistensi didalam kesinambungan pemberontakan dari kaum petani miskin di daerah-daerah pedesaan dan kelompok-kelompok kalangan bawah di kota-kota yang menentang orang-orang kaya, yang merupakan ciri-ciri Abad Pertengahan akhir (Lindsay, A History of the Reformation, II, 235, New York, 1908).

Pernyataan-pernyataan dari para penulis tersebut sejak saat itu menjadi pemikiran, karena hal tersebut menunjukkan semangat pengetahuan baru para ahli yang telah menerapkan prinsip investigasi metode ilmiah terhadap sejarah Baptis tersebut.

Di tempat dimana kaum Waldenses bertumbuh subur, disana jugalah kaum Baptis tertanam kuat akarnya. Kenyataan ini terpelihara dengan baik dari satu negeri ke negeri yang lain. Contoh-contoh tak terhitung dapat diberikan. Dalam masa yang panjang di Cologne terdapat kaum Waldenses. Kaum Beghard tersebar luas di seluruh negeri Belanda Flemish dan di Switzerland, sepanjang sungai Rhine, dan di Jerman, dimana sesudah itu kita menemukan kaum Baptis (Heath, The Anabaptists and Their English Descendants, dalam Contemporary Review, 403, Maret 1891). Metz merupakan sebuah tempat pengungsian bagi kaum Waldenses (Michelet, Historie de France, II, buku III); mereka menyebar ke Austria-Hungaria, sampai Transylvania; kaum Cathari ditemukan di dataran tinggi Alpen di Switzerland; mereka pergi ke Bern (Chron. of Justinger, Ochsenbein, op. cit., 95); dan juga ke Freiberg (Ochsenbein, Der Inquisitions prozesz wider die Waldenser, Bern, 1881). Mereka dijumpai di Strassburg. Di seluruh tempat tersebut terdapat kaum Waldenses pada masa-masa Abad Pertengahan; di seluruh tempat tersebut pada masa Reformasi juga dijumpai kaum Baptis. Tanah sepanjang tepi sungai Rhine dipersiapkan dengan demikian baik, sehingga orang Waldenses dapat dengan mudah bepergian dari Cologne ke Milan tanpa harus menginap di tempat lain kecuali menginap di tempat saudara-seiman. Tepat di tempat-tempat demikianlah kaum Baptis berkembang subur menjadi jumlah yang besar.

Banyak pengkhotbah hebat Waldenses dikenal luas sebagai pelayan-pelayan Baptis. Mereka itu misalnya adalah para martir Hans Koch, Leonard Meyster, Michael Sattler dan Leonard Kaser, yang kesemuanya terkenal sebagai para pelayan Baptis (Mehring, Baptisma Historia, 748). Koch dan Meyster dihukum mati di Augsburg pada 1524; Sattler pada tahun 1527 di Rotenburg, dan Kaser dibakar di Sherding pada tanggal 18 Agustus tahun yang sama. Di kota Augsburg pada 1525 terdapat sebuah gereja Baptis beranggotakan 1.100 orang. Gembalanya adalah Hans Denck yang merupakan seorang Waldenses. Ludwig Hatzer dengan sengaja disebut oleh seseorang yang sezaman dengan sebutan Picard; dan Hans Hut merupakan seorang pengikut “persaudaraan Waldenses tua” (“old Waldensian brethren”) [Der Chronist Joh. Salat, In Archiv. f. Schweiz., Ref., Gesch., I, 21]. Leonard Scheimer dan Hans Schaffer merupakan para pengkhotbah Baptis (Keller, Die Anfange der Reformation, II, 38). Juga ada Thomas Hermann yang pada 1522 bertugas sebagai seorang pelayan Waldenses, namun ia menjadi martir pada 1527 sebagai seorang pelayan jemaat Baptis (Beck, Die Geschichte Bucher der Wiedertaufer, 13). Conrad Grebel, sang pemimpin Baptis dari Switzerland yang terhormat, menerima pengetahuan dari kaum Waldenses. Banyak sekali keluarga Baptis terhormat dari Hamburg, Altona dan Emden berasal dari kaum Waldenses (Blaupot Ten Cate, A Historical Enquiry, didalam Southern Baptist Review, Oktober 1857). Selain itu, persatuan perdagangan dan kebanyakan jaringan bisnis yang asalnya ada di tangan kaum Waldenses semuanya menjadi Baptis.

Banyak sekali hal-hal eksternal disekitar Anabaptis dan Waldenses yang dipaksakan kepada kita. Sikap khas yang ditunjukkan kaum Waldenses maupun Anabaptis terhadap kitab-kitab historis Perjanjian Lama bukan hal yang kebetulan (Keller, Johann von Staupitz, 101, 162, 166, 342, Leipzig, 1888). Kaum Waldenses menerjemahkan Alkitab kedalam bahasa Roma dan Jerman pada awal abad ketigabelas, orang Baptis memelihara versi Alkitab tersebut duaratus tahun setelah masa versi Luther. Alkitab Jerman yang tertua berasal dari Baptis. Hanya didalam versi tersebut sajalah Surat Paulus kepada jemaat Laodikia muncul. Sikap dari kedua kelompok tersebut terhadap masalah kuburan, pemakaian tata-cara ibadah tertentu didalam berdoa, menyanyikan pujian yang sama, tentang pelaksanaan Perjamuan, prinsip-prinsip dalam membangun jemaat, pakaian para rasul yang kelabu, para pengkhotbah yang berkelana, dalam hal memohon berkat dan banyak lagi hal-hal lain yang menandai bahwa Waldenses dan Baptis mempunyai asal-usul yang sama.

Profesor S. Minocchi didalam sebuah pamflet mengenai Alkitab yang sangat berharga dalam tulisan History of Italy mengatakan:
Namun, diantara kaum Waldenses dan lainnya, versi kitab mereka yang paling terkenal dan berharga tersebar sangat luas, misalnya kitab Mazmur, kitab dari mereka yang menderita sengsara, doa dan pengharapan, atau Amsal dan Pengkhotbah, yang penuh dengan hikmat dan kesedihan yang dalam. Perjanjian Baru ditemukan kemudian dan tersebar luas; dan didalam halaman-halamannya ditemukan kecaman terhadap Gereja Roma dan imam mereka yang sesat, sementara juga berisi pengharapan kebangunan rohani diantara masyarakat. Kitab Wahyu, sehubungan dengan gambaran mengenai Babylon, memberikan mereka sebuah gambaran kengerian tentang Gereja tersebut; didalam Yerusalem Baru mereka melihat pemulihan orang Kristen yang sangat mereka rindukan. Surat Rasul Paulus mempesonakan perasaan kerohanian mereka yang dalam, hikmat mereka yang dalam, pikiran rohani mereka begitu merdeka, gambaran kebiasaan mereka yang demikian sederhana. Kisah Para Rasul memberikan mereka bentuk kehidupan yang sengsara, luhur dan sukacita yang tak terbayangkan, seperti yang terjadi pada orang-orang Kristen primitif dengan ritualnya yang sederhana dan segala harta benda mereka adalah milik bersama. Namun di atas segala-galanya, adalah Injil yang menunjukkan kepada mereka, didalam pribadi Yesus yang menderita sengsara dan merendahkan diriNya, sebuah kehidupan kerohanian ideal-sempurna yang sejati, yang demikian berbeda dengan kepausan Roma yang sangat sombong (Salvatore Minocchi, La Bibbia nella Storia d’Italia, Firenze, 1904).

Menurut Profesor S. Minocchi, Alkitab Italia versi abad ketigabelas “Muncul, seperti juga halnya dengan banyak versi yang tua, tanpa nama penulis/penerbit, berasal dari orang-orang yang menuntut jalan untuk menegaskan gagasan religius yang lahir didalam diri mereka karena terjadinya perubahan didalam pikiran dan kesadaran mereka. Namun jika kita mempertimbangkannya hubungan mereka yang dekat dengan terjemahan bidat Perancis yang sezaman, Provence dan Savoy, kita dapat dengan tenang meyakini bahwa versi Italia yang pertama berasal dari pusat-pusat sekte yang dikenal dengan nama ‘Poor of Italy’, dan jika kita mempertimbangkan phraseology-nya (gaya bahasanya), kita akan lebih yakin lagi mempertahankan bahwa versi tersebut diterbitkan oleh Tuscan Patarenec”.

Baptis pada masa Reformasi menyatakan bahwa mereka mempunyai asal-usul yang tua dan mengganggap mereka merupakan “kesinambungan gereja”. Pernyataan ini disampaikan mereka sejak awal Reformasi pada tahun 1521 AD. Sepucuk surat tua yang ditemukan menyatakan: “Successio Ana-baptistica”. Surat tersebut mencantumkan tanggalnya sebagai “dari saudara-saudara di Swiss, ditulis kepada para Anabaptis Belanda, mengenai asal-usulnya, setahun sebelum tahun 1522” (Suptibus Bernardi Gaultheri, Coloniae, 1603 dan 1612). Surat tersebut secara khusus sangat penting karena menunjukkan bahwa kaum Baptis sejak awal 1521 telah menyatakan sebagai penerus. Van Gent, seorang Katolik Roma, mengutip surat itu dan menamakan kaum Anabaptis sebagai “belalang”, yang hidup meniru Katolik, berbual bahwa mereka merupakan kesinambungan rasuli” (Van Gent, Grundliche Historie, 85, Moded, Grondich bericht von de erste beghinselen der Wederdoopsche Sekten).

Sang penulis “Successio Anabaptistica” berkomentar tentang Anabaptis:
Saya sedang menghadapi Mennonites atau Anabaptis yang membanggakan diri sebagai penerus rasuli, yaitu misi dan pewaris para rasul. Yang menyatakan bahwa Gereja sejati tidak ada di tempat lain, kecuali pada mereka dan hanya jemaat mereka saja, karena hanya didalam merekalah pemahaman Alkitab yang sejati itu tersisa. Untuk mencapai maksud tersebut, mereka merujuk kepada surat S.S. dan ingin menjelaskannya dengan S.S. Dan karena itulah mereka bagaikan menjual batu mirah dari kaca kepada rakyat jelata sebagai batu permata ... Jika ada yang menuduh mereka sebagai sekte yang baru, maka mereka menyatakan bahwa “Gereja sejati” pada masa kekuasaan Gereja Katolik tersembunyi didalam diri mereka (Cramer dan Pyper, Bibliotheca Reformatoria Neerlandica, VII, 510).

Titik dari penelitian ini adalah bahwa Baptis Swiss menulis sepucuk surat pada tahun 1522 mengenai asal-usul rasuli gereja-gereja mereka sebagai jawaban kepada sepucuk surat yang mereka terima setahun sebelumnya dari kaum Baptis Belanda, dan bahwa Katolik Roma mengecam mereka karena masalah tersebut.

Kita juga mengetahui bahwa pada masa itu ada orang Baptis di Belanda. John Huibrechtsz merupakan seorang kepala polisi daerah pada tahun 1518 dan ia melindungi kaum Anabaptis (Wagenaar, Description of Amsterdam, III, 6, 66). Tentang asal-usul Baptis Belanda, cendekiawan Van Oosterzee mengatakan:
Mereka adalah keistimewaan tersendiri bagi orang Belanda dan lebih tua dari Reformasi, sehingga sama sekali tidak bisa dicampur-adukkan dengan Protestanisme abad keenambelas, karena dapat ditunjukkan bahwa asal-usul Baptis lebih jauh ke belakang dan lebih mulia (Herzog, Real Encyclopaedie, IX, 346).

Ada tuntutan kekunoan yang sama bagi Baptis Swiss. Di kota Zurich pada tahun 1525 kaum Baptis menyelenggarakan banyak diskusi dengan Zwingli dan lainnya di hadapan Dewan Kota. Pada 30 Nopember 1525, Zwingli memperoleh sebuah dekrit yang keras untuk menghadapi mereka. Bagian awal dari dekrit itu berisi kata-kata berikut:
Kalian pasti mengetahui dan telah mendengar dari banyak orang, bahwa selama waktu yang sangat panjang, sekelompok orang aneh, yang berkhayal bahwa mereka terpelajar dan tampil dengan mengherankan, serta tanpa bukti apapun dari Kitab Suci, hanya berdasarkan dalih sebagai orang-orang tulus dan saleh, telah berkhotbah dengan tanpa izin dan persetujuan dari gereja, telah menyatakan bahwa baptisan bayi bukan berasal dari Allah, tetapi berasal dari iblis, sehingga tidak boleh diselenggarakan (Blaupot Ten Cate, Historical Enquiry).

Dari sini kita dapatkan bahwa Baptis Zurich telah dikenal “selama waktu yang sangat panjang”. Pernyataan Zwingli yang terdahulu, yang telah disampaikan, akan diingat. Tak diragukan lagi bahwa Zwingli menulis dekrit tersebut. Dua atau tiga tahun bukanlah “waktu yang sangat panjang”. Kekunoan Baptis dinyatakan oleh diri mereka sendiri, dan diakui oleh para musuhnya pada tahun 1525.

Sebuah bukti terkenal mengenai kekunoan Baptis dari Moravia tercatat disini. Johanna Schlecta Costelacius menulis sepucuk surat dari Bohemia kepada Erasmus pada tanggal 10 Oktober 1519, menegaskan bahwa selama seratus tahun, kaum Picard telah menyelamkan orang-orang percaya dan bahwa mereka membaptis-ulang, karena itu mereka adalah Anabaptis. Perkataannya adalah demikian: “Siapa saja yang datang kepada sekte mereka harus diselamkan kedalam air sebagaimana adanya (in aqua simplici rebaptizari)” [Pauli Colimesii, Opera Theologica, Critica et Historica, No. XXX, 534-535, Hamburg, 1469].

Kaum Picard dan Waldenses menyebar ke seluruh Belanda Flemish dan Jerman. Mereka ditemukan di tempat-tempat dimana kaum Anabaptis berkembang subur. Dua orang dari mereka yang ditulis oleh Costelacius ini, menantikan Erasmus di Antwerp dan mengucapkan selamat atas keberanian Erasmus yang berdiri diatas kebenaran. Ia menolak ucapan selamatnya dan mencela mereka sebagai orang Anabaptis (Robinson, Ecclesiastical Researches, 506). Mereka kembali untuk menceritakan kepada saudara-saudara mereka: “Mereka menolak kita karena nama kita, Anabaptis” (Camerarius, de Eccl. Fratrum, 125, Ivimey, History of the Baptists, I, 70).

Erasmus menulis tentang mereka:
Kaum Husites tidak mengakui semua ritual dan upacara Gereja Katolik; mereka menertawakan doktrin dan praktek kami termasuk kedua sakramen; mereka menolak perintah dan memilih pejabat diantara orang awam; mereka tidak mau menerima ketentuan lain selain Alkitab; mereka menolak siapa saja sebagai bagian dari mereka sebelum mereka diselam kedalam air atau dibaptis; dan mereka menilai orang tanpa membedakan tingkatan untuk dipanggil saudara dan saudari.

Sebastian Frank, bapak sejarah Jerman modern, yang menulis dibawah tahun 1531, diluar kronik Picard dari Bohemia, pada tahun 1394, mengatakan: “Kaum Picard di Bohemia terbagi menjadi dua, atau ada yang mengatakan terbagi tiga, besar, kecil, dan sangat kecil, yang mempertahankan segala hal yang sama dengan Anabaptis, memiliki segala sesuatu secara bersama, dan tidak percaya dengan keberadaan yang nyata” (Frank, Chronica, Zeitbuch und Geschichte, clxix, Strassburg, 1531). Ia menceritakan banyak hal tambahan sehubungan dengan kaum Baptis ini pada tahun 1394. Ia mengatakan bahwa Katolik Roma melaporkan hal-hal yang sangat memalukan berkenaan dengan mereka, tetapi para sejarawan Bohemia malah menceritakan yang sebaliknya. Ziska, seorang raja Bohemia, mencoba membasmi mereka, namun kemudian jumlah mereka bertambah banyak sampai berjumlah delapanpuluh ribu. Mereka adalah orang-orang yang saleh, suka anak-anak dan tulus, dan banyak dari mereka menderita karena iman mereka. Orang-orang Baptis ini masih hidup di Bohemia, tulis Frank. Bapak-bapak mereka terpaksa hidup di hutan dan goa. Mereka saling mendukung. Perjamuan Tuhan yang mereka laksanakan didalam sebuah rumah mencerminkan maksud tersebut. Mereka tidak punya Pengakuan Iman selain daripada Alkitab. Mereka tidak menerima penafsiran dari bapak-bapak pendahulu mereka dengan begitu saja. Mereka mempertahankan Alkitab sebagai Firman Tuhan.

Pernyataan-pernyataan tersebut adalah berasal dari para penulis yang sezaman. Fakta menunjukkan bahwa kaum Baptis telah ada di Bohemia sejak tahun 1394, bahwa mereka melaksanakan baptis selam dan perjamuan yang tertutup; dan tidak sekali-sekali menerima baptisan bayi, serta dalam segala hal seperti Anabaptis.

Sejarawan-sejarawan Baptis Belanda semuanya menyatakan kaum Baptis berasal dari rasuli. Hal tersebut merupakan pernyataan dari: Hermann Schyn (Historia Christianorum, 134, 1723 AD.); Galenus Abrahamzon (Verdediging der Christenen, 29); dan J.H. Halbertsma menegaskan kaum Baptis berasal dari Waldenses. Ia berkata, “Kaum Baptis telah ada beberapa abad sebelum Reformasi” (Halbertsma, De Doopsgezinde). Sementara Blaupot Ten Cate mengatakan:
Aku sepenuhnya merasa puas bahwa prinsip-prinsip Baptis ada didalam segala zaman, sejak dari masa para rasul sampai saat ini, berlaku diatas Kekristenan yang lebih besar maupun yang lebih kecil (Cate, Nederlandsche Doopsgezinden in Friesland, 5).

Pernyataan kaum Baptis Belanda yang merujuk asal-usul mereka yang rasuli menjadi obyek penelitian khusus pada tahun 1819 oleh Dr. Ypeij, Profesor Theologi di Groningen dan Rev. J.J. Dermount, Pendeta untuk Raja Belanda, keduanya merupakan anggota Gereja Reformed yang terpelajar. Banyak halaman akan diisi dengan laporan yang mereka tulis untuk Raja. Mereka berpendapat:
Kaum Mennonites berasal dari kaum Waldenses yang dapat ditolerir murni alkitabiah, yang terpencar ke berbagai negara karena penganiayaan; dan yang selama bagian akhir abad keduabelas melarikan diri ke Flanders; dan ke propinsi Holland dan Zealand, dimana mereka hidup sederhana dan kehidupan mereka patut diteladani, di desa-desa sebagai petani, di kota-kota sebagai pedagang, bebas dari segala perilaku amoral yang menyolok, dan menyatakan prinsip-prinsip yang sederhana dan yang paling murni yang mereka tunjukkan didalam percakapan yang kudus. Karena itulah mereka sudah ada jauh sebelum Gereja Reformed Belanda. Kita sekarang telah melihat bahwa kaum Baptis yang sebelumnya disebut Anabaptis, dan kemudian Mennonites, merupakan Waldenses orisinil, dan telah lama menerima kehormatan atas asal-usul tersebut di dalam sejarah gereja. Mengenai hal ini kaum Baptis dapat dianggap sebagai satu-satunya kelompok Kristen yang telah berdiri sejak masa para rasul, dan sebagai masyarakat Kristen yang telah memelihara doktrin murni Injil segala zaman. Cara hidup hemat internal dan eksternal yang benar sempurna dari denominasi Baptis yang cenderung menegaskan kebenaran diperdebatkan oleh Gereja Roma, bahwa apa yang dihasilkan Reformasi pada abad keenambelas menempati tingkat kebutuhan yang tertinggi, dan pada saat yang sama menolak kesalahan pemikiran Katolik, bahwa denominasi merekalah yang paling tua (Ypeij dan Dermout, Geschiedenis der Nederlandsche Hervormde Kerk, Breda, 1819).

Kesaksian ini berasal dari otoritas tertinggi Gereja Reformed Belanda, melalui Komisi yang ditunjuk oleh Raja Belanda, merupakan sebuah contoh kebebasan dan keadilan bagi denominasi lain yang jarang terjadi. Ia mengakui segala hal yang pernah dinyatakan oleh kaum Baptis sehubungan dengan kesinambungan sejarah mereka. Dalam hal ini, perlindungan Negara diberikan kepada kaum Baptis, yang dengan sopan, namun dengan tegas menolaknya.

Pernyataan berkaitan dengan Baptis yang dipertimbangkan merupakan perhatian yang tertinggi. Pengetahuan ilmiah dan penelitian sejarah yang terbaik semuanya tergantung kepada kesinambungan sejarah Baptis. Dalam duapuluh tahun terakhir banyak penelitian terhadap sejarah Baptis yang dilakukan dengan sabar, terutama di Jerman dan Switzerland. Demikian juga banyak sumber yang telah dipublikasikan, dan kecenderungan ilmu pengetahuan memihak kepada gagasan kesinambungan kaum Baptis berasal dari sejak awal dan ada yang mengatakan berasal dari sejak masa para rasul.>

Buku-buku untuk bacaan dan rujukan lebih lanjut:
Schaff, VII, 74-84.
Lindsay, I, 336-339.
Fisher, History of the Reformation, 475.
Readmore...

JEMAAT (GEREJA) WALDENSES

Merupakan sebuah keindahan yang khas dari masyarakat kecil ini sehingga mereka bisa mempunyai tempat yang menyolok didalam sejarah Eropa. Telah lama ada kesaksian kebenaran di pegunungan Alpen, Italia, sampai ke Roma, seluruh wilayah Perancis Selatan, dan bahkan sampai jauh ke Belanda terdapat banyak orang Kristen yang tidak menganggap hidup mereka mahal di dunia ini, khususnya yang jelas ditemukan di wilayah Alpen. Lembah dan pegunungan ini dibentengi dengan kuat oleh alam karena jalan masuk dan benteng batu cadas dan gunung; dan hal tersebut mengesankan seakan-akan sang Khalik yang maha-bijak sejak dari permulaan telah merancang tempat itu seperti sebuah lemari untuk menyimpan perhiasan yang tak ternilai harganya, atau untuk mengamankan ribuan jiwa yang tidak mau tunduk kepada Baal (Moreland, History of the Evangelical Churches of the Valley of Piedmont, 5, London, 1658).

Disinilah sebuah gerakan baru, atau lebih tepatnya gerakan lama dengan kondisi berbeda yang mendapat pendorong. Peter Waldo atau Valdesius atau Waldensis, sebagaimana berbagai nama panggilannya, merupakan seorang warga Lyons, Perancis, yang kaya dan terhormat pada akhir abad keduabelas. Pada mulanya Waldo terpanggil untuk mempelajari Alkitab dan ia membuat terjemahan yang dibagikan kepada masyarakat. Pembacaan Injil membuat mereka mengikuti cara hidup Kristus. Waldo mengambil sikap hidupnya menurut Alkitab dan segera ia mendapat murid yang besar jumlahnya. Mereka memberikan harta-bendanya kepada orang miskin dan mulai berkhotbah di kota. Ketika mereka menolak untuk berhenti berkhotbah, mereka diusir dari Lyons. Dengan membawa isteri-isteri dan anak-anak mereka, mereka berangkat untuk melakukan misi penginjilan. Lahan telah dipersiapkan dengan baik oleh kaum Albigenses dan Cathari, demikian juga sebaliknya dengan para imam Katolik Roma yang tidak pernah puas dan amoral. Mereka berangkat berdua-dua dengan mengenakan pakaian wool dan sepatu kayu atau telanjang kaki. Mereka masuk ke Switzerland (Swiss) dan Italia Utara. Dimana-mana mereka disambut dengan sepenuh hati. Pusat kedudukan kaum Waldenses melengkung dari pegunungan Alpen Cottian dan Piedmont Timur, Provence Barat dan Dauphiny. Jumlah mereka berlipat ganda menjadi ribuan. Jelas bahwa pada awal kariernya Waldo adalah seorang Katolik
Roma, dan bahwa para pengikutnya meninggalkan ketahyulan lama mereka.

Telah banyak pembahasan mengenai asal-usul kaum Waldenses. Di satu pihak ditegaskan bahwa mereka berasal dari Waldo, dan tidak ada hubungan dengan gerakan-gerakan sebelumnya. Pandangan ini dipertahankan sepenuhnya, kemungkinan hanya oleh kalangan terbatas, karena hanya Comba yang mengakui bahwa “dalam pengertian yang terbatas, kekunoan mereka harus diakui” (Comba, History of the Waldenses in Italy, 12); dan ia juga menyatakan bahwa kaum Waldenses sendiri yakin dengan kekunoan mereka. Yang memegang pandangan ini kini umumnya menyatakan bahwa kaum Waldenses terpengaruh oleh kaum Petrobrusian, kaum Arnoldist dan lainnya. Lainnya menegaskan bahwa kaum Waldenses hanyalah merupakan sebuah bagian dari gerakan umum yang menentang Roma. Mereka berasal dari “gerakan umum yang sama” yang melahirkan kaum Albigenses (Fisher, History of the Christian Church, 272, New York, 1887). Perdebatannya adalah bahwa nama Waldenses berasal dari kata Italia Valdese, atau Waldesi, yang berarti sebuah lembah, sehingga kata itu berarti bahwa mereka tinggal di lembah-lembah. Eberhard de Bethune, 1160 AD., mengatakan: “Beberapa dari mereka menyebut diri mereka Vallenses karena mereka hidup didalam lembah penderitaan atau tangis” (Monastier, A History of the Vaudois Church, 58, London, 1848). Bernard, seorang kepala biara dari Biara Remonstrants, di Keuskupan Narbonne, kira-kira tahun 1209, mengatakan bahwa mereka disebut “Waldenses, yaitu dari lembah gelap, karena mereka terkait kesalahan atau kegelapan yang sangat tebal” (Migne, CCIV, 793). Waldo dinamakan demikian karena ia adalah seorang yang tinggal di lembah, dan memang seorang pemimpin yang terkemuka dari suatu kelompok yang telah lama ada. Pandangan ini didukung kuat oleh kebanyakan sejarawan Waldenses (Leger, Historie Generale des Vaudois, Leyden, 1669). Jelas bahwa mereka diberi nama berdasarkan nama setiap orang yang berasal dari kelompok-kelompok kuno itu (Jones, History of the Christian Church, 308). Jacob Gretscher dari Society Jesus, Profesor bidang Dogmatik di Universitas Ingolstadt, 1577 AD., telah menguji masalah tersebut sepenuhnya dan menulis tentang Waldenses. Ia menegaskan kekunoan Waldenses yang sudah sangat tua dan menyatakan bahwa adalah keyakinan dia “bahwa orang Toulousian dan Albigenses yang dihukum pada tahun 1177 dan 1178 tidak lain adalah kaum Waldenses. Sebenarnya, doktrin, disiplin, kepemerintahan, sikap, dan bahkan kesalahan yang dituduh kepada mereka menunjukkan kaum Albigenses dan Waldenses merupakan cabang berbeda dari sekte yang sama, atau yang belakangan bersumber yang terdahulu” (Rankin, History of France, III, 198-202).

Asal-usul Waldenses yang paling jauh telah dinyatakan dan diakui oleh musuh-musuh mereka dan dibenarkan oleh para sejarawan. “Saksi-saksi kami semuanya adalah Katolik Roma,” kata Vedder, ”orang-orang yang terpelajar dan mampu, namun sangat berat berburuk-sangka terhadap bidat. Hal ini membentuk praduga awal yang menentang keabsahan kesaksian mereka, dan merupakan sebuah peringatan bagi kita sehingga kita harus menimbang dan menelitinya dengan lebih hati-hati setiap detail sebelum menerimanya. Tetapi dilain pihak, saksi-saksi kita merupakan orang yang mempunyai kesempatan yang luar biasa untuk mengetahui fakta; diantara mereka adalah orang bertahun-tahun penuh dengan rasa ingin tahu, dan memberikan kita hasil interogasi sejumlah orang yang banyak” (Vedder, The Origin and Teaching of the Waldenses, dalam The American Journal of Theology, IV, 466). Ini merupakan sebuah sumber informasi yang sangat menarik.

Rainerio Sacchoni selama tujuhbelas tahun merupakan salah seorang pengkhotbah Cathari atau Waldenses yang paling aktif dari Lombardy; lama ia bergabung dalam ordo Dominican dan menjadi lawan Waldenses. Paus mengangkatnya menjadi Inquisitor Lombardy. Pendapat berikut sehubungan dengan kekunoan Waldenses disampaikan oleh salah seorang inquisitor Austria di Keuskupan Passau, kira-kira tahun 1260 (Preger, Beitrage zur Geschichte der Waldesier, 6-8). Ia mengatakan:
Diantara semua sekte, tidak ada lagi yang lebih merusak gereja selain kaum Leonist (Waldenses), karena tiga alasan: Pertama, karena ia yang terkuno: ada yang mengatakan bahwa mereka sudah ada sejak masa Sylvester (325 AD.); yang lainnya mengaitkan kepada zaman para rasul. Kedua, karena mereka yang paling luas tersebar. Hampir tidak ada negeri yang tidak ada mereka. Ketiga, karena jika sekte-sekte lain menimbulkan kengerian kepada orang-orang yang tidak mau mendengarkan mereka, kaum Leonist sebaliknya memiliki penampilan sikap luar yang sangat kudus. Dalam kenyataannya mereka menunjukkan kehidupan yang tak tercela di hadapan manusia dan melihat iman dan tulisan mengenai pengakuan imannya, mereka termasuk orthodoks. Kesalahan mereka hanya satu, yakni mereka menghujat Gereja dan para imam, dimana mereka menunjukkan permasalahan itu kepada orang awam yang secara umum mudah dihasut (Gretscher, Contra Valdenses, IV).

Dalam kalangan kaum Waldenses dipegang sikap bahwa mereka bermula dari sejak dahulu dan rasuli sejati. Kata David dari Augsburg, “Mereka menyebut diri mereka sebagai penerus para rasul, dan mengatakan bahwa mereka memiliki otoritas rasuli dan kunci untuk mengikat dan melepaskan” (Preger, Der Tractat des David von Augsburg uber die Waldensier, Munchen, 1876).

Sebuah pernyataan yang ada dari kaum Waldenses sendiri di dalam sebuah dokumen Waldenses yang menurut beberapa kalangan bertahun sekitar 1100, dalam sebuah salinan naskah yang bertahun 1404 dapat diperoleh pendapat mereka mengenai masalah kekunoan mereka. Noble Lessons (Pelajaran Mulia), demikian nama naskah tersebut, mengatakan:

Kami tidak menemukan sama sekali didalam Perjanjian Lama bahwa terang kebenaran dan kekudusan telah benar-benar dipadamkan. Selalu saja ada orang yang berjalan dengan setia di jalan kebajikan. Jumlah mereka adakalanya menjadi sedikit; namun tidak pernah sirna sama sekali. Kami percaya bahwa hal yang sama juga terjadi pada masa Yesus Kristus hingga kini; dan selalu akan demikian hingga akhir nanti. Karena jika perkara Allah didirikan, maka ia akan tetap berdiri sampai pada akhir nanti. Ia terpelihara lama oleh kebajikan agama yang kudus dan sesuai dengan sejarah kuno, para pemimpinnya hidup didalam kemelaratan dan kerendahan hati selama kira-kira tiga abad; yaitu dengan kata lain, pada masa Constantine. Dibawah kekuasaan Kaisar ini, yang merupakan seorang kusta, dimana ketika itu ada seorang didalam gereja bernama Sylvester, seorang Roma. Constantine datang kepadanya, dibaptis didalam nama Yesus Kristus dan disembuhkan dari sakit kustanya. Kaisar yang mendapatkan dirinya sembuh dari penyakit yang menjijikkan itu didalam nama Yesus Kristus, berpikir ia akan memuliakan dia yang telah bekerja didalam penyembuhan itu dengan melimpahkan kepadanya mahkota Kaisar. Sylvester menerimanya, tetapi rekannya, seperti yang dikatakan, menolak menerimanya, memisahkan diri darinya dan terus mengikuti jalan kemelaratan. Kemudian Constantine pergi ke daerah-daerah menyeberangi samudera dengan diikuti sejumlah besar prajurit Roma, dan membangun kota dimana ia memberi nama kota tersebut sesuai dengan namanya – Constantinopel – sehingga sejak saat itu bidat-bidat mulai dihormati dan bergengsi, dan kefasikan bertambah banyak di atas bumi. Kami tidak percaya bahwa jemaat Allah benar-benar telah meninggalkan kebenaran; sebab ada satu kelompok dihasilkan, dan seperti yang biasa terlihat, sebagian besar masyarakat menjadi fasik; sementara kelompok lainnya tetap setia kepada kebenaran yang telah diterima. Karena itu, sedikit demi sedikit, kesucian jemaat menurun. Delapan abad setelah Constantine, katanya muncul seorang bernama Peter, penduduk asli dari sebuah negeri bernama Vaud (Schmidt, Aktenstrucke ap. Hist. Zeitschrift, 1852 s. 239, MSS, Universitas Cambridge, vol. A, f. 236-238 dan Noble Lessons, V. 403, untuk keaslian Noble Lessons lihat Brez, Historie des Vaudois, I, 42, Paris, 1796).

Sejarawan besar gereja, Neander dalam komentarnya terhadap dokumen ini, mengusulkan bahwa hal itu seharusnya “berasal dari asal-usul yang lebih tua” dari tahun 1120. Ia melanjutkan: Namun bukan tanpa dasar kebenaran bahwa Kaum Waldenses dari masa ini menuntut kekunoan yang tinggi dari sekte mereka dan mempertahankan bahwa sejak masa sekularisasi gereja – yaitu seperti yang mereka yakini, sejak masa anugerah Constantine kepada uskup Roma Sylvester – akhirnya perlawanan demikian tiba-tiba meletup terhadap mereka, yang benihnya memang telah ada sebelumnya. Lihat Pilicdorf contra Waldenses, c.i. Bibl. Patr. Ludg. T. XXV, f. 278, (Neander, History of the Christian Church, VIII, 352).

Demikianlah tradisi dan demikianlah pendapat kaum Waldenses sehubungan dengan asal-usul mereka. Mereka mempertahankan sebuah “kekekalan rahasia selama Abad Pertengahan, berlomba dengan kekekalan Katolik” (Michelet, Historie de France, II, 402, Paris, 1833).
Theodore Beza, Reformer abad keenambelas, menyuarakan perasaan zamannya ketika mengatakan:
Sementara bagi kaum Waldenses, aku setuju untuk menyebut mereka sebagai benih utama jemaat (gereja) Kristen yang primitif dan lebih murni, karena mereka dijunjung tinggi, seperti yang sudah banyak dinyatakan, oleh pemeliharaan Tuhan yang ajaib, sehingga apakah badai dan prahara tiada henti yang menggoncang seluruh dunia Kekristenan selama berabad-abad, dan dunia Barat yang tertekan habis oleh Uskup Roma, demikian sebutan yang salah untuk mereka, maupun peningkatan penganiayaan mengerikan yang dinyatakan terhadap mereka, yang sejauh ini bisa menang karena membengkokkan mereka, atau berhasil membuat mereka tunduk dengan sukarela kepada tirani Roma dan pemberhalaan (Moreland, History of the Evangelical Churches, 7).

Jonathan Edwards, Rektor Universitas Princeton yang terkenal didalam karyanya “History of Redemption”, berkomentar tentang kaum Waldenses:
Dalam setiap masa kegelapan ini, tampil pribadi-pribadi tertentu di seluruh bagian Kekristenan yang membawa kesaksian menentang penyelewengan dan tirani gereja Roma. Tak satupun masa anti-Kristus, meski yang paling gelap sekalipun, dimana para sejarawan gereja tidak menyebutkan banyak nama hebat yang menunjukkan kemuakan terhadap Paus dan ibadah berhalanya. Allah dengan senang hati mempertahankan suksesi para saksi dengan tanpa gangguan sepanjang masa, di Jerman, Perancis, Inggris, dan negeri-negeri lainnya, seperti nama-nama yang ditunjukkan dan disebutkan oleh para sejarawan, dan memberikan catatan pada kesaksian yang mereka pertahankan. Banyak diantara mereka merupakan pribadi perorangan, banyak yang merupakan para hamba Tuhan, dan ada yang merupakan hakim dan pribadi-pribadi yang sangat terhormat. Dan ada sejumlah yang dianiaya dan dibunuh karena kesaksian tersebut di setiap masa.

Kemudian ia berbicara khusus tentang kaum Waldenses, dengan mengatakan:
Beberapa penulis kepausan sendiri mengakui bahwa orang-orang tersebut tidak pernah menyerah kepada gereja Roma. Salah satu penulis kepausan itu berbicara mengenai Waldenses, mengatakan kesesatan Waldenses merupakan kesesatan tertua di dunia. Diperkirakan bahwa orang-orang ini pertama kali pergi sendiri ke padang gurun ini, tempat rahasia diantara gunung-gunung untuk menyembunyikan diri dari kekerasan penganiayaan kaum fasik yang ada sebelum masa Constantine Agung.

Para sejarawan khusus Waldenses menyatakan asal-usul mereka sampai yang terjauh. Misalnya Mr. Faber menyatakan:
Bukti yang saya miliki sekarang mengemukakan bukti-bukti yang jelas, bukan saja bahwa kaum Waldenses dan Albigenses telah ada lebih dahulu daripada Peter dari Lyons; namun juga bahwa pada saat kemunculannya pada akhir abad keduabelas, mereka sudah dianggap sebagai dua kelompok yang sudah sangat tua. Karena itu selanjutnya, bahkan pada abad keduabelas dan ketigabelas, gereja-gereja Valdensis karena demikian tuanya, sehingga musuh-musuh yang mengawasinya sendiri tidak ingat lagi kapan mereka mulai ada. Orang-orang Roma yang paling tahu pada masa itu berpura-pura untuk tidak menegaskan kapan adanya organisasi tersebut. Mereka tidak mampu menetapkan sebuah waktu yang khusus kapan gereja-gereja yang agung tersebut ada. Apa yang pasti mereka ketahui adalah bahwa mereka telah berkibar sejak lama, bahwa mereka jauh lebih tua daripada sekte manapun, bahwa mereka dengan sepenuhnya nyata ada melampaui daya ingat manusia (Faber, The Vallenses and Albigenses).

Sir Samuel Moreland berkata bahwa selang waktu antara Claudius dari Turin dan Waldo “tidak akan lagi menghalangi suksesi gereja-gereja yang berkesinambungan itu kecuali hanya seperti matahari atau bulan yang terhalang pada saat sinar mereka tergerhana oleh posisi yang saling menutupi, atau hanya sekedar seperti sungai Rhone atau Garonne kehilangan arus mereka karena kadang-kadang mereka terkubur dan tidak tampak” (Acland, The Glorious Recovery of the Vaudois, xxxvi).

Banyak halaman akan dihabiskan untuk menggambarkan karakter yang tulus dari Waldenses, tetapi hanya sedikit ruang yang akan digunakan untuk beberapa pernyataan dari musuh-musuh mereka. Untuk tujuan tersebut, kesaksian Claudius Seisselius, Uskup Agung Turin menarik. Ia mengatakan: “Bidat mereka merupakan pengecualian, mereka secara umum hidup lebih murni daripada orang-orang Kristen yang lain. Mereka tidak pernah bersumpah kecuali jika dipaksa [sebuah karakter Anabaptis] dan jarang menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Mereka memenuhi janji dengan tepat waktu; dan hidup kekurangan materi hampir dalam segala sisi; mereka menyatakan iman untuk taat pada doktrin dan kehidupan yang rasuli. Mereka juga mengaku bahwa adalah keinginan mereka untuk menanggulangi segala hal hanya berdasarkan kesederhanaan iman, dengan kemurnian kesadaran, dan integritas hidup; bukan berdasarkan filosofi yang menyenangkan dan theologi yang rumit”. Dengan sangat terus terang ia mengakui: “Kehidupan dan moral mereka sempurna, tak tercela dan tiada kesalahan di hadapan manusia, serta menenggelamkan diri dengan sungguh-sungguh taat kepada perintah Tuhan” (Perin, Hist. des Vaudois, I, V, Geneva, 1618).

Pada masa penganiayaan terhadap kaum Waldenses dari Merindol dan Provence, seorang biarawan tertentu ditugaskan oleh Uskup dari Cavaillon untuk menyelenggarakan sebuah konferensi dengan mereka, sehingga mereka bisa diyakinkan kesalahan-kesalahan mereka, dan pertumpahan darah dapat dicegah. Tetapi sang biarawan kembali dengan kebingungan, karena mendapatkan bahwa seumur hidup ia belum pernah mengetahui demikian banyak ayat-ayat Alkitab seperti yang dipelajarinya dalam beberapa hari, sehingga ia berbalik memihak kepada para bidat tersebut. Namun sang Uskup mengirim sejumlah doktor, dan anak muda yang belakangan datang dari Sorbonne, yang pada masa itu merupakan pusat theologi yang rumit di Paris. Salah satu hal yang diakui secara umum adalah bahwa ia lebih memahami doktrin keselamatan dari jawaban anak-anak kecil didalam katekismus daripada yang diperoleh dari semua perselisihan yang telah didengarnya (Vecembecius, Oratio de Waldensibus et Albigensibus Christianis, 4).

Setelah menggambarkan para penghuni lembah-lembah Fraissiniere tersebut, ia melanjutkan:
Pakaian mereka dari kulit kambing – mereka tidak punya kain linen. Mereka tinggal di tujuh lembah, rumah mereka dibangun dari batu api dengan atap rata yang ditutup dengan tanah lempung, yang jika tertimpa hujan meleleh atau terlepas, sehingga harus diratakan kembali dengan sebuah gilingan. Didalam rumah tersebut, mereka tinggal bersama dengan ternak mereka, terpisah hanya oleh sebuah pagar. Mereka juga memiliki dua goa yang terpisah untuk tujuan tersendiri, dimana yang satu digunakan untuk menyembunyikan ternak mereka, sedangkan satunya lagi adalah untuk dipakai sendiri jika diburu oleh musuh-musuh mereka. Mereka hidup dari susu dan daging rusa, yang melalui kebiasaan yang konstan, mereka menjadi pemburu yang handal. Meskipun hidup susah, mereka senang, dan hidup mengasingkan diri dari manusia lainnya. Salah satu hal yang sungguh luar biasa adalah bahwa orang-orang yang dari luarnya kelihatan liar dan kasar, ternyata memiliki moral yang demikian kuat tertanam. Mereka cukup memahami bahasa Perancis sehingga dapat mengerti Alkitab dan menyanyikan Mazmur. Jarang sekali ditemukan seorang anak kecil diantara mereka yang tidak dapat menyampaikan nilai kecerdasan iman yang mereka miliki. Dalam hal ini memang mereka mirip dengan saudara-saudara mereka di lembah-lembah yang lain. Mereka membayar upeti dengan penuh kesadaran, dan kewajiban-kewajiban tugasnya secara khusus tercatat didalam pengakuan iman mereka. Jika terjadi perang saudara, mereka keberatan untuk mengikutinya, dengan hati-hati mereka menyisihkan sebuah jumlah, dan pada kesempatan pertama mereka akan mengirimkannya kepada para pemungut pajak raja (Thaunus, Hist.sui temporis, VI, 16).

Prinsip istimewa yang pertama dari kaum Waldenses terletak pada perilaku keseharian mereka, dan diringkas didalam perkataan rasul: “Kita harus tunduk kepada Allah, bukan kepada manusia”. Hal ini diterjemahkan oleh Katolik Roma sebagai sebuah penolakan untuk tunduk kepada otoritas Paus dan para wali gereja. Semua serangan awal terhadap mereka berisikan tuduhan ini. Padahal ini merupakan sebuah penegasan positif alkitabiah untuk kemerdekaan beragama, dan berisi prinsip-prinsip kebebasan agama yang diakui oleh Anabaptis pada masa Reformasi.

Prinsip istimewa yang kedua adalah otoritas dan penggunaan Alkitab yang luas. Sekali lagi disini kaum Waldenses mendahului Reformasi. Alkitab adalah kitab yang hidup, dan diantara mereka ada yang hafal seluruh Alkitab diluar kepala.

Prinsip ketiga adalah pentingnya untuk mengajar (berkhotbah) dan hak dari orang awam untuk melaksanakan fungsi tersebut. Peter Waldo dan para sahabatnya adalah para pengkhotbah. Semua dokumen permulaan yang merujuk kepada praktek khotbah kaum Waldenses dituduh sebagai kesalahan yang paling berat, dan merupakan bukti pembangkangan dan arogansi (kesombongan). Alanus menyebut mereka sebagai pengkhotbah-pengkhotbah sesat. Innocent III menulis tentang kaum Waldenses dari Metz, dengan mengatakan bahwa hasrat mereka untuk memahami Alkitab merupakan hal yang terpuji, tetapi pertemuan mereka yang dilakukan secara rahasia adalah merampas kuasa fungsi berkhotbah dan merupakan hal yang jahat. Mereka berkhotbah di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah, serta kapan saja ada kesempatan didalam gereja.

Mereka menyatakan bahwa wanita berhak untuk mengajar seperti halnya dengan laki-laki, dan ketika perkataan Paulus yang menghendaki wanita untuk berdiam diri didalam pertemuan jemaat dikutip, mereka menjawab bahwa hal tersebut adalah berkenaan dengan masalah mengajar, bukan merujuk kepada masalah berkhotbah (di hadapan jemaat umum – penerjemah), dan mereka mengutip Titus 2: 3-4: “Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah ... cakap mengajarkan hal-hal yang baik, dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya”. Mereka menyatakan bahwa hal tersebut adalah anugerah rohani, atau upah, dan bukan perintah gereja yang memberikan hak untuk mengikat dan melepaskan (lihat Mat.16: 19). Mereka melanggar sistim keimamatan yang paling hakiki.

Untuk menegaskan prinsip-prinsip fundamental ini, kaum Waldenses berdasarkan Khotbah di Bukit, menolak untuk bersumpah, vonis hukuman mati, dan purgatory serta doa untuk orang yang sudah mati. Kaum Waldenses menyatakan bahwa hanya ada dua jalan setelah mati, jalan ke surga dan jalan ke neraka (Schaff, History of the Christian Church, V, Pt. I, 502-504).
Gerakan Waldenses menyentuh banyak orang selama berabad-abad dan menarik orang untuk bertobat dengan berbagai sumber. Banyak orang Katolik Roma dimenangkan dan diantara mereka pasti ada juga yang membawa kesalahan beserta mereka. Selanjutnya, istilah Waldenses adalah umum, didalamnya pasti terdapat beberapa orang yang jatuh didalam kesalahan yang terlupakan. Nama tersebut mencakup orang-orang yang hidup di tempat-tempat luas yang terpisah dan terdiri dari berbagai adat-istiadat serta kemungkinan adanya doktrin yang lain. Pernah diselenggarakan sebuah pertemuan antara Poor men of Lombardy dan kaum Waldenses. Kaum Waldenses Italia dan Perancis barangkali mempunyai asal-usul yang berbeda. Dan didalam pertemuan mereka mendapatkan bahwa ada beberapa perbedaan di antara mereka. Kemungkinan bahwa di antara kaum Waldenses Italia (demikian kita namakan) melaksanakan baptisan bayi (Dollinger, Sektengeschichte, II, 52). Tidak ada catatan bahwa Waldenses Perancis, atau lebih tepatnya kaum Waldenses saja, pernah melaksanakan baptisan bayi. Sejak tahun 1184 ada persatuan diantara Poor Men of Lyons, demikian nama yang diberikan kepada para pengikut Waldo tersebut, dan kaum Arnoldist yang menolak baptisan bayi.

Pengakuan iman Waldenses mengindikasikan bahwa mereka tidak melaksanakan baptisan bayi. Ada sebuah Pengakuan Iman yang diterbitkan oleh Perrin, Geneva, 1619; Sir Samuel Moreland, menempatkan tanggal tersebut sebagai tahun 1120 AD. (Moreland, History of the Churches of Piedmont, 30). Tanggal tersebut barangkali terlalu awal, namun dokumennya sendiri meyakinkan. Didalam pasal keduabelasnya berbunyi demikian:
Kami menganggap sakramen adalah simbol dari hal-hal yang kudus, atau lambang-lambang yang kelihatan dari berkat-berkat yang tidak kelihatan. Kami menghormatinya secara tepat dan bahkan perlu bagi setiap orang percaya untuk menggunakan simbol-simbol tersebut atau bentuk-bentuk yang kelihatan jika memungkinkan. Meskipun demikian, kami pertahankan bahwa orang-orang percaya diselamatkan bukan karena simbol-simbol tersebut, jika mereka tidak mempunyai tempat maupun kesempatan untuk melaksanakannya (Perrin, Histoirie des Vaudois, I, XII, 53).

Pada tahun 1544 untuk menghilangkan prasangka yang diadakan untuk menentang mereka dan untuk menyatakan kemurnian mereka, kaum Waldenses melayangkan sebuah surat kepada Raja Perancis, yaitu sebuah Pengakuan Iman. Dalam pasal ketujuh yang berbicara mengenai baptisan berbunyi sebagai berikut:
Kami percaya bahwa didalam ordinansi baptisan, air merupakan tanda luar yang kelihatan yang menyatakan kepada kita yang oleh karena kebajikan karya Allah yang tak kelihatan, didalam kita terjadi pembaharuan pikiran dan penghapusan aib anggota kita melalui (iman didalam) Yesus Kristus. Dan melalui ordinansi ini kami diterima kedalam jemaat kudus anak-anak Allah, dengan didahului pengakuan iman dan perubahan hidup kami (Sleiden, The General History of the Reformation, 347, London, 1689).

Tulisan lain mengenai Waldenses juga tidak menyampaikan gagasan mengenai baptisan bayi. Saat itu muncul “Sesajen yang berhubungan dengan Antikris, Purgatory, Doa kepada Santo-Santa, dan Sakramen” yang diciptakan oleh Uskup Hurd pada abad ketigabelas. Ada sebuah bagian yang mengutuk Antikris ini karena “ia mengajarkan untuk membaptis anak didalam iman, dan menghubungkan hal tersebut dengan kelahiran baru, dengan ritual eksternal baptisan dan berdasarkan itulah perintah dilimpahkan, dan memang hal itu merupakan dasar Kekristenan” (Moreland, Churches of Piedmont, 148).

Sebuah katekismus (tanya-jawab theologi) berasal dari kaum Waldenses abad ketigabelas tidak mengisyaratkan baptisan bayi. Katekismus tersebut mengatakan bahwa gereja yang katolik, yaitu yang dipilih oleh Allah melalui karya Kristus, dikumpulkan bersama oleh Roh Kudus dan ditentukan untuk hidup kekal (Gilly, Waldensian Researches, I, lxxii, London, 1825), tidak berisi tentang baptisan bayi. Noble Lessons mengatakan: “Baptiskanlah orang yang percaya didalam nama Yesus Kristus” (Moreland, Churches of Piedmont, 112).

Ada sebuah Liturgi yang sudah sangat kuno yang digunakan oleh kaum Waldenses. Tatacara tersebut tidak berisi Petunjuk baptisan kanak-kanak. Robinson memberikan komentar, bahwa liturgi itu tidak menyebut masalah itu:
Tidak ada isyarat (tanda) mengenai cara curah/tuang atau percik; sebaliknya ada petunjuk untuk membuat seseorang penyembah berhala menjadi Kristen sebelum dibaptis, dan kemudian dilakukan pembasuhan kaki. Jadi petunjuk tersebut berbicara mengenai penilik yang menyampaikan pengakuan iman, sebagai berikut: “Saudara-saudara kekasih, sakramen illahi sebenarnya bukan masalah yang harus diteliti, seperti halnya iman, dan bukan saja iman, namun juga rasa takut, karena tak seorangpun dapat menerima pengajaran iman, kecuali ia memiliki dasar, yaitu takut akan Tuhan ...Kalian akan mendengar pengakuan iman, oleh karena itulah pada hari ini, karena tanpa hal tersebut, Kristus tidak akan bisa dinyatakan, atau engkau tidak akan bisa menyatakan iman, ataupun pembaptisan dilaksanakan.” Setelah sang penilik mengulangi pengakuan iman, ia menguraikannya secara terperinci dengan merujuk kepada tiga kali penyelaman, dan menutupnya dengan pengulangan ibadah mengenai pentingnya kemutlakan iman agar layak mengambil bagian didalam baptisan (Robinson, Ecclesiatical Researches, 473-474).

Katolik Roma segera berhadapan dengan kaum Waldenses mengenai masalah baptisan. Sidang Lateran, 1215 AD. dengan menunjuk kepada Waldenses, menyatakan bahwa baptisan “didalam air” berguna bagi “baik kanak-kanak maupun orang dewasa” (Maitland, Facts and Documents, 499). Banyak sekali penulis Katolik Roma yang berpendapat demikian. Salah satunya mengatakan: “Saya memberikan perhatian yang besar terhadap kesalahan dan pembelaan mereka”. Beberapa penulis tersebut dikutip dibawah ini.

Enervinus dari Cologne menulis sepucuk surat kepada St. Bernard mengenai Waldenses dengan mengatakan:
Mereka tidak percaya dengan baptisan bayi; menuduh dengan tanpa bukti bahwa kedudukannya di dalam Injil adalah, “Barangsiapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Mabillon, Vetera Analecta, III, 473).

Petrus Clugniacensis, 1146 AD. menentang mereka didalam tulisan dan menyampaikan tuduhan berikut:
Bahwa bayi-bayi tidak bisa dibaptis, atau diselamatkan oleh iman orang lain, namun mereka harus dibaptis dan diselamatkan oleh iman mereka sendiri ... Dan bahwa mereka yang dibaptis ketika masih bayi, ketika sudah dewasa, harus dibaptis kembali ... itu baru baptisan yang dilaksanakan dengan baik (Hist. Eccl. Madgeburg, abad XII, c.v., 834).

Eckbert dari Schonaugh mengatakan:
Bahwa baptisan tidak ada gunanya bagi bayi, karena bukan ungkapan kemauannya sendiri, dan karena mereka tidak bisa menyatakan iman apapun (Migne, CXCV, 15).

Pictavius, 1167 AD. mengatakan:
Bahwa dengan mengaku Tuhan di mulut, mereka sebenarnya telah membatalkan segala sakramen Gereja – misalnya, baptisan kanak-kanak, ekaristi, tanda salib yang hidup, pembayaran persepuluhan dan iuran, perkawinan, lembaga-lembaga yang berhubungan dengan biara, dan segala kewajiban imamat dan kerohaniawan (D’Archery, Veterum aliquot Scriptorum Spicilegium, II).

Ermengard, 1192 AD. mengatakan:
Mereka berpura-pura bahwa sakramen ini tidak bisa diberikan kecuali kepada mereka yang memintanya dengan ucapan sendiri, karena itu mereka menyimpulkan kesalahan yang lain, bahwa baptisan tidak ada gunanya bagi bayi yang menerimanya (Migne, CCIV, 1255).

Alanus, seorang rahib dari ordo Cistercian, yang merupakan penulis banyak buku dan karena pembelajaran dan kemampuannya, ia diberi gelar Universalis. Ia meninggal pada tahun 1201. Ia berkata bahwa kaum Waldenses mengajarkan:
Baptisan tidak memberikan manfaat sebelum mencapai usia akil-balik. Bayi-bayi tidak mendapatkan apa-apa darinya, karena mereka belum bisa percaya. Karena itu calon yang akan dibaptis biasanya ditanya apakah ia percaya didalam Allah, Bapa Yang Maha Kuasa. Baptisan tidak berguna bagi orang yang tidak percaya, demikian juga sama hal terhadap seorang bayi. Mengapa mereka yang belum bisa diajar harus dibaptis ? (Migne, CCX, 346).

Stephen de Borbone merupakan seorang rahib dari ordo Dominican. Ia meninggal kira-kira tahun 1261, namun kemungkinan menulis sebuah catatan yang dikutip dibawah ini kira-kira pada tahun 1225. Naskah bukunya terdapat di Perpustakaan Sorbonne dan hanya sebagiannya saja dicetak. Ia mengatakan:
Salah satu argumentasi dari kesalahan mereka adalah bahwa baptisan tidak berguna bagi keselamatan anak-anak kecil, yang tidak memiliki motif maupun perbuatan imannya, seperti yang dikatakan di bagian terakhir Injil Markus (Dieckhoff, Die Waldenser im Mittelalter, 160).

Moneta, seorang rahib Dominican, yang menulis sebelum tahun 1240 AD. mengatakan:
Mereka mempertahankan kenihilan baptisan bayi, dan menegaskan bahwa tidak seorangpun diselamatkan sebelum mencapai usia pemahaman.

Rainerio Sacchoni, 1250 AD., menerbitkan sebuah katalog kesalahan Waldenses. Ia mengatakan:
Diantara mereka ada yang mempertahankan bahwa baptisan bukan diperuntukkan bagi bayi, karena mereka belum bisa percaya (Coussard, contra Waldenses, 126).

Salah satu Inquisitor Austria, 1260 AD., mengatakan:
Mengenai baptisan, ada yang salah mengatakan bahwa anak-anak kecil tidak diselamatkan oleh baptisan, karena Tuhan berkata, barangsiapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan. Mereka ada yang dibaptis kembali (Preger, Beitrage zur Geschichte der Waldesier).

David dari Augsburg, 1256-1272 AD. mengatakan:
Mereka mengatakan bahwa seseorang kemudian dibenarkan ketika pertama kali dibaptis, jika ia dibawa masuk kedalam bidat ini. Tetapi ada yang mengatakan bahwa baptisan tidak berguna bagi anak-anak kecil, karena mereka sebenarnya belum bisa percaya (Preger, Der Tractat des David von Augsburg die Waldesier).

Jalur yang lebih berpengaruh dari kesaksian masa itu jarang sekali ditemukan. “Hampir tidak ada gunanya untuk menjelaskan kesepakatan yang menyolok diantara pengajaran Waldenses tersebut dan Anabaptis abad keenambelas,” kata Profesor Vedder. Kesaksian tersebut secara mutlak mengatakan bahwa kaum Waldenses menolak baptisan bayi” (American Journal of Theology, IV, 448). Jika kaum Waldenses bukan kaum Baptis, maka tidak ada lagi bukti sejarah apapun.

Sama jelasnya bahwa bentuk baptisan adalah selam. Hal tersebut pada suatu masa merupakan praktek dari seluruh kalangan Kristen. Para penulis besar Katolik Roma menegaskan bahwa selam merupakan bentuk yang tepat dari baptisan. Peter orang Lombard yang meninggal pada 1164 AD. dengan tanpa batasan menyatakan hal tersebut sebagai pelaksanaan baptisan yang tepat (Migne, CXXII, 335). Thomas Aquinas merujuk cara selam sebagai praktek yang umum pada masanya, dan lebih menyukainya sebagai cara yang lebih aman, demikian juga dengan Bonaventura dan Duns Scotus. Mereka adalah doktor-doktor Gereja Katolik Roma yang terkenal pada abad Pertengahan. Mezeray, sejarawan Perancis membenarkan bentuk baptisan ketika mengatakan: “Dalam baptisan abad keduabelas, mereka mencelupkan si kandidat kedalam bak yang kudus untuk menunjukkan kesaksian yang terjadi didalam sakramen tersebut terhadap jiwa” (Mezeray, Historie de France, 288). Dan para penulis yang sezaman, Eberhard dan Ermengard didalam karya mereka “contra Waldenses”, menulis di penghujung abad keduabelas, berulang kali merujuk kepada selam sebagai bentuk baptisan kaum Waldenses (Lihat Gretscher, contra Waldenses, Didalam Trias Scriptorum contra Waldenses, Ingoldstadt, 1614; juga didalam Max. Bibl. Patr. XXIV, dan akhirnya didalam Gretscher’s Works, XII). Wall juga menandai orang-orang tersebut: “Oleh karena Perancis merupakan negeri pertama didalam Kekristenan yang tidak menyetujui baptisan anak-anak, maka mulailah antipaedobaptism yang pertama” (Wall, The History of Infant Baptism, I, 480). Mereka menolak baptisan bayi dan mempraktekkan celup (selam).

Mabillon, sejarawan besar Katolik Roma, memberikan sebuah catatan mengenai sebuah penyelaman, yang saat itu sering dilaksanakan oleh Paus sendiri, yang terjadi di Gereja St. John the Evangelist. Dikatakan bahwa Paus memberkati air dan
Kemudian sementara semua orang menempati tempatnya masing-masing, Yang Mulia mengundurkan diri ke ruang tengah St. John the Evangelist, disertai oleh beberapa putera altar yang melepaskan jubahnya dan mengenakan celana berlapis lilin dan baju jubah dan kemudian kembali ke tempat pembaptisan. Disitu telah menunggu anak-anak – sejumlah yang biasanya akan dibaptis oleh Paus.

Setelah Paus menanyakan pertanyaan yang biasa, ia menyelamkan tiga kali dan keluar dari tempat pembaptisan, hadirin melemparkan sebuah mantel ke baju jubahnya, dan ia kembali“ (Mabillon, Annales ordinis sancti Benedicti, I, 43). Bahkan para Paus di masa-masa tersebut mempraktekkan baptisan selam.

Setiap lembaga mengalami perubahan setelah perkembangannya surut. Pada masa senja Reformasi, segala sesuatu menjadi surut – iman, hidup, dan terang. Demikian juga dengan kaum Waldenses. Penganiayaan telah mengurangi jumlah dan menghancurkan semangat mereka dan pimpinan yang tinggal sedikit terpencar, kebingungan oleh kebangkitan kemenangan Reformasi. Sebagian besar telah pergi bersama gerakan Anabaptis. Karena hati yang sakit dan lelah, maka pada tahun 1530 sisa-sisa kaum Waldenses membuka negosiasi dengan kaum Reformer, tetapi persatuan tidak pernah tercapai sampai 1532. Sejak saat itu kaum Waldenses telah menjadi Pedobaptis.>

Buku-buku untuk bacaan dan rujukan lebih lanjut:
Fisher, 204, 219, 272.
Schaff, V, Pt., i, 469, 473-507.
Gieseler, III, 411-421.
Emilio Comba, History of the Waldenses of Italy.
Readmore...

Thursday, 22 January 2009

JEMAAT (GEREJA) ALBIGENSES, PETROBRUSIAN, HENRICIAN, ARNOLDIST DAN BERENGARIAN

Telah diindikasikan bahwa kaum Paulician berasal dari Armenia, melalui Thrace, kemudian menetap di Perancis dan Italia, dan menyebar serta memperoleh pengikut hampir di seluruh negeri Eropa. Asal usul kaum Albigensian (Albigenses) telah dilacak oleh para penulis dan dinyatakan berasal dari kaum Paulician (Encyclopaedia Britannica, I, 454, edisi ke-9). Para penulis terakhir meyakini bahwa kaum Albigenses telah menghuni lembah-lembah di Perancis sejak awal masa Kekristenan. Prof. Bury mengatakan bahwa “mereka tetap hidup di Perancis Selatan,” dan mereka bukan hanya sekedar sekelompok “Bogomilisme, namun mereka merupakan kelompok lokal purba yang bertahan.” Mr. Conybeare percaya bahwa mereka hidup sejak masa awal di Semenanjung Balkan, “yang kemungkinan besar merupakan basis Bogomilisme” (Bury, Editor Gibbon, History of Rome, VI, 563).

Penyebaran yang cepat terjadi di seluruh Perancis Selatan dan kota kecil Albi di distrik Albigeois yang merupakan pusat kelompok tersebut. Dari kota inilah mereka dikenal sebagai Albigenses. Di Italia kaum Albigenses terkenal dengan berbagai sebutan, seperti Paulician, “Orang yang Baik” dan lainnya. Sulit untuk menjelaskan asal-usul semua nama tersebut; namun diantaranya berasal dari fakta bahwa mereka dianggap kasar, buta huruf dan rendah pendidikannya; sementara sebutan-sebutan yang lain diberikan berdasarkan kemurnian dan kehidupan mereka yang wajar. Sungguh luar biasa bahwa penelitian yang mengungkap kaum Albigenses tidak menuduh mereka amoral, namun mereka dituduh berdasarkan spekulasi, atau atas dasar perilaku mereka yang saleh, yang dihitung oleh Katolik Roma sebagai ajaran sesat. Mereka berpegang bahwa gereja harus beranggotakan orang-orang yang baik; jemaat tidak punya wewenang untuk menyusun lembaga apapun; tidak boleh mengambil sumpah; tidak ada hak untuk membunuh manusia; seseorang tidak boleh diserahkan kepada pejabat untuk dipaksa bertobat; kepentingan kelompok adalah milik dari anggota kelompok itu sendiri; iman tanpa perbuatan tak akan menyelamatkan; gereja tidak boleh menganiaya siapapun, bahkan orang jahat sekalipun; hukum Musa tidak berlaku lagi terhadap orang Kristen; tidak lagi diperlukan imam, terutama imam-imam yang jahat; sakramen, perintah, dan upacara-upacara gereja Roma merupakan hal yang sia-sia, mahal, menekan, dan jahat. Mereka membaptis dengan cara selam dan menolak baptisan bayi (Jones, The History of the Christian Church, I, 287).

Jelas sekali mereka menolak keimamatan. “Disinilah kemudian,”kata Dr. Allix, “kita temukan sekumpulan orang di Italia, sebelum tahun 1026, yakni 500 ratus tahun sebelum Reformasi, yang mempunyai keyakinan yang bertentangan dengan Gereja Roma dan demikian mengutuk kesalahan mereka”. Atto, Uskup dari Vercelli telah mengadukan kelompok tersebut 80 tahun sebelumnya, begitu juga halnya dengan para pendahulu Atto yang dengan demikian kuat mengemukakan alasan yang meyakinkan bahwa mereka ada di Italia (Ibid, I, 288). Kaum Cathari sendiri membanggakan pertalian hubungan mereka yang sudah kuno tersebut (Bonacursus, Vitae haereticorum... Cathorum, ap. D’Archery, Scriptorum Spicilegiam, I, 208).

Dalam menelusuri sejarah dan doktrin kaum Albigenses jangan dilupakan bahwa dalam catatan penganiayaan, mereka hampir tidak meninggalkan jejak tulisan, pengakuan, pembelaan, atau pendapat mereka; dan pernyataan-pernyataan yang dituduhkan kepada mereka oleh para penulis Katolik Roma yang dinyatakan sebagai musuh mereka, sungguh sangat dilebih-lebihkan. Perkataan seorang sejarawan yang tidak menyetujui prinsip-prinsip mereka dapat dikutip disini. Ia mengatakan: Namun terbukti, bahwa mereka mendirikan cabang yang berasal dari arus besar sektarianisme dan bidat yang muncul jauh di Asia berasal dari hasil kontak Kekristenan dan agama-agama Timur, dan dengan menyeberangi Semenanjung Balkan, tiba di Eropa Barat. Luapan pertama dari sumber ini adalah kaum Manichaean, berikutnya adalah Paulician, kemudian Cathari, yang pada abad kesepuluh dan kesebelas sangat kuat di Bulgaria, Bosnia, dan Dalmatia. Mengenai kaum Cathari, Bogomil, Patoreni, Albigenses, dll. ... itu hanya merupakan perkembangan individual (C. Schmidt, Schaff-Herzog, I, 47).

Dengan kata lain, kelompok-kelompok tersebut berasal dari rumpun yang sama, dan hubungan ini lebih dikukuhkan karena faktor-faktor cemoohan yang diungkapkan didalam ucapan penulis tersebut.

Telah diindikasikan bahwa kaum Paulician bukanlah kaum Manichaean, demikian juga halnya dengan kaum Albigenses. Kaum Albigenses terhimpit karena sentimen ini, dimana tuduhan yang sama juga ditujukan terhadap kaum Waldenses. Tudingan ini harus disikapi dengan hati-hati, dan para penuduh tidak boleh buru-buru dipercaya. Gereja Katolik Roma sangat rajin mencari-cari alasan untuk menganiaya. Bahkan Lutherpun diumumkan oleh Sinode di Lens sebagai seorang Manichaean. Uskup Agung Ussher yang terkenal mengatakan bahwa tuduhan “Manichaean terhadap sekte Albigenses terbukti salah” ( Acland, The Glorious Recovery of the Vaudois, lxvii, London, 1857). Sulit untuk memahami kaum Albigenses dari sudut pandang filosofis. Mereka bukanlah suatu kelompok metafisikal. Apa yang mereka pertahankan bukanlah filosofi, namun iman dan praktek hidup sehari-hari yang dipuji di wilayah Perancis Selatan yang makmur.

Mereka meyakini adanya pembagian orang-orang percaya kedalam dua kelompok – yang sempurna dan yang tidak sempurna. Ini merupakan pengelompokan yang umum dari kaum Paulician, Waldenses dan Anabaptis. Catatan yang paling teliti diberikan dalam penahbisan seorang perfecti (yang sempurna) dengan pembaptisan satu kali ke dalam tubuh orang-orang yang percaya (Beausobre, Historie du Manichaeanism, II, 762-877).

Kaum Waldenses ditemukan juga di kota Albi dan mereka juga disebut sebagai Albigenses karena mereka tinggal di dalam kota tersebut (Martin Schagen, The History of the Waldenses, 110). Gerakan tersebut berasal dari Italia dan kemudian meluas ke Perancis Selatan; dan lahan itu telah dipersiapkan dengan baik untuk benih tersebut. Negeri tersebut merupakan bagian Perancis yang paling ramai penduduknya, kaya, maju, dan independen; penduduknya periang, intelek, dan progresif; sementara Gereja Katolik Roma sudah tumpul, bodoh dan kejam; imam-imamnya tidak dapat dibedakan selain karena ketahyulan, kebodohan, kesewenang-wenangan, kekejaman dan keburukannya. Dalam keadaan demikian gagasan untuk kembali kepada kemurnian dan kesederhanaan masa kerasulan berhasil menarik perhatian masyarakat. Tuntutan moral yang keras dari kaum Albigenses membawa pengaruh yang sangat besar, karena contoh-contoh yang mereka lakukan sesuai dengan apa yang mereka katakan. Mereka hidup dengan prinsip yang dimeteraikan dengan kemurnian hidup yang keras dan diketahui serta didukung oleh semua golongan. Tidaklah heran jika masyarakat meninggalkan para imam Katolik Roma dan berkumpul di dalam Boni Homines. Dalam waktu singkat kaum Albigenses telah memiliki jemaat dan kelompok serta lembaga-lembaga sosial sendiri. Gereja Katolik Roma menjadi sebuah bahan cemoohan (Schaff-Herzog, I, 47).

Keadaan ini sangat mengkhawatirkan dan menjengkelkan Paus. Pada tahun 1139 mereka dikutuk oleh Sidang Lateran, demikian juga dalam Sidang di Tours pada tahun 1163, dan misi demi misi dikirim untuk membujuk mereka kembali kepada Gereja Katolik Roma. Kardinal Henry pada tahun 1180 menggunakan kekuatan. Paus Innocent III mengumumkan perang terhadap mereka. Sejarawan Hume mengatakan: Masyarakat seluruh Eropa karena tergerak oleh ketahyulan dan napsu mereka untuk berperang dan berpetualang, berduyun-duyun datang ke panjinya. Simon de Monfort, jenderal dalam perang itu, secara sepihak menyatakan diri berkuasa atas propinsi-propinsi tersebut. Count of Toulouse (Bangsawan Toulouse), yang melindungi, atau barangkali hanya memberi toleransi kepada kaum Albigenses, dilucuti daerah kekuasaannya. Dan anggota-anggota kelompok itu sendiri, meskipun merupakan manusia yang paling tidak mengganggu dan tidak bersalah, dimusnahkan dengan perlakuan yang sangat kejam dan sadis (Hume, History of England, II, bab XI).

Dalam peperangan yang kedua, kota pertama yang ditawan adalah Braziers yang memiliki kira-kira empatpuluh ribu penduduk. Ketika Simon de Monfort, Earl of Leicester bertanya kepada Abbot (Kepala Biara Laki-laki) dari Ceteaux, wakil kepausan, apa yang harus dilakukan dengan para penduduk itu, wakil tersebut mengatakan: “Bunuh mereka semua. Tuhan mengenal kepunyaanNya sendiri”. Dengan pola demikianlah perang tersebut berlangsung selama duapuluh tahun. Kota demi kota ditawan, dijarah, dan dibakar. Tidak ada yang tertinggal selain sisa-sisa kebakaran. Kefanatikan agama memicu perang tersebut; napsu keserakahan dan diakhiri oleh ambisi. Perdamaian ditandatangani pada tahun 1229, dan Inquisition (pengadilan Gereja Katolik Roma yang menghakimi orang-orang yang menentang otoritas mereka) mengakhiri peperangan maut itu.

Banyak sekali bukti yang menyatakan bahwa kaum Albigenses menolak baptisan bayi. Pada tahun 1119 AD. mereka divonis oleh Sidang yang diselenggarakan di Toulouse karena masalah ini (Maitland, Facts and Documents Illustrative of the Albigenses, 90, London, 1832), dan Sidang di Albi pada tahun 1165 (Allix, The Ecclesiastical History of Piedmont, 150). Para sejarawan menegaskan bahwa mereka memang menolak baptisan bayi. Chassanion mengatakan: “Saya tidak dapat membantah bahwa kaum Albigenses menempati posisi yang lebih besar dalam menentang baptisan bayi; sebenarnya mereka bukan menolak sakramen tersebut sebagai hal yang tidak ada gunanya, tetapi hanya menyatakan tidak perlu bagi bayi” (Chassanion, Historie des Albigeois, Jenewa, 1595). Dr. Daniel Comba dari Waldensian Theological College (Sekolah Theologi Waldenses), Florence, Italia, sejarawan Waldenses yang terakhir, berkata bahwa kaum Albigenses menolak “semua sakramen kecuali baptisan yang diperuntukkan kepada orang-orang percaya” (Comba, History of the Waldenses, 17, London, 1889).

Kisah tersebut merupakan hal yang menyedihkan. Kata Everwin dari Steinfeld, “Kami hidup dalam kehidupan yang sulit dan luntang-lantung. Kami melarikan diri dari satu kota ke kota yang lain bagai domba ditengah-tengah serigala. Kami menderita penganiayaan seperti para rasul dan para martir karena hidup kami yang kudus dan cermat. Hal tersebut terjadi ditengah-tengah pergumulan doa, menahan napsu, dan beban, namun segala-galanya menjadi mudah bagi kami karena kami bukan berasal dari dunia ini (Schmidt, Hist. et. doct. de la secte des Cathares, II, 94). Dr. Lea, seorang ahli terkemuka tentang Inquisition, mengatakan bahwa tidak ada satu agamapun yang dapat menunjukkan catatan korban yang tiada putusnya dan yang tidak gentar menantang kematian dalam bentuk yang paling mengerikan daripada menjadi murtad, kecuali kaum Cathari.

Peter dari Bruys, seorang pengkhotbah Baptis yang terkenal pada masa itu, kira-kira pada tahun 1100 mencari sebuah pemulihan agama yang benar di Languedoc dan Provence, Perancis. Ia menganggap bahwa Injil harus dipahami secara literal dan ia menekankan persyaratan Alkitab dan bukan berdasarkan tradisi dari mereka yang berusaha menolaknya. Ia merupakan murid dari Abelard yang terkenal. Dollinger mengira ia mempelajari doktrinnya dari kaum Cathari dan menyajikan banyak dasar untuk mempertahankan pendapatnya. Yang lainnya mengira bahwa ia mensyaratkan keberadaan kehidupan alkitabiah tua yang hidup ratusan tahun sebelumnya di Italia dan Perancis Selatan. Kata Prof. Newman, “Banyak bukti tentang ketekunan di Italia Utara dan di Perancis Selatan, yang berasal dari masa mula-mula mengenai jenis-jenis Kekristenan yang alkitabiah” (Newman, Recent Researches Concerning Mediaeval Sects, 187).

Musuh utamanya adalah Peter Yang Agung, Kepala Biara Clugni, dan dari buku Peterlah (Contra Petrobrusianos, Patrologia Lat. CLXXXIX, 729) kita dapat menilai doktrin-doktrin Peter dari Bruys. Ia mempertahankan bahwa jemaat merupakan sebuah tubuh rohani yang terdiri dari pribadi-pribadi yang sudah lahir baru. “Jemaat Allah,” kata Peter dari Bruys, “bukan terdiri atas tumpukan banyak batu yang disatukan, tetapi persatuan orang-orang percaya yang berkumpul.” Ia mempertahankan bahwa orang tidak boleh dibaptis kecuali atas kesadaran dan berdasarkan keputusan mereka sendiri. Karena itulah ia menolak baptisan bayi dengan merujuk kepada Mat. 28: 19 dan Mrk. 16: 16. Ia menolak bahwa “anak-anak, sebelum mencapai usia pemahaman, dapat diselamatkan dengan baptisan Kristus [Pernyataan Katolik Roma mengenai keyakinannya], atau bahwa iman yang lain dapat membantu mereka yang tidak dapat menjalankan imannya karena, menurut mereka (kaum Petrobrusian), bukan iman orang lain, tetapi iman mereka sendirilah yang menyelamatkan, sesuai dengan Firman Tuhan. Mereka yang mau percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi mereka yang tidak percaya akan dihukum.” Lanjutnya, “Bayi, meskipun telah dibaptis oleh anda [Katolik Roma], oleh karena usia mereka yang belum bisa percaya, adalah belum diselamatkan [yaitu dengan baptisan], oleh karena itu tidak ada gunanya dan sia-sia mencelupkan mereka kedalam air, dimana mereka hanya membersihkan kotoran tubuh, namun tidak dapat membersihkan jiwa dari dosa. Namun kita menunggu waktu yang tepat, dan ketika seseorang dapat memahami dan percaya kepadanya, kita tidak (seperti yang kalian tuduhkan kepada kami), membaptis ulang dia yang belum pernah dapat digolongkan sudah dibaptis – sebagai telah dibersihkan dengan baptisan yang menyucikan dosa” [secara simbolik]. Dalam hal Perjamuan Tuhan, ia bukan saja menyangkal doktrin tentang transubstansiasi, tetapi ia juga menolak karakter sakramental dari upacara tersebut.

Karena kepopulerannya yang luas, ia sulit dibuang dari Languedoc. Ia kemudian tampil di keuskupan Narbonne dan Toulouse, dimana ia berkhotbah selama duapuluh lima tahun dengan sukses yang besar. Pada tahun 1126 ia ditangkap oleh yang berwewenang dan dibakar di St. Gilles. Ia memiliki sekelompok besar pengikut, yang setelah kematiannya disebut sebagai kaum Petrobrusian. Mereka mempertahankan pandangan tentang baptisan yang sama seperti dia. Deodwinus, Uskup dari Liege, menulis kepada Henry I dari Perancis, mengatakan tentang para pengikut Peter dari Bruys: “Mereka sedapat mungkin berusaha berbohong untuk menjatuhkan baptisan bayi” (Wall, The History of Infant Baptism, I, 478).

Dapat dilihat dari kutipan yang diberikan di atas bahwa Peter dari Bruys dan murid-muridnya membaptis ulang, oleh karena itu di mata musuh-musuhnya mereka adalah Anabaptis. Jacquest Benigne Bossuet, Uskup terhormat dari Meaux yang merupakan seorang Katolik Roma yang sangat kontroversial pada tahun 1704 mengeluhkan tentang para pengikut Calvin, bahwa mereka mencari garis penerus apostolik melalui kaum Waldenses. Ia mengatakan: “Kalian mengangkat Henry dan Peter dari Bruys sebagai pendahulu kalian, dan mereka dua-duanya seperti dikenal oleh semua orang, adalah Anabaptis”. Faber mengatakan: “Kaum Petrobrusian hanya merupakan sekelompok Anti-pedobaptis yang bukan menolak baptisan itu sendiri, namun yang dengan jelas menolak kegunaan baptisan bayi” (Faber, The Vallences and Albigenses, 174, London, 1838). J.A. Fabricius mengatakan: “Mereka adalah kaum Anabaptis pada masa itu” (Fabricius, Bibliographia, c.xi, 388).

Henry dari Lausanne, 1116-1148 AD. merupakan murid Peter dari Bruys, dan sangat berhasil didalam pekerjaan reformasinya, sehingga ia meninggalkan sejumlah besar pengikut yang disebut kaum Henrician. Ia digambarkan sebagai “seorang pribadi yang sangat bermartabat, matanya berbinar-binar, suaranya bergelegar, khotbahnya sangat menarik, dan penuh kuasa didalam Alkitab. ”Tidak pernah ada orang yang dikenal dengan hidup yang demikian keras, demikian agung kemanusiaan dan keberaniannya,” dan bahwa “dengan khotbahnya ia dengan mudah menggerakkan hati yang keras membatu menjadi menyesal.” Ia keluar dari Switzerland menuju ke Mans dan kota-kota Perancis lainnya. Begitu besar keberhasilannya sehingga semua jemaat meninggalkan gereja-gereja mereka dan bergabung dengannya. Ketika ia datang ke Toulouse pada tahun 1148, Paus Eugene III mengirim Bernard dari Clairvaux, si pemburu bidat yang hebat, ke kota tersebut untuk berkhotbah menentang Henry. Bernard menggambarkan pengaruh khotbah Henry dengan menyatakan bahwa jemaat-jemaat telah membelot, “jalan bagi anak-anak telah ditutup, anugerah baptisan telah menolak mereka, dan mereka terhalang untuk masuk surga; meskipun sang Juruselamat dengan kasih kebapakan memanggil mereka, dengan mengatakan, anak-anak kecil yang menderita, datanglah kepadaKu.” Henry terpaksa lari untuk menyelamatkan nyawanya. Dalam waktu yang singkat ia tertangkap di tempat pengasingannya, dan dibawa ke hadapan Sidang di Rheims, dihukum didalam penjara yang tertutup pada tahun 1148, dan tidak lama kemudian meninggal.

Seperti halnya dengan Peter dari Bruys, ia menolak baptisan bayi. Georgius Cassander yang dalam hal ini selaku Duke dari Cleves, menulis menentang Anabaptis dengan mengatakan Peter dari Bruys dan Henry dari Lausanne: “Pertama kali mereka secara terbuka mengutuk baptisan bayi, dan bersikeras menuntut bahwa baptisan hanya diperuntukkan kepada orang dewasa; mereka berdua mengajarkannya secara lisan dan sungguh-sungguh mempraktekkannya didalam pelaksanaan baptisan” (Cassander, De Baptismo infantium, Coloniae, 1545).

Arnold dari Brescia lahir pada permulaan abad keduabelas dan meninggal kira-kira tahun 1148 AD. Ia merupakan seorang murid dari Abelard di Paris, dan kembali ke negerinya dengan gagasan-gagasan yang mulia untuk reformasi di Italia. Dari satu negeri ke negeri yang lain ia ditekan oleh penganiayaan. Akhirnya ia kembali ke Roma dan memimpin sebuah perjuangan patriotik untuk kemerdekaan negeri tersebut dari Paus. Ia dipenjarakan, digantung, tubuhnya dibakar, dan abunya ditebarkan kedalam sungai Tiber.

Otto Freising, uskup Katolik Roma yang sezaman, mengatakan: “Bahwa pendapatnya mengenai sakramen altar dan baptisan bayi adalah tidak benar” (Freising, De Gentis Frid., II, c.20). Karena itulah ia dihukum oleh Sidang Lateran yang dipimpin oleh Paus Innocent II, 1139 AD. Dr. Comba berpendapat didalam catatannya: “ Bersama dengan kaum Albigenses, ia mengutuk tahyul yang disebutkan di atas, demikian juga mengenai keselamatan anak-anak yang ‘dibaptis’ dengan percikan” (Comba, History of the Waldenses, 16).

Arnold memiliki pengikut karena ia sangat populer di Lombardy. Selama ia tinggal di Roma, musuh-musuhnya mengatakan, “Ia mendirikan sebuah sekte yang masih disebut sebagai bidat dari Lombard” (Johannes Saresberensis, Historia Pontificalis, Lihat Breyer, Arnold von Brescia). Mereka mempunyai jumlah jemaat yang besar yang terdiri atas orang-orang yang mempunyai beban untuk membentuk keistimewaan yang begitu penting didalam pekerjaan kaum Waldenses dan Anabaptis.

Kaum Arnoldist, seperti halnya dengan pemimpinnya, menolak baptisan bayi. Mengenai orang-orang ini, Guillaume Durand, 1274 AD. berkata: “Kaum Arnoldist menegaskan bahwa manusia tidak mungkin menerima Roh Kudus melalui baptisan air, demikian juga dengan orang Samaria, kecuali jika mereka menerima penumpangan tangan” (Bull of Pope Lucius III, Hist. Pon., Prestz, 515).

Pada tahun 1184 kaum Arnoldist disebut sebagai kaum Albigenses, kemudian digolongkan sebagai kaum Waldenses. Deickhoff, salah satu penulis kaum Waldenses dari Jerman, membenarkan: “Ada hubungan antara kaum Waldenses dengan para pengikut Peter dari Bruys, Henry dari Lausanne dan Arnold dari Brescia, dan mereka akhirnya bersatu didalam satu tubuh kira-kira tahun 1130 karena mempertahankan pandangan yang sama” (Dieckhoff, Die Waldenser im Mittelalter, 167, 168, Gottingen, 1851). Ini merupakan pendapat umum dari yang berwewenang. M. Tocco tidak ragu untuk menegaskan bahwa “Orang-orang malang dari Lombardy (kaum Waldenses) berasal dari keturunan langsung kaum Arnoldist” (Tocco, L’Eresia nel medio Evo. Paris, 1884).

Berengarius, yang lahir di Tours dan meninggal di pulau dekat St. Cosme, dituduh menganut pandangan-pandangan Baptis. Ia merupakan sebuah contoh orang yang mengharapkan kemerdekaan rohani dan menentang Katolikisme Roma yang muncul ke permukaan sepanjang Abad Pertengahan. Pada tahun 1140 ia menjadi rektor sekolah-sekolah Cathedral di Tours, tetapi hengkangnya dari Romanisme menyebabkan ia divonis oleh banyak sidang sampai akhirnya ia menutup kariernya yang sulit didalam kesepian yang dalam. Pembelajarannya yang hebat, baik dari Bapak-bapak gereja maupun didalam literatur klasik beserta studi Alkitabnya yang mendalam, membawanya kepada kesimpulan bahwa doktrin transubstansiasi adalah salah dan orang perlu membedakan antara simbol dan masalah yang disimbolkan didalam Perjamuan Tuhan. Deodwinus, Uskup dari Liege, yang hidup sezaman, menyatakan bahwa ada sebuah laporan dari Perancis bahwa kaum Berengarian “menjatuhkan baptisan bayi”. Pandangan ini diterima oleh hampir semua sejarawan.>

Buku-buku untuk bacaan dan referensi lebih lanjut:
Fisher, 194, 188, 189, 209, 211, 424.
Schaff, V, Pt, i, 507-515, 483-486.
Gieseler, III, 51-53.
Readmore...

Monday, 19 January 2009

JEMAAT (GEREJA) PAULICIAN DAN BOGOMIL (BAB 4)

Disesalkan bahwa kebanyakan informasi yang berhubungan dengan Paulician berasal dari musuh-musuh mereka. Sumbernya ada dua. Sumber pertama berasal dari para penulis Yunani, Photius (Adv. Recentiores Manichaeans, Hamburg, 1772) dan Petros Sikeliotes (Historia Manichaeorum qui Pauliciani, Ingolstadt, 1604), yang telah lama dikenal dan digunakan oleh Gibbon sebagai persiapan bab ke-54 karya sejarahnya gemilang. Sejak itu tidak banyak yang bisa ditambahkan dari sumber tersebut. Catatan tersebut sangat merugikan, dan meskipun Gibbon mencurigai kebencian dan racun dari para penulis itu, dan begitu banyak fitnah yang dinyatakan dengan jelas oleh penulis-penulis itu, ia sempat disesatkan oleh informasi-informasi tersebut. Ia tidak memiliki kelengkapan informasi yang dibutuhkan untuk menggambarkan secara lengkap sejarah mereka.

Sumber informasi yang kedua mengenai Paulician berasal dari daerah asalnya, Armenia dan baru-baru ini disoroti dan diberi ilustrasi. Ada sebuah buku tua Paulician yang berjudul “Key of Truth” (Kunci Kebenaran), yang disebutkan oleh Gregory Magistos pada abad sebelas. Kebetulan Mr. Fred C. Conybeare, M.A., mantan Fellow (mahasiswa tingkat doktoral yang mendapat bea siswa) of University College, Oxford, sangat tertarik dengan masalah Armenia. Ia berada di negeri tersebut untuk yang kedua kalinya pada 1891 untuk mencari dokumen-dokumen yang menggambarkan sejarah Paulician. Ia menemukan sebuah salinan “Key of Truth” di perpustakaan Holy Synod di Edjmiatzin. Ia mendapat salinan itu pada 1893; dan teks dengan terjemahan bahasa Inggris dicetak oleh Mr. Conybeare pada 1898. Ia juga menyertakan teks tersebut dengan data penting yang diterima dari sejarah Armenia dan sumber-sumber lainnya. Dapat dikatakan hal tersebut bukan saja sebuah sumber yang baru, namun merupakan sebuah sumber informasi yang sangat penting. Lama sekali Paulician baru diizinkan untuk dinyatakan, dengan patokan hanya untuk mereka sendiri. Karena itulah, kita bisa merekonstruksikan kembali sejarah Paulician.

Gereja Paulician berasal dari masa apostolik (para rasul), dan ditanamkan di Armenia pada abad pertama. “Keyakinan tersebut pasti telah menyebar ke Mesopotamia dan Persia melalui Antiokhia dan Palmyra; dan wilayah-wilayah tersebut menjadi basis keyakinan itu sementara ia menyebar di pegunungan Taurus sekitar gunung Ararat. Ini merupakan bentuk Kekristenan awal yang sederhana. Gereja-gereja di pegunungan Taurus membentuk sebuah ceruk raksasa atau bendungan bundar dimana iman Paulician mula-mula mengalir dan tertampung dan dipertahankan selama berabad-abad, karena mereka merupakan suatu bendungan air yang berasal dari sumbernya selama berabad-abad” (Bury’s edition of Gibbon’s History, VI, 543). Pusat Kekristenan yang paling awal di Armenia adalah di Taron, yang merupakan basis dan pusat operasi yang tetap kaum Paulician.

Mereka menyatakan diri berasal dari para rasul. “The Key of Truth” mengatakan:
Marilah kita berserah dengan rendah hati pada jemaat kudus semesta, dan mengikuti pekerjaan mereka yang telah bersatu pikiran dan satu iman serta mengajar kita. Karena kita masih tetap percaya dengan waktu yang tepat satu-satunya rahasia Tuhan Yesus Kristus dan Bapa Surgawi yang kudus dan sangat berharga: -- untuk bersaksi, pada saat bertobat dan dengan iman. Seperti yang telah kami pelajari dari Tuhan semesta alam dan jemaat apostolik, maka kami melanjutkan: kami membangun didalam iman sempurna mereka yang (sampai nanti) belum memiliki baptisan kudus (Catatan pinggir, maksudnya didalam bahasa Latin, Yunani dan Armenia, orang yang belum dibaptis); tidak merasakan tubuh atau meminum darah yang kudus dari Tuhan kita Yesus Kristus. Karena itu menurut Firman Tuhan, pertama kita harus membawa mereka untuk percaya, membuat mereka bertobat, dan memberikannya (Catatan pinggir, Baptisan) kepada mereka (hal. 76-77).

Mengenai butir ini, Adeney mengatakan: “Karena itu, sungguh dapat dipertahankan bahwa mereka seharusnya dihormati sebagai wakil dari kelompok Kristen yang paling primitif yang bertahan hidup” (Adeney, The Greek and Eastern Churches, 217). Selanjutnya ia mengatakan: “Kaum Baptis Oriental purba merupakan orang-orang yang didalam banyak respek merupakan Protestan sebelum adanya Protestanisme” (Adeley, The Greek and Eastern Churches, 219).

Kaum Paulician tidak mengakui orang-orang dari kelompok lain sebagai jemaat. “Kami bukan bagian dari mereka,” kata mereka. “Mereka telah lama memutuskan hubungan dengan jemaat dan telah dikeluarkan.” Hal ini merupakan kesaksian dari Gregory Magistos, 1058 AD., yang karya sejarahnya merupakan salah satu sumber informasi utama.

Kita hanya dapat menyentuh sedikit peristiwa yang berhubungan dengan sejarah mereka. Kisah pertobatan Constantine, 660 AD. menarik. Anak muda Armenia ini menyembunyikan seorang diaken Kristen yang melarikan diri dari penganiayaan orang Islam. Sebagai balasan atas kebaikannya, ia menerima sebuah salinan Perjanjian Baru. “Kitab tersebut menjadi patokan bagi studinya dan pedoman bagi imannya; dan kaum Katolik yang berselisih dengan penafsirannya, mengakui bahwa teksnya asli dan jujur. Tetapi ia menambahkan secara khusus curahan isi hatinya kedalam tulisan tersebut dan tentang keanehan nama Paulus : dan nama Paulician berasal dari musuh-musuh mereka yang mengambil nama seseorang pemimpin yang tidak diketahui; tetapi aku yakin bahwa mereka merasa bangga dengan asal-usul mereka yang ditarik dari rasul orang-orang non-Yahudi (Rasul Paulus – penerjemah)” (Gibbon, The Decline and Fall of the Roman Empire, V, 386).

Constantine merasa bahwa ia dipanggil untuk mempertahankan dan memulihkan kembali Kekristenan yang mula-mula; karena merasa sangat terkesan dengan tulisan Paulus, ia mengambil nama salah seorang pengikutnya, Silvanus; dan gereja-gereja yang didirikannya menerima nama yang berasal dari jemaat yang mula-mula. Mereka semua dinamakan Paulician karena nama diambil dari sang rasul. Pernyataan-pernyataan kesederhanaan apostolik dari orang-orang Kristen yang taat tersebut bercerita banyak mengenai perilaku, kebiasaan, dan doktrin dibandingkan dengan buku-buku catatan yang penuh kecurigaan yang ditinggalkan oleh musuh-musuh mereka. Dengan Paulus sebagai penuntun, mereka tidak akan bergeser jauh dari kebenaran Perjanjian Baru.

Profesor Wellhausen didalam tulisan mengenai kehidupan Muhammad (Encyclopaedia Britannica, XVI, 571, edisi ke-9), memberikan sebuah catatan yang sangat menarik mengenai Baptis gurun pasir Syria-Babylonia. Ia mengatakan mereka disebut Sabian, Baptis, dan bahwa mereka melaksanakan bentuk-bentuk Kekristenan yang mula-mula. Memang, “Sabian” merupakan sebuah kata Arab yang berarti “Baptis”. Mereka sungguh-sungguh dipenuhi dengan anggota dari Syria, Palestina, dan Babylonia (Renan, Life of Jesus, bab XII). Mereka tidak tercatat didalam jalur perkembangan Kristen yang utama, dan tak tersentuh serta ketinggalan didalam kesederhanaan yang mula-mula. Muhammad banyak mengambil contoh luarnya dari mereka. Nilai ini tidak boleh diremehkan. “Hampir tidak dapat disangkal,” lanjut Prof. Wellhausen, “bahwa saksi-saksi Injil tanpa nama tersebut, yang tidak disebutkan didalam sejarah gereja, menaburkan benih yang menerjang kuman Islam.” Orang-orang Kristen tersebut adalah kaum Paulician.

Catatan sejarah yang minim ini membuktikan fakta bahwa sampai kini hal tersebut sulit untuk dimengerti. Para kaisar telah memutuskan untuk mengusir kaum Paulician dari wilayah kekuasaan mereka. Mereka mengungsi ke “daerah kekuasaan Islam pada umumnya, dimana mereka mendapat toleransi dan keyakinan mereka tetap dianggap orthodoks”. Hal ini kita dapatkan dari sang Filsuf John. Orang Arab sejak tahun 650 berhasil menolak pengaruh Roma di Armenia. Perlindungan yang sama, barangkali, memelihara gereja Paulician selama berabad-abad. Sudah jelas bahwa kaum Paulician merupakan kelompok benar dihadapan orang Arab, dan bahwa orang Islam tidak membiarkan mereka dianiaya pada masa pencobaan.

Jumlah kaum Paulician bertambah terus, dan segera menarik perhatian musuh-musuh mereka. Pada tahun 690 pemimpin mereka, Constantine, dirajam sampai mati atas perintah kaisar; dan penerus Constantine dibakar hidup-hidup. Kaisar wanita Theodora melakukan penganiayaan dimana disebutkan seratus ribu Paulician di Grecian Armenia meninggal.

Kaum Paulician pada abad kesembilan memberontak terhadap musuh-musuh mereka, mengusir Michael III, dan mendirikan negara merdeka Teprice di Armenia. Wilayah ini merupakan sebuah tempat yang terkenal kira-kira 70 mil dari Sivas, di pinggir sungai Chalta. Mereka memberikan kebebasan berpendapat yang absolut kepada semua penduduknya (Evans, Historical View of Bosnia, 30). Dari ibukota negara merdeka ini, yang menyebut dirinya Teprice, berangkat sejumlah misionari untuk memenangkan suku-suku Slavonic dari Bulgaria, Bosnia, dan Serbia kedalam keyakinan kaum Paulician. Perihal ini ditegaskan oleh Sikeliotes. Keberhasilan mereka sangat besar – saking besarnya keberhasilan tersebut, sehingga sebagian besar penduduk negara merdeka itu bermigrasi ke negara-negara yang kemudian merdeka di luar kekuasaan kaisar. Negara Teprice berlangsung 150 tahun sampai ditaklukkan oleh kaum Saracens. Yang ada disekeliling mereka hanya penganiayaan, dan untuk diketahui – mereka sendiri kehilangan seratus ribu anggota karena penganiayaan pada masa pemerintahan Theodora – namun tetap saja diberikan perlindungan bagi semua kepercayaan maupun orang yang tidak percaya. Ini merupakan kekhasan Baptis yang menyolok.

Kaum Baptis selalu menyerukan kebebasan agama jika memiliki kesempatan. Conybeare ketika membahas Paulician, dengan jujur mengatakan:
Dan harus dicatat satu hal yang menguntungkan mereka, yakni Sistim mereka, seperti milik Kaum Cathari Eropa, ada didalam ide dasar dan konsep mereka yang bertentangan dengan penganiayaan; untuk menjadi anggota maka tergantung kepada baptisannya, yang dilakukan dengan sukarela, bahkan dengan tangis dan permohonan oleh orang dewasa yang setia dan yang sudah bertobat. Didalam jemaat demikian tidak boleh ada pemaksaan terhadap orang-orang yang tidak bersedia. Sebaliknya, alasan pokok calon yang akan dibaptis harus diteliti dengan seksama untuk memastikan bahwa hati dan pikirannya telah dimenangkan, dan hal ini semata-mata untuk menjaga apakah sesuai dengan tampak luarnya agar tidak terpedaya oleh penganiaya. Baptisan bayi merupakan salah satu akibat yang terburuk, karena dengan menciptakan keanggotaan jemaat Kristen seperti mesin dan hanya dari segi luarnya, maka baptisan menjadi murahan; sehingga meratakan jalan bagi para penganiaya (Conybeare, The Key of Truth, xii).

Pada tahun 970 Kaisar John Tzimisces memindahkan sekelompok Paulician ke Thrace dan menjamin kebebasan beragama mereka; dan hal tersebut dicatat sebagai penghargaan kepada mereka, namun sebenarnya hal tersebut adalah untuk kepentingan kaisar. Pada permulaan abad keenambelas doktrin mereka diperkenalkan dan menyebar ke seluruh Eropa, dan pengajaran-pengajaran mereka dengan cepat tertanam kuat ke negeri-negeri asing.

Di negeri Albigenses, di propinsi Selatan Perancis, Kaum Paulician berakar dengan sangat dalam, dan dari sinilah mereka melanjutkan surat-menyurat dengan saudara-saudara mereka di Armenia. Iman kepercayaan kaum Paulician “bertahan di Languedoc dan sepanjang sungai Rhine larut sebagai Kekristenan Cathar, dan barangkali juga diantara kaum Waldenses. Pada masa Reformasi, Catharisme tersebut muncul sekali lagi ke permukaan, khususnya diantara mereka yang disebut dengan Anabaptis dan Orang Kristen Unitarian, yang merupakan jemaat yang paling primitif. “The Key of Truth” dan kitab Ritual Cathar di Lyon memberikan kita dua jaringan penghubung yang besar” (Key of Truth, x).

Mereka dianiaya oleh para paus; dan segala bahan pustaka dan sumber lain yang berhubungan dengan mereka sedapat mungkin dimusnahkan. “Kumpulan-kumpulan Paulician, Albigenses yang mempunyai visi, dimusnahkan dengan api dan pedang; dan sisa-sisa yang terluka meloloskan diri dengan melawan, bersembunyi, atau menyesuaikan diri kepada Katolik. Didalam negara, didalam gereja, dan bahkan didalam biara, suksesi tersembunyi dipelihara oleh murid-murid rasul Paulus tersebut; yang memprotes tirani Roma dan memegang Alkitab sebagai ketentuan iman, serta memurnikan pengakuan iman mereka dari segala pandangan theologi Gnostik” (Gibbon, Decline and Fall of the Roman Empire, V, 398).

Banyak sejarawan disamping Gibbon, seperti misalnya Muratori dan Mosheim menghargai kaum Paulician sebagai para pendahulu Albigenses dan dalam kenyataannya merupakan kelompok yang sama. Salah seorang sejarawan yang sudah sering dikutip adalah Profesor Conybeare, yang merupakan seorang yang paling ahli di dunia mengenai masalah Paulician. Ia memastikan bahwa garis suksesi yang sejati ada pada kaum Baptis:
Jemaat tersebut senantiasa menaati gagasan kelahiran baru secara rohani didalam baptisan, walaupun dengan membaptiskan bayi hal tersebut telah lama melemahkan dan membuang esensi baptisan. Memang signifikansi baptisan Yesus, seperti yang dinyatakan kepada rasul Paulus dan para penginjil, segera membutakan mata jemaat-jemaat orthodoks ... Masa kini kita banyak mendengar pembahasan mengenai keabsahan ordo (kelompok) dari Inggris, Latin, dan Timur. Para mahasiswa sejarah gereja yang jernih pikirannya tidak bisa tidak untuk bertanya bahwa tidak pernah muncul pertanyaan gereja-gereja Inggris yang kontroversi tersebut, betapapun juga, apakah mereka tidak berkhayal; pendeknya, apakah mereka, siapapun juga, termasuk kelompok-kelompok sejati mula-mula yang telah mereka nyatakan sebagai milik mereka itu. Berbagai sekte pada Abad Pertengahan yang dikenal sebagai orang Kristen memelihara baptisan dalam bentuk dan arti aslinya terus menerus menolak untuk mengakui keabsahan baptisan bayi dari gereja-gereja orthodoks besar atau penganiaya itu; dan tentu saja mereka ada didalam kebenaran, sejauh doktrin dan tradisi dapat dipercaya. Tidak perlu dikatakan lagi, bahwa gereja-gereja besar telah lama kehilangan baptisan yang asli, tidak layak lagi melaksanakan sakramen-sakramen, keimamatan, dan terus-terang juga termasuk Kekristenan. Jika mereka mau masuk kembali kedalam Kekristenan, mereka harus diperbaiki, bukan ke Roma atau Konstantinopel, namun kedalam jaringan-jaringan Kristen yang tidak memiliki nama, terutama di Timur, yang tidak pernah kehilangan kesinambungan sakramen baptisan. Mereka adalah kaum Paulician dari Armenia, sekte Bogomil di sekitar Moscow yang para anggotanya sendiri menyebut diri sebagai Milik Kristus, kaum Baptis dewasa (mereka yang melaksanakan baptisan orang dewasa) diantara orang Syria di lembah Tigris atas, dan barangkali, meskipun belum dapat dipastikan, yakni kaum popelikans, Mennonites, dan masyarakat luas Baptis di Eropa. Kecaman terhadap gereja-gereja besar dan disebut orthodoks tersebut kelihatannya kasar dan sok ilmiah, namun memang tidak bisa dihindari, dan kami menempatkan diri pada pijakan yang sama dengan yang mereka nyatakan. Kesinambungan baptisan lebih penting pada abad pertama dari jemaat dibandingkan dengan kesinambungan kelompok; memang demikian pentingnya, sehingga baptisan para bidatpun juga diakui sah. Seandainya penghargaan dinilai tinggi dengan rangkaian suksesi uskup yang tiada putusnya, itu adalah karena salah satu fungsi dari uskup (penilik) adalah mengawasi keutuhan upacara agama yang ada sejak mula. Berapa jelek para penilik (uskup) dari gereja-gereja besar itu melaksanakan tugasnya, memang tidak seberapa, setelah abad ketiga mereka bahkan memahaminya, terlihat didalam perkembangan yang tidak dapat dipastikan, dari tahun 300 AD dan seterusnya, tentang penyalahgunaan upacara baptisan, yang timbul tidak lama sebagai akibat yang disebabkannya (Conybeare, The History of Christmas, Didalam The American Journal of Theology).

Dr. Justin A. Smith, yang lama menjadi editor akademis di The Standard, Chicago, berpendapat mengenai Paulician:
Kesimpulan dari semua ini adalah, bahwa apakah bisa atau tidak suksesi (kesinambungan) jemaat Baptis ditelusuri melalui masa-masa Abad Pertengahan kembali kepada masa ketika sejarah denominasional kita bermula didalam arti yang sebenarnya, paling tidak kita dapat mengatakan bahwa asal-usul kita ditarik lurus ke atas sesuai garis keturunan Kekristenan murni yang bertahan, seandainya memang ada di dunia ini; dan bahwa diantara leluhur Baptis kita, dalam hal ini, merupakan pria dan wanita yang memiliki kehormatan menyolok untuk difitnah oleh mereka yang dibuktikan oleh sejarah sebagai ahli-ahli yang jago membunuh dan memfitnah (Smith, Modern Church Hsitory, 227).

Satu hal yang pasti, bahwa di Italia, di Perancis, dan sepanjang sungai Rhine, kaum Paulician dan Albigenses ditemukan di wilayah yang sama, dan diantara mereka tidak ada perbedaan praktek dan doktrin. Para penulis sejauh ini menegaskan bahwa memang ada suksesi jemaat dan suksesi kepentingan. Sudah terbukti, bahwa pada pertengahan abad kesebelas mereka banyak jumlahnya di Lombardy dan Isurbia, khususnya di Milan, Italia; dan tidak ada yang lebih pasti lagi bahwa mereka mengembara melalui Perancis, Jerman dan negeri-negeri lainnya, dan dengan kekudusan mereka, mereka memenangkan banyak sekali masyarakat dengan jalan pemikiran mereka. Di Italia mereka disebut Paternes dan Cathari, dan di Jerman, Gazari. Di Perancis mereka disebut Albigenses. Mereka disebut Bulgarians, khususnya di Perancis, karena diantara mereka ada yang datang dari Bulgaria, dan mereka juga dikenal dengan sebutan Boni Homines (Mosheim, Institutes of Ecclesiastical History, II, 200-202). Musuh-musuh mereka memuji kesalehan mereka. Suksesi mereka ditemukan sepanjang Abad Pertengahan.

Kaum Paulician didakwa sebagai Manichaeans, dan banyak prasangka dengan seenaknya dituduhkan kepada mereka didalam cerita ini. Menurut Adeley, “Kaum Paulician telah difitnah dengan luar biasa dibandingkan dengan sekte-sekte Kristen lainnya” (The Greek and Eastern Churches, 216, New York, 1908). Katolik Roma selalu mencela pengajaran Marcion dengan permusuhan sepihak. Kini telah diketahui bahwa kaum Paulician bukanlah Manichaeans. Key of Truth menyelesaikan masalah ini (hal. 18). Para akademisi Armenia modern tidak ragu-ragu untuk mengoreksi kesalahan tersebut (Ter Mkittschain , Die Paulikianer im Byzantinischen in Armenien, Leipzig, 1893). Conybeare tidak meragukan masalah tersebut.

Kembali kepada doktrin dan praktek kaum Paulician, kami mendapatkan bahwa mereka secara konstan menggunakan Perjanjian Lama dan Baru. Mereka tidak memegang perintah kependetaan sebagai sesuatu yang berbeda dengan orang awam oleh karena cara-cara hidup mereka, pakaian dan hal-hal yang lain; mereka tidak mempunyai sidang atau lembaga-lembaga sejenisnya. Para pengajar mereka mempunyai kedudukan yang sama tingkatnya. Mereka berusaha keras dengan tekun mempertahankan kesederhanaan hidup seperti para rasul. Mereka menentang segala bentuk penyembahan berhala yang dilakukan didalam Gereja Katolik Roma. Peninggalan menakjubkan dari mereka adalah tumpukan tulang dan abu, kemelaratan hidup dan kerelaan. Mereka mempertahankan pandangan yang orthodoks mengenai Tritunggal; dan sifat kemanusiaan serta penderitaan Anak Allah yang substansial.

Pandangan Baptis berlaku didalam kaum Paulician. Mereka mempertahankan bahwa manusia harus bertobat dan percaya, dan kemudian pada usia dewasa memberi diri dibaptis, sehingga dengan demikian mereka diterima kedalam jemaat. Mosheim mengamati, “Ada bukti mereka menolak baptisan bayi.” Mereka membaptis dan membaptis ulang dengan cara selam. Mereka benar-benar dianggap Anabaptis (Allix, The Ecclesiastical History of the Ancient Churches of Piedmont, Oxford, 1821).

Boleh dikatakan pendapat-pendapat mengenai Paulician dikumpulkan dari sebuah Sinode yang diselenggarakan di Arras, pada tahun 1025 oleh Gerard,Uskup Cambray dan Arras. Suatu kali Gundulphus, seorang Paulician dihukum. Ia telah mengajarkan doktrinnya di banyak tempat. Ditemukan didalam penelitian bahwa Paulician mempertahankan:
Hukum dan pengajaran yang telah kami terima dari Tuhan tidak akan saling bertentangan, baik dengan Injil maupun lembaga-lembaga apostolik jika dilihat dengan seksama. Pengajaran ini termasuk meninggalkan keduniawian, mengendalikan hawa napsu, menyediakan nafkah hidup dengan hasil kerja sendiri, tidak menyakiti siapapun, dan memberikan amal bagi semua orang yang tekun didalam usaha yang kami tuju ini.

Sehubungan dengan baptisan, mereka menanggapi sebagai berikut :
Tetapi jika ada yang akan berkata, bahwa beberapa sakramen tersembunyi didalam baptisan, maka kuasa baptisan sirna karena tiga alasan: pertama adalah, karena para hamba kehidupan yang jahat itu tidak dapat menawarkan jalan keselamatan kepada orang-orang yang akan dibaptis. Kedua, karena dosa apa saja yang sudah ditinggalkan di bak pembaptisan, kemudian dipungut kembali kedalam kehidupan dan praktek. Ketiga, karena adanya kehendak yang aneh, iman yang aneh, dan sebuah pengakuan aneh yang tidak seharusnya ada, atau mengambil kesempatan dari seorang anak kecil yang kehendak maupun tindak-tanduknya tidak dapat dipegang, yang tidak tahu apa-apa mengenai iman dan juga tidak mengetahui kebaikan dan keselamatan untuk dirinya, sehingga tidak diperlukan lahir baru, serta dari mereka tidak mungkin diharapkan pengakuan iman (Allix, The Ecclesiastical Churches, 104).

Pada saat ini belum ada suatu jawaban yang lebih baik. Ada sebuah Pengakuan Iman yang menjadi milik kaum Paulician pada tahun 1024 AD yang menyatakan:
Pada permulaan Kekristenan tidak ada pembaptisan bayi; dan bapak-bapak pendahulu mereka tidak melakukan hal yang dimaksud dan dari sanubari kami yang terdalam menyatakan bahwa baptisan adalah sebuah permandian yang dilakukan didalam air, dan mempertahankan penyucian jiwa dari dosa (Mehrning, Der heilingen Tauff Historie, II, 738).

Ada kemungkinan bahwa kaum Paulician merupakan kaum Adoptionists. Ini merupakan pandangan Conybeare (lxxxvii), namun pendapatnya sering merupakan kesimpulan (xiv). Lebih lanjut ia mengatakan: “Saya berpendapat bahwa kaum Cathar di Eropa berasal dari kaum Adoptionist juga sekedar berdasarkan kesimpulan” (xiv).

Kaitan pandangan ini dengan pandangan Baptis diajukan oleh Conybeare sebagai berikut:
Oleh karena itulah dalam lapangan penelitian yang dapat dipercaya harus dipertanyakan apakah kaum Paulician tidak ikut terlibat dengan banyaknya sekte yang muncul dan tampil pada masa Reformasi, sedikit banyak, setidak-tidaknya sedikit persamaan dengan prinsip Paulician seperti yang dikemukakan didalam The Key of Truth. Tidak ada tempat untuk memulai didalam penyelidikan demikian, karena hal tersebut berarti membutuhkan pekerjaan yang terpisah. Barangkali data yang memungkinkan untuk menelusuri jalur-jalur komunikasi tersebut sudah tidak ada lagi. Dalam kasus apapun untuk melakukan hal tersebut diperlukan sejumlah penelitian yang luas; namun kelihatannya memungkinkan bahwa paling sedikit kita memiliki dua sekte pada masa Reformasi yang bertahan hidup dari bentuk penganiayaan yang sama dari Gereja Katolik purba sebagaimana yang diungkapkan oleh The Key. Kedua sekte tersebut adalah Anabaptis dan Unitarian yang kemudian disebut Socinian yang diambil dari nama guru besar mereka Socinus. Dari yang disebut terakhir ini diturunkan gereja-gereja Baptis Inggris dan Amerika yang agung, dan juga kaum Mennonites Jerman. Argumentasi kaum Baptis abad keenambelas mengenai baptisan bayi sama seperti yang tercatat didalam The Key, dan – apa yang juga dapat kita harapkan – pandangan Adoptionist mengenai Kristus sebagai tuntunan menyertai mereka di masa lalu; meskipun kaum Baptis modern menerima doktrin zaman sekarang tentang Inkarnasi (Tuhan yang datang sebagai manusia) telah mengaburkan asal-usul dan melemahkan ketaatan mereka yang khusus. Dari abad pertama prinsip Adoptionist demikian alami dan demikian tak terbantahkan bersatu dengan baptisan orang dewasa, seperti juga halnya baptisan bayi dengan Kristologi pneumatik, dimana Yesus dikatakan sejak dari dalam rahim ibunya dan didalam buaiannya dipenuhi dengan Roh Kudus, makhluk illahi yang telah ada, pencipta, dan pengendali alam semesta (Conybeare, The Key, cl, cli).

Apapun kesimpulan akhir dari masalah tersebut, dapat dipastikan bahwa pandangan kaum Adoptionist dan kaum Paulician menekankan perlawanan mereka terhadap baptisan bayi.

Bentuk baptisan adalah menyelamkan subyek kedalam air satu kali, sementara orang Yunani menyelamkan tiga kali. Banyak bukti bahwa di Armenia bentuk baptisannya adalah dengan cara selam. Macarius, Patriarch dari Yerusalem, pada tahun 331-335 AD., menulis kepada orang Armenia dan mengatakan bahwa baptisan dilaksanakan dengan “tiga kali menyelam dan terkubur didalam air bak pembaptisan yang kudus” (Perpustakaan Mechitarist Fathers of Vienna, MSS, Cod. Arm. No. 100). Ada sebuah pidato yang dipelihara sejak abad keduabelas yang dianggap berasal dari Isaac Catholicos dari Armenia, yang menyampaikan praktek kaum Paulician tersebut. John Otzun, 718 AD., mengatakan kaum Paulician yang turun kedalam tempat pembaptisan (Otzun, Opera, 25, Venice, 1834). Dan lebih lanjut ia menceritakan bagaimana orang Islam mencoba mencegah mereka melakukan pembaptisan didalam aliran sungai, karena takut mereka akan menyihir perairan dan membuat mereka tidak sehat.

Praktek konstan dari Gereja Timur adalah selam. Rev. Nicholas Bjerring berkata tentang baptisannya: “Baptisan kadang-kadang diselenggarakan didalam gereja dan kadang-kadang didalam rumah-rumah pribadi jika dibutuhkan. Ia selalu dilaksanakan dengan menyelamkan bayi atau orang dewasa tiga kali” (Bjerring, The Offices of the Oriental Church, xii, New York, 1880). Dan selanjutnya didalam Liturgi ia melakukan upacara penyelaman. Demikianlah kaum Paulician mempraktekkan cara selam seperti yang dimaksudkan Alkitab.

Kaum Bogomil merupakan sebuah cabang Cathari atau Paulician yang tinggal di Thrace. Nama tersebut muncul karena berasal dari salah seorang pemimpin mereka di pertengahan abad kesepuluh, walaupun orang lain menyatakan bahwa nama mereka berasal dari sebuah kata Slavia yang didefinisikan sebagai “Yang Dikasihi Tuhan”. Kaum Bogomil berulang kali dikutuk dan seringkali dianiaya, namun mereka terus hidup sepanjang Abad Pertengahan dan masih tetap ada pada abad keenambelas.

Penulis sejarah menyatakan mereka merupakan peninggalan yang paling kuno. Dr. L.P. Brockett yang menulis sebuah catatan sejarah mengenai mereka, mengatakan:
Di antara mereka (para sejarawan Bulgaria) kerapkali dengan tak terduga saya temukan dalam jarak yang sempit, bukti yang paling meyakinkan bahwa sekte-sekte ini semuanya pada masa sejarah awalnya, adalah kaum Baptis, bukan saja dalam pendirian mereka mengenai subyek baptisan dan Perjamuan Tuhan, tetapi juga didalam perlawanan mereka terhadap baptisan bayi, terhadap hirarkhi gereja, terhadap pemujaan Perawan Maria serta para santo dan santa, dalam ketaatan independensi gereja dan kebebasan kesadaran beragama. Singkatnya, kesimpulan tersebut telah memaksa saya untuk mengatakan bahwa didalam orang-orang Kristen Bosnia, Bulgaria dan Armenia ini, kita memiliki suksesi jemaat Perjanjian Baru, jemaat-jemaat Kristen dari para rasul, dan bahwa sejak pada awal abad keduabelas, jemaat-jemaat ini beranggotakan sejumlah orang-orang yang telah bertobat dan percaya, tidak kalah banyaknya dengan jemaat Baptis di seluruh dunia pada masa kini (Brockett, The Bogomils of Bulgaria and Bosnia, 11-12).

Beberapa penulis Katolik Roma telah menegaskan bahwa kaum Bogomil tidak melaksanakan baptisan, atau menjalankan Perjamuan Tuhan; dan lebih jauh lagi, mereka menolak Perjanjian Lama. Ini barangkali tidak mempunyai makna apa-apa kecuali bahwa mereka menolak baptisan bayi, dan mengutip Perjanjian Baru sebagai yang tertinggi dan otoritas atas masalah tersebut.

Penganiayaan terhadap kaum Bogomil sebagaimana juga terhadap kaum Paulician, terus berlangsung dengan keras. Segala upaya dilakukan untuk memusnahkan mereka. “Namun mereka tetap tidak bisa dibasmi,” kata Conybeare, “tetapi hanya membuat mereka bergerak dibawah tanah. Mereka bersembunyi di seluruh Eropa, khususnya di daerah Balkan, dan sepanjang sungai Rhine. Di tempat-tempat persembunyian tersebut, kelihatannya mereka menghimpun kekuatan bersama secara rahasia untuk muncul kembali ke permukaan bila ada kesempatan. Kesempatan tersebut adalah pada saat Reformasi Eropa, dimana khususnya dibawah bentuk Anabaptis dan gagasan Unitarian, ragi dari jemaat apostolik mula-mula tersebut dengan bebas berbaur dan mengubah bentuk kepercayaan yang lain. Kami yakin bahwa kaum Bogomil dari Negara-negara Balkan memegang peranan yang sangat penting dalam melahirkan gerakan agama yang besar tersebut (The Key of Truth, cxcvi).>

Buku-buku untuk bacaan dan referensi lebih lanjut:
Fisher, 142.
John C.L. Gieseler, A Compendium of Ecclesiastical History, II, 208-212; III, 494-500.
Gibbon, Decline and Fall of the Roman Empire, Edition Bury.
F.C. Conybeare, Rituale Armenorum.
F.C. Conybeare, The Key of Truth.
John L. von Mosheim, Institutes of Ecclesiastical History, II, 101-105, 135, 136, 201-205.
Augustus Neander, A General History of the Christian Religion and Church, V, 337-370.
Readmore...